1
IG: @errik_irwan @errik_irwan

amateur architect & author Gump n Hell

https://t.co/zdavFiSKqm
Pusat Penerangan TNI @Puspen_TNI
Ada yg blm tau soal LGBT? Yook nyimak SiBinsa edisi LGBT diBawah 😎💂 #SiBinsa #KomikKita #LGBT pic.twitter.com/xeH2lmoy9c
Expand pic

Sewaktu hendak memotong jalan Ponorogo-Trenggalek pada 26 Januari 1949, Tjokropranolo seperti biasa mencari seorang penunjuk jalan. “Di daerah itu oleh penduduk setempat saya diperkenalkan kepada seorang penunjuk jalan bernama Putih (kemungkinan besar bukan nama sebenarnya, red),” kata Tjokropranolo dalam Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman, Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia.

Namun, menurut Soedirman Prajurit TNI Teladan, orang itu penduduk Desa Jambu di Trenggalek, yang menawarkan diri menjadi penunjuk jalan. Dengan tetap waspada, tawaran itu diterima dengan senang hati.

Mula-mula, Tjokropranolo merasa aneh mengapa justru si Putih yang berperawakan kecil, berkulit putih, berperangai lembut tapi gerakannya lincah, dipilih sebagai penunjuk jalan. Sedangkan di sekelilingnya banyak orang lain yang postur badannya besar dan kokoh. Rupanya, kata Tjokropranolo, tidak ada orang yang berani menjadi penunjuk jalan karena rombongan sudah dekat dengan pasukan Belanda. Tapi si Putih berani.
“Tanpa bertanya lagi saya terima saja si Putih sebagai penunjuk jalan. Dalam perjalanan dari desa Gunungtukul ke desa Ngideng, si Putihlah yang menjadi penunjuk jalan,” kata Tjokropranolo.

Dua hari dua malam si Putih berjalan. Sesampainya di Desa Ngideng, rombongan menginap di rumah seorang penduduk yang cukup berada. Mereka dilayani dengan baik. Rumahnya tidak jauh dari sungai yang cukup deras, sehingga mereka lebih senang mandi di sungai daripada di sumur.

Tjokropranolo curiga terhadap si Putih karena tidak mau mandi bersama-sama dan memilih mandi di tempat lain yang lebih jauh. Dia pun memerintahkan seorang anggota rombongan, Mustafa, mengikuti si Putih. Dia khawatir si Putih sudah tahu siapa yang ditandu dan melaporkannya kepada pasukan Belanda di Ponorogo.

Setelah mengamati si Putih, Mustafa dengan tertawa lebar melaporkan kepada Tjokropranolo bahwa si Putih adalah "seorang wanita yang bertabiat kelaki-lakian." Bisa saja, dia tomboy, namun Tjokropranolo menyebutnya waria. “Saya sendiri ngga ngira. Sifat-sifatnya persis laki-laki. Legalah hati saya, setelah mengetahui bahwa si Putih itu ternyata seorang waria. Dia tentunya akan selalu menghindar mandi bersama kita,” kata Tjokropranolo.

Kendati Tjokropranolo tidak mengira telah dituntun oleh seorang waria, namun dia mengakui peranannya. “Sungguh ngga ngira. Pokoknya kita selamat.”

errik @errik_irwan
@Puspen_TNI Gara2 tweet @Puspen_TNI soal LGBT, Ane jd inget film ttg Hoover, pendiri FBI. theguardian.com/film/2012/jan/…
Billa @bilaangraeni
@errik_irwan @Puspen_TNI Mending jawab ini dulu, min. Atau bikin komik strip soal BUANG LIMBAH, DAPET UANG, WARGA CELAKA. twitter.com/TempoInstitute…
Anggina Lubis @anggie793
@errik_irwan @Puspen_TNI Udah baca isi beritanya terlepas dr judulnya?? Yg mereka sangka siputih ini waria padhal ternyata beneran wanita.. coba baca beritanya lagi...linknya dibuka...bukan ambil judulnya aja
🦈kiva🐊🇲🇨love🇸🇩 @okiikooki
@errik_irwan @Puspen_TNI Bantu jawab, sekarang dimana waria heroik tersebut? Mudah2 sudah tobat dan Khusnul khatimah. Jangan sebut mereka dengan LGBT panggil mereka dengan sebutan yg menjijikan, jauh2 perilaku menyimpang itu dr NKRI

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.