0
UniversitasIndonesia @univ_indonesia
Hai Mahasiswa UI! Tahukah kamu dengan menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi membuka banyak peluang dan kesempatan kamu untuk bisa mengeksplor potensi, bakat dan minat serta membuka jaringan yang luas dengan teman-temanmu semasa berkuliah. pic.twitter.com/cPbsKlkzEz
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Aloysius Womsiwor @babarsaru
Hai @univ_indonesia! Tahukah kamu bahwa hingga hari ini kasus kematian Akseyna belum terselesaikan? Bukankah seharusnya kuliah di UI yang memiliki jurusan kriminologi memberikan kesempatan bagi mahasiswanya untuk mengeksplorasi potensi mereka dengan menyelesaikan kasus tersebut? twitter.com/univ_indonesia…

kasus kematian Akseyna Ahad Dori atau Ace belum menemui titik terang. Mahasiswa Universitas Indonesia itu pada 26 Maret 2015 ditemukan mengambang di Danau Kenanga, tepatnya dekat gedung rektorat.

Hingga kini polisi belum juga berhasil mengungkap pelaku pembunuhan mahasiswa jenius itu. Padahal sejumlah saksi sudah dimintai keterangan. Namun seolah buntu, saksi itu tidak berhasil membawa polisi pada identitas pembunuh Ace.

Keluarga pun masih terus berharap agar kasus kematian Akseyna ini bisa segera terungkap. Termasuk mengungkap siapa pembunuhnya. Sejumlah pejabat di Satuan Reserse dan Kriminal Polresta Depok pun sudah berganti namun tetap saja kasus ini belum terungkap. "Kami berharap dituntaskan, jangan sampai dihentikan," kata Mardoto, ayah Akseyna, Senin (26/3).

Pihak keluarga masih terus berharap besar pada Kepolisian untuk membuka babak baru kasus ini. Dan keluarga sampai saat ini masih menaruh kepercayaan dan harapan besar kepada Polresta Depok.

Selain itu, pihak kampus juga dianggap punya tanggung jawab dalam menuntaskan kasus ini. Pasalnya, Akseyna saat itu masih tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas MIPA. Dan saat ditemukan jasadnya pun ada di dalam lingkungan kampus.

Ayah Akseyna mengaku masih terus berkomunikasi dengan polisi. Bahkan Mardoto menyempatkan diri bertandang ke Polresta Depok hanya untuk menanyakan perkembangan kasus anaknya. Padahal rumah Mardoto di Yogyakarta. "Saat itu saya sedang berkunjung ke Jakarta," ceritanya.

Di Polresta Depok, Mardoto bertemu dengan Kasat Reskrim Polresta Depok, Kompol Putu Kholis Aryana. Dia pun menanyakan soal kasus anaknya. "Belum ada progress, hanya katanya baru ada satu bukti, sedangkan untuk membuktikan kasus harus ada minimal dua bukti," katanya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa polisi tidak memberitahu bukti yang dimaksud tersebut. Dia menyadari hal itu adalah kewenangan penyidik. "Tapi saya berharap polisi mengerahkan segenap upayanya membongkar peristiwa itu. Apalagi, Korps Bhayangkara memiliki kemampuan mengusut kasus-kasus sulit," lanjutnya.

Bahkan dia menuturkan, untuk kasus besar lainnya saja polisi bisa dengan cepat mengungkap. Dan dia mempertanyakan mengapa untuk kasus anaknya sangat sulit diungkap. "Kasus lain saja, kasus-kasus teroris di Indonesia gampang terungkap, Akseyna yang ditemukan tewas di tempat terbuka dan lingkungan masa tidak bisa diungkap," tutupnya.

sumber: merdeka.com

Aloysius Womsiwor @babarsaru
Salam hormat kami untuk Bapak @mardoto selaku orangtua Akseyna untuk terus berjuang menuntut keadilan akan terselesaikannya kasus ini. pic.twitter.com/JO9qpPOddw
Expand pic
Expand pic
5 Kejanggalan Kasus Kematian Akseyna yang Kini Masih Jadi Misteri, Surat Wasiatnya Diduga Ditulis Dua Orang Berbeda

Laporan wartawan GridHot.ID, Dewi Lusmawati

GridHot.ID - Misteri kematian Akseyna Ahad Dori (19) hingga kini belum juga terbongkar.

Kesedihan dan kebingungan masih bergelayut di benak keluarga Akseyna.

Akseyna yang merupakan anak semata wayang Sus Mardoto itu ditemukan tewas mengapung di Danau Kenanga Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat pada 26 Maret 2015.

Bahkan, hingga 4 tahun berlalu, keluarga mengaku belum mendapat jawaban mengenai sosok pembunuh Akseyna yang kini masih jadi teka-teki.

Hal ini seperti dikutip GridHot.ID dari Kompas Selasa (26/3/2019).

"Sampai sekarang saya belum dapat update-nya, yang menangani Polres Depok, kalau yang saya ketahui sekarang masih dipegang polres, mungkin konsen di sana bagaimana mereka menangani itu,” ucap Mardoto.

Terakhir kali Mardoto menanyakan perkembangan kasus pembunuhan Akseyna kepada polisi pada 2018.

Saat itu, pihak Polresta Depok hanya mengatakan bahwa kasusnya masih dalam penyelidikan.

Kebuntuan kasus Akseyna ini bukan terjadi karena kebetulan.

Awalnya, Akseyna diduga melakukan bunuh diri.

Namun kemudian polisi menemukan sejumlah kejanggalan yang mengarah pada pembunuhan dalam kematian Akseyna.

Bahkan kasus kematian Akseyna disebut bukan pembunuhan biasa.

Dikutip GridHot.ID dari berbagai sumber, berikut 5 kejanggalan kasus kematian Akseyna yang kini masih jadi misteri.

  1. Tas berisi batu seberat 14 Kg

Pada 26 Maret 2015, Akseyna ditemukan tewas tak bernyawa di Danau Kenanga.

Ia tenggelam di danau dengan 14 Kg batu yang terisi di dalam tas ranselnya.

Akseyna membawa tas yang diisi batu tanpa diikat kuat ke tubuhnya.

Dengan demikian, bila melakukan bunuh diri, maka ia akan berpotensi melepaskan diri dari tas berisi batu itu.

Lain halnya bila ia sudah tewas lebih dulu baru ditenggelamkan.

Namun, karena ada air dalam jumlah cukup banyak di paru-paru, polisi menduga Akseyna masih hidup saat ditenggelamkan.

Ia masih bernapas sehingga air danau masuk ke paru-parunya.

  1. Surat wasiat diduga ditulis dua orang yang berbeda

Kejanggalan juga ditemukan pada tulisan tangan yang ditinggalkan untuk berpamitan.

Mardoto, ayah Akseyna mengaku mendapat surat wasiat dari putranya melalui seseorang.

Hal ini seperti dikutip GridHot.ID dari tayangan Aiman yang diunggah akun YouTube Kompas TV pada 17 Juni 2015.

"Saya dapat surat itu, langsung saya, pikiran saya sudah mulai negatif respon," ujar Mardoto pada Aiman.

"Karena?," tanya Aiman.

"Melihat, setelah saya bertanya, 'lho, berarti kamu masuk kamar Ace (Akseyna)?,' katanya 'iya', status sebagai apa dia masuk masuk, dan kalau dia menemukan, pikiran saya, karena Minggu malam sudah ada hubungan telepon, kok tidak menyatakan Minggu malam ada surat.

Jadi sudah mulai saya berpikir ini sesuatu yang janggal.

Sejak saya menerima (surat), saya tidak membaca lebih lanjut, cuma saya lihat sekilas, kemudian saya pegang saja.

Saya tidak menyatakan, saya sudah melihat seperti ini, ini sudah pasti janggal," jelas ayah Akseyna.

Grafolog American Handwriting Analysis Foundation, Deborah Dewi, menemukan tulisan dalam surat wasiat yang didapati oleh ayah Akseyna digoreskan dua orang yang berbeda.

"Saya memegang copian dari tulisan surat wasiat Akseyna, anda bisa menjelaskan yang mana yang ditulis orang lain selain Akseyna, katakan yang mana!," ujar Aiman pada Deborah.

"Ada 4 kata, yang Not, For yang pertama, kemudian yang dicoret-doret ini Eternity, kemudian Existence, dan tanda tangan," jawab Deborah.

"Itu orang yang kedua?," tanya Aiman.

"Bukan Akseyna, tidak identik dengan sampel ratusan yang sudah saya analisa, selama dua minggu, setiap hari," jawab Deborah.

"Dan anda sangat yakin bahwa yang menulis selain Akseyna ini hanya satu orang?, tidak lebih?," tanya Aiman.

"Keyakinan saya didukung indikator grafis, berkali-kali saya analisa, indikator graifsnya menunjukkan hal yang sama, jadi pegangan saya hanya itu mas, bukan kepada keyakinan saya, tetapi kepada bukti fisik yang muncul setelah proses analisa berulang kali," jawab Deborah menjelaskan.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya pada saat itu, Komisaris Besar Krishna Murti, mengatakan, ada indikasi bahwa tulisan dalam surat wasiat Akseyna tidak identik dengan tulisannya.

"Ada beberapa indikasi yang menunjukkan korban tewas dibunuh," kata Krishna di Mapolda Metro Jaya, pada 28 Mei 2015.

  1. Luka tak wajar di wajah

Polisi juga menemukan ada luka tidak wajar di wajah Akseyna.

Krishna Murti mengatakan, luka yang ditemukan di wajah Akseyna merupakan luka fisik.

Seharusnya luka itu tidak ada bila Akseyna melakukan bunuh diri.

"Ada luka fisik di wajah yang bersangkutan, luka fisik. Kalau dia bunuh diri harusnya mulus," kata Krishna di Mapolda Metro Jaya, pada 29 Mei 2015.

Sebelumnya, polisi juga pernah mengungkap adanya sejumlah luka lebam di tubuh Akseyna.

Namun, dugaan saat itu adalah luka tersebut sebagai akibat gesekan atau benturan dengan batu atau benda-benda lainnya saat tubuhnya tenggelam di danau.

Krishna menuturkan, saat itu kepolisian sudah melakukan gelar perkara ulang untuk kasus kematian Akseyna.

Hasilnya, ada beberapa hal yang membuat kematiannya tidak wajar.

"Dari hasil gelar ulang, kami menduga mati tidak wajar tersebut bukan karena bunuh diri," sebut Krishna.

  1. Robekan di sepatu

Ada pula temuan tak wajar lain yakni adanya robekan di sepatu Akseyna.

Ada robekan di sepatu Akseyna.

Dalam keadaan tak sadar, Akseyna diduga diseret dan ditenggelamkan.

Ia diduga pingsan, diperkirakan setelah mendapat pukulan yang terlihat dari luka lebam di telinga, kepala dan luka sobek di bibir sang mahasiswa UI tersebut.

Enam batu bata seberat 14 Kg ditemukan dalam tasnya.

  1. Sejumlah orang diduga masuk ke kamar kost Akseyna

Pada 26 Maret 2015 pagi, saat jenazah Akseyna ditemukan, pihak UI dan kepolisian setempat menduga Akseyna menjadi korban bunuh diri.

Karena mulanya dianggap bunuh diri, danau tempat Akseyna ditemukan pun dibersihkan.

Namun, belakangan diketahui ada sejumlah orang yang masuk ke kamar indekos Akseyna setelah identitas korban diketahui.

Beberapa hari setelahnya, barulah muncul dugaan Akseyna tidak bunuh diri, tetapi dibunuh.

Polisi berlomba dengan waktu untuk mengumpulkan serpihan barang bukti dan petunjuk yang masih tersisa.

Sayangnya, hal-hal yang dapat memberi petunjuk itu kemungkinan besar sudah dikaburkan oleh sang pelaku.

Polisi pun sulit mengungkap kasus ini. "Ini menjadi memburamkan penyidikan.

Tentunya ini harus dibalas dengan penyidikan yang lebih kuat untuk menebus kesalahan yang di awal," ujar Mardoto.

Mardoto tak menyerah begitu saja.

Ia membuka rumah dan teleponnya bagi siapa pun yang bisa memberi informasi tentang kematian putranya.

Berbagai kejanggalan yang diketahui Mardoto pun dilaporkannya kepada polisi.
Namun, hingga kini kasus yang menimpa anaknya itu masih menjadi tanda tanya besar.

Sebelumnya, Kapolresta Depok, Komisaris Besar Didik Sugiyarto berjanji, pada 2019, pihaknya akan kembali melakukan langkah-langkah pengungkapan.

Salah satu kasus yang menjadi atensinya yakni kasus Akseyna.

“Yang jelas Akseyna terus menjadi salah satu PR (pekerjaan rumah) Polresta Depok untuk kita membuat jelas benderang peristiwanya,” kata Didik pada wartawan.

Proses penyelidikan yang dilakukan bersama Polda Metro Jaya, lanjut Didik, akan terus ditindaklanjuti.

“Termasuk semua kasus yang di 2018 belum terungkap, di tahun 2019 kita upayakan langkah-langkah pengungkapan,” kata dia.

Sementara itu, dikutip dari Warta Kota, empat tahun berlalu, polisi belum juga mengungkap kasus kematian Akseyna dan menemukan pembunuhnya hingga Selasa (26/3/2019) atau tepat empat tahun lalu.

Bahkan saat ditanya mengenai kasus pembunuhan Akseyna ini, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono sempat bertanya balik ke wartawan kasus pembunuhan apakah Akseyna itu.

"Akseyna yang mana? Kasus pembunuhan banyak yang kami tangani. Semua kasus pembunuhan yang banyak dan belum terungkap, semuanya masih dalam proses," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Selasa (26/3/2019).

Ia mengaku akan mengecek kembali perkembangan kasus Akseyna yang kini ditangani Ditreskrimum Polda Metro Jaya, setelah sempat ditangani Polresta Depok.

"Saya akan cek lagi perkembangannya," kata dia.

sumber: hot.grid.id

Al Ahmar Wal Abyadh @1EB2
@babarsaru @mardoto @univ_indonesia Penasaran apa yang dibahas anak-anak @kriminologi_ui di kelas perihal kasus ini
nozansegar @adityanozan
@babarsaru @univ_indonesia jak slulum neng kulonprogo meneh wae leg , men anyep!

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.