3
Brii @BriiStory

Ingat, jangan pernah membaca cerita di sini sendirian, kadang 'mereka' gak hanya sekadar hadir dalam cerita..

https://t.co/vNng89w6gQ
Brii @BriiStory
Seperti sepasang mata berwarna merah menyala. Bergerak mendekat sedang berjalan sedirian, terus bergerak sementara objek lain di sekitarnya diam mematung. Mahluk apa itu? Di tengah hutan belantara ini gw sendiran, ketakutan. #memetwit @InfoMemeTwit pic.twitter.com/Y4c3AYYXU1
Expand pic
Brii @BriiStory
Kisah yang akan gw ceritakan ini terjadi di kisaran tahun 2005, gw mengalaminya bersama Rai. Kejadian yang sepertinya menjadi titik balik atau apalah istilahnya, karena setelahnya gw jadi mulai menerima keadaan yang sering “bertabrakan” dengan frekuensi dengan “sisi lain”. ***
Brii @BriiStory
Sekitar tahun 2005, kalo gak salah masa liburan di tahun-tahun awal kuliah. Waktu gw berniat untuk mudik ke Cilegon, dan akan mampir ke Bogor untuk menjemput Rai yang kebetulan libur kuliah juga, sekalian mudik bareng.
Brii @BriiStory
Singkat kata, kami akhirnya sudah di dalam kendaraan menuju pulang. Seperti biasa, gw duduk di belakang kemudi, Rai bertugas sebagai DJ musik dan navigator, tentu saja gak ketinggalan ocehannya terus menerus menemani selama perjalanan.
Brii @BriiStory
Kami tiba di kota Serang sekitar pukul sepuluh pagi, ketika tiba-tiba Rai nyeletuk mengeluarkan kalimat ajakan. “Brii, ada pantai yang gw baru denger, namanya Pantai Rancecet. Kita ke sana yuk, dengar-dengar katanya bagus, kayak Kuta.”
Brii @BriiStory
“Di mana tuh Rancecet Rai?” “Daerah ujung Kulon Brii, yaaahh jalan santai enam jam lah dari sini. Gak usah lama-lama, kalo udah gelap kita pulang.” Begitu kata Rai.
Brii @BriiStory
Dari kecil kami memang selalu begitu, senang berpetualang, mengunjungi tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Serunya, kami jarang merencanakan kegiatan atau perjalanan yang akan dilakukan, lebih banyak dadakan, seperti kisah yang gw ceritakan kali ini.
Brii @BriiStory
Jadi, Rai mengajak gw untuk mengunjungi tempat wisata, pantai, yang letaknya di sisi selatan pulau Jawa, Banten bagian selatan.
Brii @BriiStory
Gw sendiri waktu itu baru dengar ada pantai yang namanya Rancecet, lalu tiba-tiba Rai mengajak untuk datang mengunjungi akhirnya gw mengiyakan ajakannya. Toh kami gak ada yang dikejar juga, dan rumah sudah dekat.
Brii @BriiStory
Setelah sepakat, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Rancecet, gw lalu mengarahkan kendaraan menuju Pandeglang. Akan memakan waktu kira-kira enam jam perjalanan dari kota Serang. ***
Brii @BriiStory
Waktu itu, Road trip menyusuri jalan-jalan di Banten itu nyaris sama situasinya dengan daerah lainnya, di beberapa bagian kondisi jalan gak terlalu bagus walaupun masih bisa dilalui oleh kendaraan.
Brii @BriiStory
Bedanya dengan daerah lain, hanya sedikit dari banyak wilayah Banten yang menjadi daerah tujuan wisata favorit, mungkin hanya pantai Anyer yang paling terkenal, selebihnya hanya tempat bagus yang masih jarang orang yang tahu.
Brii @BriiStory
Gw dan Rai hanya mengandalkan insting dan “Tanya penduduk sekitar” untuk mencapai tujuan, satu-satunya informasi yang kami tahu, pantai Rancecet dekat dengan Cibaliung, kota kecil di bagian selatan Banten. Maka, ke Cibaliunglah tujuan kami.
Brii @BriiStory
Pandeglang, Labuan, Cibaliung, Rancecet, itulah kira-kira kota-kota yang harus dilalui. Waktu itu hari kamis, bukan hari libur kerja, jadi perjalanan agak lowong, target kami paling lambat jam empat sore sudah sampai tujuan.
Brii @BriiStory
Perjalanan lebih banyak menemui hutan-hutan kecil dan perkebunan, rumah penduduk hanya ditemui sesekali, kecuali kalau sedang melintas di salah satu kota, suasana akan sedikit lebih ramai.
Brii @BriiStory
Perjalanan menjadi semakin sepi ketika sudah melewati kota Labuan, lalu menuju Cibaliung, sedikit menyusuri pantai Tanjung lesung yang cukup indah.
Brii @BriiStory
Setelah lewat Tanjung Lesung, lalu kami harus berbelok ke arah kiri dan jalanan mulai menanjak karena harus menaiki wilayah gunung dan perbukitan.
Brii @BriiStory
Di daerah ini perjalanan mulai semakin “seru”. Rumah penduduk semakin jarang terlihat, kanan kiri jalan lebih banyak hutan, diselingi dengan perkebunan karet atau sawit.
Brii @BriiStory
Hutan, kami lebih banyak melintasi hutan yang sangat rindang, karena di situ sudah semakin dekat ke dalam wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Jadi, begitulah..
Brii @BriiStory
Ujung kulon ini menurut gw salah satu tempat yang sangat menyeramkan, kalau berniat untuk mencari hal-hal ghoib dan perhantuan.
Brii @BriiStory
Gw pernah bermalam di dalam hutan Ujung kulon bersama beberapa teman, saat itu kami banyak mengalami kejadian yang amat sangat di luar nalar dan gak masuk akal, tapi benar terjadi, ngeri. Nanti kapan-kapan gw cerita, gak malam ini.
Brii @BriiStory
Tapi kalau mengesampingkan hal-hal yang seram tadi, Ujung Kulon ini termasuk tempat yang sangat indah, hutannya masih amat sangat belantara. Pada beberapa wilayah, sinar matahari gak bisa menembus masuk karna tertutup oleh rindangnya pepohonan.
Brii @BriiStory
Di dalam hutan, gw pernah melihat pohon yang sangat besar, batangnya berdiameter sekitar tiga sampai empat meter, besar banget.
Brii @BriiStory
Di ujung kulon inilah tempat tinggal dari hewan yang sangat langka, Badak Cula Satu, hewan yang sangat lucu dan menggemaskan. Info terakhir yang gw dapat, Badak ini jumlahnya hanya tinggal 42 ekor saja. Semoga gak punah ya..😢
Load Remaining (85)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.