0

Kasus korupsi menjadi momok tersendiri bagi kemajuan industri perbankan baik pada skala nasional maupun jika perbankan tersebut adalah bank pembangunan daerah. Salah satu bank yang jadi perhatian terkait kasus korupsi adalah bank bjb milik pemerintah provinsi Jawa Barat.

Sebagai bank BPD terbaik di Indonesia, bank bjb sangat jauh dari kasus korupsi. Hal tersebut terjadi lantaran bjb menjalankan dengan benar dan sungguh-sungguh Good Corporate Governance (GCG). Program tersebut benar-benar menjadi sebuah landasan agar performa bjb selalu lebih baik dan terhindar dari praktik korupsi.

Meski demikian, cobaan terhadap pelaksanaan GCG agar terhindar dari kasus korupsi tidak selalu mulus. Hal ini terlihat saat munculnya kasus bjb syariah yang menyeret mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) diperiksa penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri sebagai saksi dalam kasus penyaluran kredit kepada PT Hastuka Sarana Karya (HSK) dari Bank Jabar Banten (BJB) Syariah.

Isu kasus korupsi yang merebak terjadi di bjb syariah dan menyeret mantan gubernur Jabar Aher tidak terbukti. Aher mengatakan saat menjabat sebagai gubernur ia adalah pemegang saham di BJB mewakili pemerintah, bukan pada BJB Syariah yang merupakan anak usaha BJB.

"Terkait BJB Syariah, saya tekankan bahwa saya tidak ada hubungan hukum apapun dengan BJB Syariah, tidak ada hubungan kredit apalagi hubungan keuangan. Tidak ada," ujarnya.

Kembali menyoal soal bank bjb yang tidak terlibat kasus korupsi, Gubernur Jawa Barat (Jabar) saat ini, Ridwan Kamil mengatakan akan terus mendukung upaya Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten atau bank bjb untuk bertransformasi dan berinovasi dengan lebih berpihak pada masyarakat Jabar. Khususnya, pelaku UMKM.

Menurut Ridwan Kamil, kemudahan akses layanan perbankan dapat mengentaskan praktik rentenir yang saat ini semakin marak di kalangan masyarakat golongan menengah ke bawah atau golongan ekonomi lemah.

Menurut Emil, BJB harus mengoptimalkan penyaluran kredit mikro (Mesra) yang merupakan program unggulan. Serta, dapat melepaskan warga Jawa Barat terhadap jerat rentenir. "Saya kira bjb punya kapasitas luar biasa," katanya.

Emil juga berpesan agar bjb terus meningkatkan kinerjanya melalui dukungan teknologi dan inovasi demi merespons peluang-peluang di masyarakat, salah satunya rencana pengembangan infrastruktur dengan nilai total hampir Rp 600 triliun.

"Dimasa yang akan datang, bjb terlibat aktif, didahulukan untuk proyek-proyek di Jawa Barat," kata Emil.

BJB harus mempunyai target market yang lebih luas dan menyentuh lapisan masyarakat terkecil," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil dalam acara 'Penutupan Business Review bjb Semester I Tahun 2019' di Ballroom Hotel Aryaduta, Kota Bandung, Rabu (7/8).

Selain hal-hal tadi, kata dia, hal lain yang perlu di perhatikan adalah IT yang juga jadi kebutuhan dalam era 4.0 ini. "Kalau infrastruktur, mikro dan IT-nya dibenahi, saya punya keyakinan luar biasa kalau bank ini (bjb) akan berlari dalam waktu yang akan datang," katanya.

Menurut Direktur Utama Bank bjb Yuddy Renaldi, untuk mencapai pertumbuhan bisnis yang berkualitas dan berkelanjutan pihaknya akan menerapkan tiga fokus utama.

Fokus pertama, kata dia, adalah reposisi bisnis. Kedua reorganisasi, dan fokus ketiga re-engineering teknologi informasi. Ia sangat optimistis, dapat menghadapi berbagai tantangan industri perbankan saat ini dengan menjalankan tiga fokus utama tersebut dengan dukungan sumber daya manusia yang mumpuni serta jaringan kantor yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Yuddy mengatakan, sesuai rencana bisnis dan program kerja bjb pun berkomitmen untuk mendukung pembangunan ekonomi di daerah maupun nasional melalui pembiayaan terhadap sektor produktif dengan fokus UMKM dan infrastruktur.

"Sebagai salah satu program akselerasi, kami akan berkolaborasi dengan BUMD-BUMD lain di wilayah Jawa Barat dan Banten agar pembangunan dan program-program pemerintah dapat segera direalisasikan," kata Yuddy.

Dari segi kinerja, pencapaian bank bjb pada semester satu tahun 2019 memberikan hasil yang memuaskan. Total aset bank bjb tumbuh 6,4 persen year on year (yoy) menjadi Rp 120,7 triliun.

Pertumbuhan aset ini didukung penghimpunan DPK sebesar Rp 95,1 triliun atau tumbuh sekitar 7 persen dari tahun lalu. Untuk total kredit yang disalurkan mencapai Rp 78,2 triliun atau tumbuh sebesar 8,2 persen yoy. Sementara untuk laba bersih setelah pajak tercatat sebesar Rp 803 miliar.

Kualitas kredit bank bjb juga berhasil dijaga dengan baik, di mana rasio Non Performing Loan (NPL) dapat bertahan di level 1,7 persen atau lebih baik dibanding rasio NPL industri perbankan per Mei 2019 sebesar 2,61 persen.

Adapun rasio Net Interest Margin (NIM) bank bjb berada pada level 5,7 persen atau berada di atas rata-rata rasio NIM industri perbankan yang mencapai 4,9 persen.

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.