PILIHAN KESETIAAN by Dr IKU | @aindraku

Inspirasi tentang kesetiaan di jalan dakwah dari sejarah Bani Israil dan Sahabat Rasulullah SAW
setia dakwah kesetiaan baniisrail
0
Dr. IKU @aindraku
PILIHAN KESETIAAN Dr. IKU | @aindraku A THREAD---- pic.twitter.com/tSTonEsd11
Expand pic
Dr. IKU @aindraku
Bagi seorang da’i ilallah, semua yang terjadi, dialami dan didapatkan di jalan dakwah, menyenangkan maupun menyakitkan, membahagiakan maupun menyedihkan, semua itu sejatinya adalah ujian kesetiaan. Apakah kita memilih untuk tetap setia di jalan dakwah ini atau sebaliknya.
Dr. IKU @aindraku
Ujian kesetiaan dakwah setiap waktu terus meningkat kuantitas dan kualitasnya seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan dakwah. Ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam dakwah adalah sebuah keniscayaan.
Dr. IKU @aindraku
Hal yang perlu kita ingat adalah bahwa ujian kesetiaan bukan hanya dengan kepedihan dan penderitaan, kenikmatan dan kemenangan pun sejatinya adalah ujian kesetiaan.
Dr. IKU @aindraku
Allah SWT memberi contoh dengan perilaku Bani Israil. Mari kita pelajari kisah mereka. Semula, mereka berada pada barisan yang sama dengan semangat yang sama:
Dr. IKU @aindraku
“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah".
Dr. IKU @aindraku
Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang". Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?"….” [QS Al Baqarah : 246]
Dr. IKU @aindraku
Namun, bersama perjalanan sang waktu, tersingkaplah empat tipe Bani Israil:
Dr. IKU @aindraku
Tipe pertama, Orang yang kehilangan kesetiaan karena tantangan berat “Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.” [QS Al Baqarah : 246]
Dr. IKU @aindraku
Tipe kedua, Ada org yg kehilangan kesetiaan karena pemimpinnya tdk seperti yg dia inginkan. “Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, pdhl kami lbh berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sdg diapun tidak diberi kekayaan yg cukup banyak?" [QS Al Baqarah : 247]
Dr. IKU @aindraku
Tipe ketiga, Ada orang yang kehilangan kesetiaan karena sudah merasakan kenikmatan duniawi Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku.
Dr. IKU @aindraku
Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku". Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka.
Dr. IKU @aindraku
Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya". [QS Al Baqarah : 249]
Dr. IKU @aindraku
Tipe keempat, Ada yg tetap sabar&kokoh pndirian memilih setia di jalan perjuangan dlm segala kondisi Org2 yg myakini bhw mereka akan mnemui Allah, brkata: "Berapa banyak trjadi golongan yg sedikit dapat mngalahkn golongan yg banyak dg izin Allah. Dan Allah beserta org2 yg sabar"
Dr. IKU @aindraku
Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". [QS Al Baqarah : 249-250]
Dr. IKU @aindraku
Berdasarkan pelajaran kisah Bani Israil di atas, pertanyaan bagi setiap kita adalah: Kita memilih menjadi tipe yg mana? Kisah di atas adalah ttg Bani Israil. Skrg mari kita kaji tentang umat Rasulullah SAW. Al-Quran merekam gambaran org2 yg setia di kalangan umat Rasulullah SAW
Dr. IKU @aindraku
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).” [QS Al Ahzab : 23]
Dr. IKU @aindraku
Para sahabat Rasulullah SAW adalah umat terbaik dalam segala hal, termasuk dalam kesetiaannya. Bahkan saat seseorang mendapatkan kepahitan dakwah berupa sanksi atas kelalaiannya berpartisipasi dalam perjuangan dakwah, mereka tetap setia.
Dr. IKU @aindraku
Contoh nyata adalah kisah Ka’ab Bin Malik bersama Murarah bin Rabi’ah dan Hilal bin Umayyah radiyallahu ‘anhum yang diberi ‘iqab (sanksi) karena tidak ikut dalam perang Tabuk tanpa alasan syar’i.
Dr. IKU @aindraku
Kesetiaan mereka tidak goyah meski mereka diboikot komunikasi oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Bahkan kesetiaan mereka semakin nyata saat menolak surat tawaran menggiurkan dari Raja Ghassan yang mengajak mereka untuk berkhianat melanggar janji setianya kepada Allah SWT.
Dr. IKU @aindraku
Kaum Anshar adalah teladan kisah tentang orang-orang yg tetap memilih setia saat keputusan pimpinan menyebabkan mereka tidak mendapatkan bagian atas hak-hak material berupa ghanimah paska perang Hunain yg justru diberikan oleh Rasulullah SAW kepada orang-orang yg baru masuk islam
Dr. IKU @aindraku
Semula mereka bertanya. Namun, setelah dijelaskan, sambil bercucuran air mata mereka memperbaharui komitmen kesetiaannya untuk memilih Allah dan Rasul-Nya dibandingkan harta dunia yang fana. pic.twitter.com/AnNHemNj4i
Expand pic
Dr. IKU @aindraku
Orang-orang yang memilih tetap setia di jalan dakwah bukanlah pengikut buta yang terbelenggu. Mereka justru adalah orang merdeka yang memilih setia berdasar pemahaman utuh, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Syafi’ie:
Dr. IKU @aindraku
قال الشافعي:الحر من راعى وداد لحظة، وانتمى لمن أفاده لفظة “Orang yang merdeka adalah orang yang menjaga kasih sayang walaupun sebentar, dan menghargai orang yang mengajarnya walau satu lafadz.” [Imam Syafi’ie

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.