Menelisik Eddy Tansil, Pria yang Merugikan Indonesia Sampai 1,3 T by@TirtoID

masih ingat Eddy tansil yang merugikan Indonesia sampai 1,3 T diperkirakan sama dengan 600 T di jaman sekarang? ini liputan khususnya dilakukan oleh wartawn Tirto, Aqwam dan Arby
politics eddy tansil
4
tirto.id @TirtoID
Eddy Tansil kaya dan berbahaya. Ia terbukti merugikan negara Rp1,3 triliun tapi "berhasil" kabur dari Indonesia. Sejak itu, tak ada yang tahu keberadaannya. 23 tahun berselang, kami menelusuri jejaknya ke Hong Kong dan Fujian. Segera di tirto.id pic.twitter.com/dnoAM7v1O2
Kuprum Kalium @julialdi_
@TirtoID 1.3 Triliun itu sebelum krismon kan 😲
Aqwam Fiazmi Hanifan @aqfiazfan
Ini liputan invetigasi terlama yg saya dan @arbysoemandoyo pernah lakukan. Mulai jalan sejak Agustus 2018, berkeliling ke banyak kota di Cina dan Hongkong, menelisik ratusan dokumen, artikel dan kliping, mewawancarai puluhan orang. twitter.com/TirtoID/status…

Melacak Eddy Tansil: Pelarian Mulus Eddy Tansil ke Singapura

Oleh: Arbi Sumandoyo, Aqwam Fiazmi Hanifan - 30 Juli 2019

Eddy Tansil tak pernah melarikan diri. Ia dibiarkan pergi dan tak pernah tertangkap hingga saat ini.

tirto.id - Raut wajah Oetojo Oesman tegang. Bahunya merendah, matanya memerah. Seraya memegang cangklong, menteri kehakiman di periode terakhir pemerintahan Soeharto itu terbata-bata ketika memberi pernyataan kepada para wartawan yang menunggunya di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur. Senin, 6 Mei 1996, pukul lima sore, kabar Eddy Tansil kabur dari Cipinang menyentak media-media tanah air.

Kabar itu membawa persoalan besar bagi Oetojo. Apalagi sebulan sebelumnya ia melakukan inspeksi dan mendapati sang koruptor kelahiran Makassar itu menikmati keistimewaan di penjara: tempat tidur beralas kasur, televisi dan kipas angin. “Saya yang bertanggung jawab,” kata Oetojo sehari kemudian kepada Majalah Tiras edisi 16 Mei 1996.

Oetojo tak bisa menutupi amarahnya. Ia segera membentuk tim. Perburuan terhadap Eddy Tansil dikembangkan dalam skala internasional, termasuk menggandeng Kroll Associates, perusahaan yang menangani kejahatan penipuan, bermarkas di New York. Tim itu mungkin yang terbesar pernah dibentuk negara Indonesia hanya untuk mengejar seorang koruptor Eddy Tansil. Lewat instruksi Presiden Soeharto, tim melibatkan lintas lembaga dan badan intelijen. Meski begitu, hasilnya memble.

Eddy tak pernah tertangkap, bahkan hingga saat ini. Eddy Tansil memang lihai dalam segalanya. Sukses menilep duit negara Rp1,3 triliun dalam perkara kredit macet Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo). Sukses kabur dari penjara yang seharusnya ia jalani selama 20 tahun. Sukses bikin pemerintahan Orde Baru malu di tengah sorotan tajam atas praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme dari rezim itu.

Sebelum kabur ke luar negeri, ia sempat-sempatnya membeli oleh-oleh di Holland Bakery Gajah Mada, Jakarta Pusat, berpamitan kepada keluarga dan anak buahnya, mendatangi rumah sekaligus kantornya di Pecenongan—hanya 1 km dari Istana Merdeka. “Waktu itu dia panggil semua karyawan ke lantai dua. Ia mengucapkan terima kasih dan menyalami semua karyawan,” kata Iwan Sugandhi mengenang peristiwa 23 tahun lalu. Iwan adalah anak buah kepercayaan Eddy, yang bekerja sejak pertengahan 1980-an saat Eddy dan bapaknya, Harry Tansil, berbisnis perakitan sepeda motor.

Kami menemui Iwan pada Maret 2019 di sebuah lokasi di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Namanya diseret-seret dalam perkara pembobolan Bapindo. Seorang office boy seperti Iwan terdata sebagai pemilik saham di salah satu perusahaan Eddy Tansil. Iwan sempat menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Ia kemudian dibebaskan karena memang tidak tahu-menahu. Namanya sengaja dicatut. Saat kami menemuinya, Iwan kini bekerja sebagai tukang ojek yang biasa mangkal di Stasiun Gondangdia. Saat Eddy mengucapkan salam perpisahan, kenang Iwan, seluruh pegawai kantor tak menduga sang patron bakal bikin geger satu negara. “Kagetnya setelah besok-besoknya pas baca di berita bahwa dia kabur,” katanya.

Eddy Tansil Mengubah Penampilan di Penjara

Punya koneksi ke lingkaran dekat penguasa, Eddy Tansil sudah mempersiapkan diri buat kabur dari penjara Cipinang. Dua bulan sebelum jadi subjek pemberitaan panas politik yang makin bikin keropos legitimasi rezim Soeharto, ia sengaja mengubah penampilannya. Foto-foto dari seorang penyidik senior kepada kami memperlihatkan perubahan penampilan Eddy Tansil. Foto pertama Eddy berwajah gempal dengan rambut pendek. Foto kedua rambutnya gondrong dan berkumis. Soal perubahan drastis penampilan Eddy itu dibenarkan Humprey Djemaat. Ayah Humprey, yakni Gani Djemaat, adalah pengacara Eddy Tansil, sementara Humprey diperbantukan menangani kasus ini.

Humprey biasa mengunjungi Eddy di penjara. “Saya perhatikan memang banyak berubah. Enggak biasanya dia panjangkan rambut, jenggot, dan kumis,” ucapnya. Sebagaimana seorang patron, Eddy juga masih bebas mengatur bisnis dari penjara. Keluarganya bisa kapan saja mengunjungi selnya. Salah seorang mantan penyidik yang menangani perkaranya berkata Eddy Tansil pandai memainkan kelemahan supremasi hukum negara kita dengan menyuap pegawai rendahan. Ia juga memakai pengaruh kedekatannya dengan pejabat di Indonesia. Ia tak pernah menerima hukuman masuk sel isolasi meski banyak sipir tahu ia sering bolak-balik penjara untuk kepentingan pribadi.
“Semua orang tahu dia dekat dengan siapa,” kata eks penyidik itu kepada kami. Maka, menggabungkan kekuatan uang dan koneksinya dengan lingkaran pejabat, Eddy Tansil bisa melenggang ke luar Indonesia, persis setelah ia mempersiapkan segalanya.

Kabur lewat Batam Menuju Singapura James Filgo, detektif swasta yang dikontak Steve Vickers, pemimpin Kroll Associates, untuk terlibat dalam tim memburu Eddy Tansil, berkata buron kelas kakap itu sangat mungkin kabur via Batam. Dari daerah pantai utara Jakarta, Eddy Tansil diyakini dijemput sebuah perahu motor yang membawanya ke Batam.
Dari sana dia menuju Singapura. Muskil jika Eddy Tansil melarikan diri via pesawat. Eddy memiliki paspor dengan nomor D375269 yang diterbitkan imigrasi pada 5 Maret 1993 di Jakarta. Tapi pihak imigrasi di bandara tidak mendeteksi pergerakannya. Filgo sudah lama bermukim di Indonesia, saat ini ia membuka jasa biro konsultan keamanan. Pada 1996, ia menguntit keluarga Eddy selama berbulan-bulan. Ia berharap Eddy lengah dan membocorkan informasi keberadaanya kepada keluarga.

“Jujur, itu kasus lama sekali. Saya lupa. Dan data-datanya sudah tidak saya pegang lagi,” katanya dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih kepada kami. Meski lupa atas setiap detail yang ia kerjakan dalam kasus ini, Filgo masih mengingat temuan menariknya. Ketika berkunjung ke Batam, informannya mengatakan penjaga perbatasan memang membiarkan Eddy menyeberang ke Singapura. Sebabnya, Eddy memiliki “surat sakti” dari seorang pejabat di Jakarta. Bagi si petugas, menahan Eddy hanya akan membikinnya celaka. “Ia bisa kabur gara-gara sebuah surat. Saya tak tahu surat itu dari siapa. Tapi hal ini sudah rahasia umum, kan, di Indonesia?” ucapnya.

Laporan utama Majalah Tiras menulis dua hari setelah kabur, koruptor kelas kakap itu sempat menelepon anak angkatnya yang tinggal di kawasan perumahan elite di Simprug Golf, Jakarta Selatan. Kontak telepon itu menunjukkan Eddy berada di Singapura. Kenapa Eddy kabur via Singapura, keterangan Filgo menjadi logis. Sebelum melarikan diri, istri dan keluarga Eddy Tansil sudah menghilang lebih dulu di Jakarta dan diketahui berada di Singapura. Di negara itu, lima anak Eddy bermukim: Bernard, Jennifer, Leonard, Virgina, dan Yessica.
Sejak terjerat kasus pembobolan uang negara, Eddy memboyong keluarganya ke Singapura. Jennifer bahkan bersekolah di sana sejak sekolah dasar. Saat Eddy kabur, ia baru masuk SMP. Di Singapura, keluarga Eddy Tansil tinggal di alamat Blok 938 Bedok North AV.4/10. Sayangnya, pemerintah Indonesia bergerak amat lamban. Ketika didatangi otoritas Kedubes Indonesia, keluarga Tansil sudah menghilang. Padahal, keluarga Eddy Tansil di Singapura terpantau berada di apartemennya terakhir kali pada 9 Mei 1996. Sementara kabar Eddy Tansil kabur dari penjara Cipinang sejak 6 Mei. Artinya, ada jeda tiga hari sebelum Eddy memboyong keluarganya meninggalkan Singapura.
Setelah tiba di Singapura, bagaimanapun, sang buron tak perlu khawatir lagi. Indonesia dan Singapura tak punya kerja sama ekstradisi. Demikianlah, Eddy Tansil memperhitungkan pelariannya dengan lihai dan matang. Sejak itu muncul anekdot dan sarkasme yang menobatkan Eddy Tansil sebagai atlet lari tercepat di dunia. Sang buron koruptor triliunan rupiah itu lari secepat kilat dan selama 23 tahun tak pernah ada seorang pun yang bisa mengejarnya.

========= Laporan ini dikerjakan sejak akhir tahun 2018. Mengulik dokumen pengadilan Eddy Tansil dalam kasus Bapindo pada 1994 serta menelusuri dokumen-dokumen perusahaan dan melacak pemberitaan yang menulis kiprahnya, Arbi Sumandoyo dan Aqwam Fiazmi Hanifan dari tim In-depth Tirto mewawancarai puluhan narasumber, mulai dari eks-pegawai Eddy Tansil, para pejabat intelijen dan jaksa senior di Indonesia, pejabat China, hingga lingkaran saudaranya, baik di Makassar sampai di Hong Kong dan Tiongkok.

Baca selengkapnya di artikel "Pelarian Mulus Eddy Tansil ke Singapura", https://tirto.id/efhl

Laporan ke dua:
Melacak Eddy Tansil (2) Eddy Tansil Kabur dari Indonesia lalu Bikin Onar di China

tirto.id - Sudah 23 tahun Eddy Tansil kabur dari Indonesia. Selama itu publik disuguhi informasi sumir tentangnya. Apakah ia masih hidup atau sudah mati? Jika masih hidup, di mana ia berada? Ada yang menyebut ia tinggal di Australia. Ada juga yang bilang di Amerika Serikat. Namun, ada yang menyebutnya di China. Lagi pula, beberapa kali Kejaksaan Agung pernah mendeteksi Eddy Tansil pulang ke kampung halamannya di Fujian, salah satu provinsi di pesisir selatan Tiongkok, tempat lahir mayoritas keluarga-keluarga migran Tionghoa terdahulu dari Indonesia. Meski begitu, laporan itu nyatanya tak pernah ditindaklanjuti oleh otoritas Indonesia. Betapapun ia masuk daftar buron Interpol sejak kabur dari penjara Cipinang pada 1996, namanya sepi dari pemberitaan sejak Basrief Arief, saat itu Jaksa Agung, menyebut Eddy Tansil “terlacak di China” pada 2013.

Sesulit itukah mencari Eddy Tansil? Ternyata tidak. Tak sampai lima menit, kami bisa memastikan Eddy Tansil memang berada di Tiongkok. Dan buron koruptor kakap ini menjalani kehidupan normal. Narasi yang menggambarkan ia hidup sebagai pelarian yang mengendap-endap, bersembunyi, memalsukan identitas dan berganti nama—itu omong kosong belaka. Untuk temuan ini, berterima kasihlah kepada mesin mencari, khususnya bikinan produk lokal China seperti Baidu, Shenma, dan Sogou. Dengan sekali mengetik nama 陈子煌 (Chen Zihuang), nama Tionghoa-nya, ratusan informasi mengenai Eddy Tansil bermunculan.

Terjerat Kasus Kredit Macet Ratusan Juta Renminbi Salah satu kabar yang bikin pusing otoritas Tiongkok adalah Eddy Tansil mengulang tindakan culasnya dengan membobol bank di China. Satu dekade setelah kabur dari penjara Cipinang, sebuah media lokal di Tiongkok mengulas kiprah Eddy Tansil yang mengelabui Bank of China Limited. Skema penipuannya nyaris sama dengan apa yang dia lakukan di Indonesia. Menjual pengaruh koneksinya dengan pejabat tinggi China, Eddy Tansil meminjam uang dari bank pemerintah Tiongkok itu dengan total 389,92 juta renminbi pada 2002—setara Rp791 miliar dengan kurs saat ini. Jaminannya, ia menggadaikan aset tanah dan dua pabrik miliknya di Putian, sebuah kota di sebelah timur Fujian tempat moyangnya berasal, yakni pabrik bir Golden Spoon Brewery (莆田金匙啤酒有限公司) dan pabrik kaca Golden Spoon Glass (莆田金匙玻璃制品有限公司). Namun, Eddy membelot dari kewajiban bayar kredit. Karena itu Bank of China menyeretnya ke jalur perdata. Pada 23 Juli 2003, pengadilan memenangkan gugatan bank, menyita aset Eddy, dan memutuskan agar segera melakukan proses lelang. Meski begitu, pria kelahiran Makassar ini mengajukan banding, meminta waktu buat menyelesaikan persoalan utang piutang. Normalnya, jika ada iktikad baik pengusaha melunasi utang, kasus kredit macet bisa beres. Alhasil, pihak pengadilan dan bank setuju atas skema tersebut. Persetujuannya, Eddy Tansil wajib menyetor 2-6 juta renminbi, plus penyerahan aset tanah 325 hektare yang jika diuangkan senilai 30 juta renminbi, selama 31 Oktober 2003 hingga 31 Desember 2004. Bank memberikan keringanan: sejak 2005 Eddy dibebaskan dari bunga, hanya membayar pokok pinjaman. Tetapi, perjanjian itu tak lebih dari selembar kertas semata. Eddy kembali ingkar janji. Setelah tiga tahun berlarut-larut, Bank of China angkat tangan. Mereka melimpahkan kasus ini kepada Great Wall Asset Management Co., Ltd., lembaga keuangan negara yang menangani aset-aset bermasalah dari kredit macet bank-bank komersial berpelat merah di China. Kasusnya bahkan diulas dalam laporan utama Legal Daily, majalah Kementerian Hukum Pemerintah Tiongkok, pada edisi Juni 2006. Pengacara Great Wall Asset Management Zheng Decheng menyebut pengajuan penangguhan penyitaan aset oleh Eddy Tansil adalah “caranya untuk mengakali putusan pengadilan.” Majalah Legal Daily menulis Eddy Tansil telah memakai semua jenis metode “cerdik” sehingga putusan pengadilan cuma macan kertas: melempem saat proses sita dan lelang aset. Sebaliknya, Great Wall menempuh pelbagai cara buat melawan trik Eddy Tansil. Salah satunya pada 28 September 2005 meminta Pengadilan Tinggi Fujian menunjuk dua kurator untuk menaksir valuasi aset dua pabrik Eddy Tansil di Putian. Namun, Eddy menolak hasil kurasi itu. Ia berdalih lembaga kurator yang ditunjuk pengadilan tidak memenuhi syarat. Ia menolak taksiran aset yang dinilianya terlalu rendah. Alhasil, penyelesaian kasus kembali buntu. “Menurutku, dia memang orang yang sangat lihai,” kata Gong Chunqi, Direktur Great Wall Asset Management perwakilan Kota Fuzhou, kepada kami.

Pola Penipuan yang Sama Kami menemui Gong Chunqi di Fuzhou, ibu kota Provinsi Fujian, pada Desember 2018. Ia menyambut kami dengan ramah, menyuguhkan secangkir teh hijau hangat dan kudapan kue kering di ruangan kerjanya. Kepada kami, Gong Chunqi berkata Eddy Tansil pandai memainkan jerat kucing dan tikus, mengulur-ulur waktu. “Eddy emoh asetnya kami ambil tapi juga enggan membayar kewajiban utang,” ujarnya. Apa yang dilakukan Eddy Tansil adalah pola penipuan untuk mencuri uang negara, sama saat ia melakukannya di Indonesia dengan membobol Bank Pembangunan Indonesia alias Bapindo. Pada 1991, Eddy Tansil mendapatkan kredit dari Bapindo berkat kedekatannya dengan Sudomo, saat itu Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, dan Menteri Keuangan J.B. Sumarlin. Berkongsi dengan Tommy Soeharto, kredit itu dipakai buat bikin pabrik petrokimia bernama PT Hamparan Rejeki, anak usaha PT Golden Key Group. Tapi, perusahaan itu cuma akal-akalan. Uangnya masuk ke kantong pribadinya. Maka, bak balon meledak di udara, negara Indonesia menanggung kerugian 1,3 triliun. Pada 1995, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memvonis Eddy Tansil 20 tahun penjara, plus membayar denda Rp30 juta serta uang tebusan Rp500 miliar. Setahun kemudian, ia kabur ke China.

Di Tiongkok, Eddy melakukan pola yang sama. Zheng Decheng, pengacara Great Wall Asset Management, menerangkan pertama-tama Eddy Tansil mengajukan kredit dalam jumlah besar kepada bank pemerintah. Demi mendapatkan kepercayaan, ia biasa menjual diri sebagai keluarga “diaspora patriotik” yang dicitrakannya sejak akhir 1980-an kepada Tiongkok. Ia menggunakan pelbagai cara agar uang korporasi dialihkan ke kantong pribadi. Kemudian, perusahaanya pailit dan pemerintah mengakuisisi asetnya. Pola ini dilakukannya saat membangun Fuzhou Golden Key Motorcycle Co., Ltd. Berdiri pada Oktober 1991, pabrik perakitan motor produksi Jepang dan Taiwan itu ditunjuk pemerintah China sebagai penggerak industri otomotif nasional, memproduksi sekitar 25.000 unit per tahun dan didistribukan ke 29 provinsi. Anehya, sejak 1991 hingga 1999, pabrik itu selalu merugi sekitar 10 juta renminbi per tahun—setara Rp20,3 miliar dengan kurs saat ini. Data inspeksi tahunan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Tiongkok menemukan dari total investasi Fuzhou Golden Key Motorcycle senilai 119,3 juta renminbi, total pinjaman bank buat mengoperasikan pabrik itu mencapai 113,91 juta renminbi—setara Rp231,4 miliar. Audit terakhir menemukan total kerugian negara mencapai 720,373 juta renminbi atau sekitar Rp1,5 triliun. “Pada saat itu, produksi sepeda motor adalah yang paling menguntungkan. Sulit membayangkan Golden Key malah akan merugi,” ujar Zheng Decheng. Namun, laporan audit itu mengungkapkan, sekalipun terus merugi, uang yang dibawa ke luar negeri oleh Eddy Tansil mencapai 1,12 miliar renminbi atau setara Rp2,3 triliun dengan kurs saat ini. Ketika mendirikan pabrik motor tersebut, Eddy Tansil memakai perantara sebuah perusahaan konsorsium berbasis di Taiwan. “Ini menunjukkan alasan sebenarnya kerugian perusahaan itu—dia secara ilegal membawa uang perusahaan ke luar negeri,” ujar Decheng. Hasil penyelidikannya, semua perusahaan yang dikelola oleh Eddy Tansil di Tiongkok terbelit kondisi serupa. Ihwal itu dibenarkan Xie Deshou, manajer umum Bank of China cabang Fuzhou. “Cara seperti itu digunakan juga oleh dua perusahaan Golden Key yang juga menjadi perhatian terbesar kami,” kata Deshou merujuk pabrik bir dan pabrik kaca Eddy Tansil di Putian. Golden Spoon Brewery dan Golden Spoon Glass menghabiskan dana operasional lebih dari 2 juta renminbi saban bulan. Karena statusnya aset sitaan negara, pemerintah Tiongkok menanggung biaya tersebut. Menurut statistik Biro Perpajakan Negara Kota Putian, selain bermasalah secara keuangan, pabrik bir juga menunggak pajak pendapatan hingga 30 juta renminbi (setara Rp61 miliar) sejak kembali berdiri pada 1996 hingga 2003.

Menurut Gong Chunqi, cara ini dilakukan Eddy Tansil untuk melakukan penarikan dana terselubung. Begitu perusahaan yang disita itu dilelang, hasilnya akan diprioritaskan untuk membayar tunggakan pajak. Sementara kreditur menerima kompensasi lebih sedikit. Dalam hal ini pajak yang mestinya dibayarkan Eddy Tansil malah ditanggung Bank of China dan Great Wall Asset Management. Pola licin dan licik ini mirip dilakukan Eddy Tansil saat menggasak Bapindo di Indonesia. Setelah lebih dari empat tahun bersengketa, akhirnya Eddy Tansil menyerah. Pabrik birnya kini diakusisi kompetitornya, Fujian Xuejin Beer Co., Ltd., sementara pabrik kacanya diambil alih oleh Great Wall dan berganti nama menjadi Fujian Great Wall Huaxing Glass Co., Ltd. Gong Chunqi dari Great Wall perwakilan Kota Fuzhou menyebut masalah Eddy Tansil adalah hal lumrah di China. Perkara utang piutang bisa diselesaikan secara baik-baik. Namun, katanya, Eddy malah memilih jalan yang berbeda. “Kalau dia mau jujur dan fair dalam berbisnis, kasus seperti ini tak akan ada yang merugi. Kami sih enggak ada masalah karena kami mewakili negara. Tapi, bagi dia, dia tidak dapat keutungan apa pun,” ujar Chunqi, lalu menambahkan, “Apa yang dimilikinya sekarang sudah hanyut tersapu air.”*

laporan ke tiga:
Melacak Eddy Tansil (3) Kiprah Eddy Tansil di China: Menikmati Kedekatan dengan Beijing

Eddy Tansil menikmati privilese di China.

tirto.id - "Saya memang sempat kejar dia ke China, tapi mentok sampai Beijing,” kata Gagoek Soebagyanto, jaksa yang dulu ditugaskan memburu Eddy Tansil, kepada kami pada akhir Juni lalu melalui telepon. Sebagai spesialis yang menangani kejahatan kerah putih, Gagoek ditunjuk mengepalai tim pemburu Eddy Tansil oleh Jaksa Agung Singgih saat itu. Tim itu melibatkan detektif swasta dari Kroll Associates, yang direkrut Menteri Keuangan saat itu Mar’ie Muhammad. Temuan Kroll cukup positif. Saat kabar keberadaan Eddy Tansil masih buram, yang mencoreng muka hukum rezim Soeharto, pemerintah Indonesia sebenarnya sudah tahu Eddy Tansil berada di Tiongkok. Temuan itulah yang mengantarkan Gagoek dikirim ke China pada akhir 1996. Tapi, kepergiannya sia-sia. Belum sampai ke Fujian, pesisir selatan Tiongkok yang jadi provinsi kelahiran keluarga Eddy Tansil, otoritas pemerintah China melarangnya. “Pihak kejaksaan China melarang saya pergi ke Fujian dengan alasan administratif,” kata Gagoek. “Karena dilarang, ya saya pulang lagi.” Meski demikian, nama Eddy Tansil sebagai penggasak duit negara Rp1,3 triliun tetap jadi santapan hangat publik Indonesia, lebih-lebih ia mewakili sebuah koneksi antara segelintir pengusaha Tionghoa yang dekat dengan lingkaran Keluarga Cendana, fondasi kopong dari sistem korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menopang pemerintahan Soeharto.

Tujuh bulan selepas Soeharto mundur dari kekuasananya, sebuah lembaga swadaya masyarakan bernama Gerakan Masyarakat Peduli Harta Negara mengeluarkan rilis mengejutkan tentang Eddy Tansil. Lembaga itu sesumbar menemukan koruptor paling diburu pemerintah Indonesia tersebut mengelola pabrik bir di Provinsi Fujian lewat bendera perusahaan Putian Golden Key Brewery Co., Ltd. Di China, sang buron dikenal dengan panggilan Mr. ET—Tuan Eddy Tansil. Laporan itu bikin panas kuping Beijing, yang merespons esok harinya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China saat itu Zhu Bangzao membantah “isu” tersebut. “Pemerintah Indonesia memang telah meminta bantuan untuk menemukan Eddy Tansil, tapi sejauh ini keberadaannya belum ditemukan,” bantahnya kepada AAP Newswire. Di sisi lain, pemerintah Putian angkat bicara. Putian adalah kota industri di Provinsi Fujian tempat operasional pabrik bir milik Eddy Tansil. Kepada Wall Street Journal, pemerintah setempat menegaskan tidak ada investasi dari warga negara Indonesia di pabrik tersebut. Juga berdalih tak pernah mendengar nama Eddy Tansil. Kenyataannya adalah basa-basi belaka demi menjaga hubungan diplomatik kedua negara. Faktanya, setelah kabur dari penjara Cipinang pada 4 Mei 1996 kemudian mampir sebentar ke Singapura, Eddy Tansil menjalani kehidupan normal di China. Ia dikenal sebagai konglomerat di Fujian.

Kami sempat berbincang dengan salah seorang staf Eddy Tansil, yang kini menjabat salah satu direksi di perusahaan bir lain di Tiongkok. Ia berkata setelah bikin geger di Indonesia, Eddy Tansil mengurus pabrik bir di China. Informasinya sinkron dengan fakta di Indonesia. Setelah gagal mendirikan pabrik bir lewat kongsi dengan pensiunan tentara, Koesno Achzan Jein, Eddy Tansil memboyong mesin-mesin pabrik bir ke Fujian, yang membuatnya dikenal sebagai Raja Bir dari Fujian. Informasi serupa dikatakan Huang Wei, pegawai di Fujian Great Wall Huaxing Glass Co., Ltd., perusahaan yang dulunya bernama Golden Key Glass Co., Ltd. Pabrik kaca ini dulunya masih satu grup dengan perusahaan bir milik Eddy Tansil. Pada 2007, setelah ketahuan gagal mengembalikan kredit ratusan juta renminbi alias ratusan miliar rupiah ke Bank of China, otoritas Tiongkok di Fujian menyita aset dua pabrik Eddy Tansil di Putian lewat Great Wall Asset Management Co., Ltd. Nama terakhir adalah lembaga keuangan negara Tiongkok yang menangani aset-aset bermasalah dari kredit macet bank-bank komersial pemerintah. Aset pabrik kaca Eddy Tansil diambil alih oleh Great Wall dan berganti nama. Huang Wei berkata sering melihat Eddy Tansil mengunjungi pabrik kaca di Putian. Selain itu, ia sering melihat Indriana Tansil, istri Eddy Tansil. Secara legal, nama Eddy Tansil memang tidak muncul terang-terangan dalam hierarki profil perusahaan. Namun, dokumen pengadilan menyebut Eddy Tansil adalah pemilik pabrik bir dan kaca itu. Catatan transkrip pengadilan perdata mengungkap jajaran direksi perusahaan bir dan kaca selalu memberi jawaban yang mengambang: “Kami tidak bisa mengambil keputusan atas masalah ini” dan “Saya ingin bertanya kepada bos kami.” Dan, bos yang dimaksud mereka adalah Eddy Tansil. Dekat dengan Beijing Koneksi alias guangxi adalah faktor terpenting bagi kalangan pengusaha China agar bisnisnya tetap eksis. Faktor inilah yang membuat kasus sengketa kredit macet Eddy Tansil dengan Bank of China dan penyitaan aset oleh Great Wall berlarut-larut, sejak 2003 hingga 2007. Gong Chunqi, Direktur Great Wall Asset Management cabang Fuzhou, ibu kota Provinsi Fujian, berkata kepada kami bahwa Eddy Tansil bukanlah orang sembarangan di kota pesisir selatan Tiongkok itu. Saat perang sengketa di pengadilan, alih-alih berkomunikasi dengan otoritas keuangan di kota itu, Eddy Tansil memilih upaya penyelesaian kasus “secara langsung berangkat ke kantor pusat kami di Beijing,” ujar Chunqi yang kami temui di kantor kerjanya pada akhir tahun lalu. “Kami pun terpaksa mengirim orang ke sana,” tambahnya. Laporan Legal Daily edisi Juni 2006 yang dipublikasikan Kementerian Hukum Pemerintah Tiongkok mengutip salah seorang staf Golden Key. Ia mengisahkan setelah bertemu pejabat Great Wall di Beijing, Eddy Tansil langsung mengadakan rapat internal. Staf itu membocorkan Eddy membanggakan koneksinya di Beijing dalam rapat. “Saya sudah mengontak Great Wall Asset di Beijing, kita tidak perlu takut dengan mereka. Kita punya bekingan kuat,” ujar staf itu menirukan ucapan bosnya.

Lazimnya dalam industri keuangan dan perbankan, nasabah yang kedapatan nakal bakal terdaftar sebagai debitur hitam. Normalnya hal itu juga terjadi di China. “Dia tidak bisa lagi berurusan dengan bank,” ujar Gong Chunqi. Namun, fakta berkata sebaliknya. Meski ditetapkan sebagai debitur hitam, Eddy Tansil tetap leluasa mengelola bisnisnya secara normal. Malahan ia sempat mengembangkan bisnis gelas kaca ke provinsi lain. Pada 27 September 2008 atau setahun usai seluruh asetnya di Fujian dilelang oleh negara, Eddy terdeteksi berada di Fucheng, sebuah kabupaten di Hengshui, selatan Provinsi Hebei. Ia dan pemerintah setempat sepakat membangun pabrik kaca dengan kapasitas produksi 160.000 ton per tahun. Proses penandatanganannya berlangsung di Balai Kota dan dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Partai Komunis Provinsi Hebei Jing Chunhua, Wali Kota Hengshui Gao Hongzhi, dan Wakil Wali Kota Dai Guohua. Investasi itu menelan 230 juta renminbi dan Eddy bisa menjalankan bisnisnya dengan memanfaatkan pinjaman dari bank. Salah satu artikel yang terbit di Xinhua, kantor berita resmi pemerintah Tiongkok, menulis bisnis itu tak akan terjadi tanpa intervensi pemerintah pusat di Beijing. Wali Kota Gao Hongzhi harus pergi bersama Eddy Tansil ke Beijing untuk bernegosiasi agar proyek itu bisa lancar. Belakangan, salah seorang pengusaha Fucheng berkata kepada kami bahwa proyek itu cuma omong kosong. Sebab, proyek pembangunannya dibatalkan. “Saya tidak tahu penyebabnya,” katanya.

Bertemu dengan Petinggi Partai Komunis Tiongkok Relasi Eddy Tansil dan otoritas Beijing tercermin dari rekam jejaknya yang punya hubungan akrab dengan Partai Komunis Tiongkok. Pada 24 Februari 1993, pabrik bir Eddy Tansil di Putian kedatangan tamu penting. Dia adalah Song Ping, anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis Tiongkok. Song termasuk gerbong generasi kedua para penguasa China yang dipimpin Deng Xiaoping. Pada era kepemimpinan Deng inilah China mengubah haluan ekonominya menjadi liberal. Song juga dikenal mentor Presiden Republik Rakyat Tiongkok ke-6 Hu Jintao. Setelah berjumpa dengan Song Ping, Eddy Tansil mendapatkan akses bertemu Tian Jiyun, Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Partai Komunis Tiongkok, pendukung “reformasi” Deng Xioping. Perjumpaan ini terjadi pada 9 Juli 1993 atau lima bulan setelah Eddy bertemu Song Ping. Eddy diundang personal ke Beijing oleh Tian Jiyun. Dalam pertemuan itu Eddy Tansil mengenalkan potensi perdagangan internasional yang bisa dikembangkan di China. Pada awal dekade 1990-an, Tiongkok sedang getol mengembangkan pasar bebas. Tian Jiyun, saat itu baru empat bulan menjabat wakil ketua, membutuhkan masukan Eddy Tansil untuk mengembangkan konsep “perekonomian baru yang lebih liberal” di China. Pada 28 September 1993, giliran Wang Hanbin datang berkunjung ke pabrik bir Eddy di Putian. Jabatan Wang sama dengan Tian Jiyun di Partai Komunis Tiongkok. Dua sosok yang ditemui Eddy Tansil itu menduduki posisi naratetama—orang yang sangat amat penting. Di China, Lembaga legislatif tertinggi adalah Kongres Rakyat Nasional—setara DPR. Kongres memiliki 2.980 anggota, di dalamnya ada komite terpenting yang disebut Komite Tetap, diisi hanya 150 orang. Dari hierarki politik ini kita bisa membayangkan pengaruh Tian Jiyun dan Wang Hanbin di parlemen. Eddy Tansil juga memiliki koneksi ke Dewan Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok—semacam MPR. Ketika kabur ke Tiongkok pada 1996, ia memiliki paman bernama Chen Zizhen, saat itu anggota MPR perwakilan Fujian. Betapapun Song Ping, Wang Hanbin, Tian Jiyun, maupun Chen Zizhen kini telah pensiun dari dunia politik, bukan berarti terputus pula koneksi Eddy Tansil ke Beijing. Ia masih punya keponakan bernama Chen Yuanshou, sekarang anggota MPR perwakilan Fujian. Chen adalah putra Hendra Rahardja, kakak Eddy Tansil. Bila koneksi politikus setingkat provinsi masih terlalu jauh dengan pusat kekuasaan di Beijing, informasi penting lain yang kami dapatkan datang dari seorang anggota organisasi diaspora Tionghoa. Ia berkata Eddy Tansil masih memiliki koneksi dengan anggota Politbiro Partai Komunis Tiongkok. Tapi, ia takut mengungkapkan sosoknya secara terang-terangan. Kami menelusuri nama-nama anggota Politbiro. Dari 25 orang, ada lima nama yang mengawali karier politik di (dan berasal dari) Fujian. Mereka adalah Cai Qi, Chen Xi, Huang Kunming, Sun Chunlan, dan ... Presiden Tiongkok saat ini: Xi Jinping.

Kiprah Xi Jinping dan Irisannya dengan Eddy Tansil Sebelum diangkat sebagai presiden pada 2013, hampir 17 tahun karier politik Xi Jinping dihabiskan di Fujian. Kali pertama Xi Jinping berkarier di Fujian pada 1985 saat ditunjuk jadi Wakil Wali Kota Xiamen, salah satu kota besar di Fujian. Pada September 1991, tiga bulan setelah China dan Indonesia menormalisasi hubungan diplomatik yang lama dibekukan, Xi Jinping memimpin delegasi khusus ke Jakarta. Ia dipertemukan dengan para konglomerat Indonesia, seperti Liem Sioe Liong (Sudono Salim), Djuhar Sutanto, keluarga Riady dan keluarga Tansil. Pada periode awal 1990-an, Xi Jinping ditugaskan sebagai corong pemerintah China agar orang-orang Tionghoa perantauan menanam investasi di “kampung halaman” mereka. Saat itu Xi Jinping menduduki posisi terkemuka dalam struktur Partai Komunis Tiongkok di Fujian, termasuk sebagai Sekretaris Komite Kota Fuzhou, ibu kota Fujian. Pada masa awal karier politik Xi Jinping di Fuzhou inilah Eddy Tansil membawa konsorsium dari Taiwan membangun banyak pabrik besar di kota tersebut, dari pabrik manufaktur, perakitan motor, mebel, hingga plastik.

Koneksi bisnis Eddy Tansil di Fujian bisa dilacak dari kepemilikan sahamnya, salah satunya pabrik kaca miliknya di Putian, Golden Key Glass Co., Ltd.,—kerap ditulis juga Golden Spoon Glass Co., Ltd. Akta perusahaan itu menunjukkan mayoritas sahamnya dimiliki korporasi asing berbasis di Hong Kong bernama Beiwang Group Hong Kong. Data dari otoritas Hong Kong memaparkan perubahan komposisi saham pabrik kaca itu terakhir kali pada 23 Agustus 2000. Dari dokumen ini terungkap ada pemilik selain Eddy Tansil. Ia adalah Fujian Hua Min Export and Import Co., Ltd. Nama terakhir adalah perusahaan negara milik pemerintah Provinsi Fujian, notabene di bawah kendali gubernur. Saat perubahan komposisi saham itu diteken, Fujian masih dipimpin Xi Jinping, yang menjabat gubernur dari 1999 sampai 2002, kini orang nomor satu di Republik Rakyat Tiongkok. Irisan tipis antara Eddy Tansil dan Xi Jinping juga bisa dijelaskan oleh Zhao Qiang. Ia menjabat direktur di Beiwang Group Hong Kong. Namanya juga muncul sebagai direktur di Fujian Golden Key Group—yang berbasis di Hong Kong tapi menaungi perusahaan di luar pabrik bir dan kaca milik Eddy Tansil. Lalu, siapa Zhao Qiang? Dia adalah pejabat pemerintah Provinsi Fujian, orang yang ditugaskan buat mengurusi perusahaan negara. Dalam akta perusahaan, dia tercatat tinggal di Beijing. Dan dia adalah anak buah Xi Jinping.

Baca selengkapnya di artikel "Kiprah Eddy Tansil di China: Menikmati Kedekatan dengan Beijing", https://tirto.id/eflp

frendy @swargiloka
@aqfiazfan @arbysoemandoyo Karya duo jurnalis selalu ditunggu2, bahkan sejak belum ditulis. Provisiat!
Fajar Junaedi @fajarjun
@aqfiazfan @arbysoemandoyo Proficiat mas . Hormat untuk karya jurnalisme investigasinya 🙏
Anton Muhajir @antonemus
@aqfiazfan @arbysoemandoyo asyiiik. akhirnya terbit juga gosip yg sudah lama beredar. layak kita rayakan dg makan2. kapan? :D
cuy~ @halahkacrut
@TirtoID yg tau nya media sekelas tirto. polisi ngapain? maen ludo.
el dong @asddsdasdasdsd
@julialdi_ @TirtoID jadi maksudnya 1.3Tnya sbelum krismon itu lebih gede kan ya dr sekarang?
Aqwam Fiazmi Hanifan @aqfiazfan
Banyak hambatan saya dan @arbysoemandoyo dapatkan, mulai dari gadget yg diretas, diteror nomor tak dikenal, tautan situs yg rusak serempak, profil linkedin kami yg dipantau Interpol, akun wechat yg tiba-tiba diblokir dsb. Well this is a bit creepy. But show must go on!
Aqwam Fiazmi Hanifan @aqfiazfan
@Ekomaung @arbysoemandoyo Masih aya keneh eta pagar? Can dicabut izin ormasna ku Kemedagri? 🤦
YS Maulana @sayaysm
@masayaharuhi @asddsdasdasdsd @julialdi_ @TirtoID Kalau angkanya ya Honggo, tapi kan 1,3T kalau udah dihitung inflasi, jauh diatas Honggo. Bayangin aja 1,3T zaman dollar masih 2ribuan
Aqwam Fiazmi Hanifan @aqfiazfan
Btw reportase ini akan jadi liputan terakhir saya untuk @TirtoID. Sedikit upaya membikin karya legit pada sebuah akhir. 🎉🎉 pic.twitter.com/ptqsO6gGi9
Torschlusspanik @erytobi
@sayaysm @masayaharuhi @asddsdasdasdsd @julialdi_ @TirtoID berarti kalo dibandingin sama dollar yang udah katakan 14ribu atau 7 kali lipatnya, sekitar 9,1 T dong yah.
Load Remaining (20)
Login and hide ads.