0
Marsinah Milenial @AQUBINAL

Kebenaran itu pahit. Tapi harus disampaikan

Marsinah Milenial @AQUBINAL
[A Thread] Monopoli Pengetahuan a la Soeharto pic.twitter.com/qZUX32pq3V
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Sepanjang Orde Baru (1968-1998) dunia pendidikan di Indonesia mengenal 4 kurikulum, yakni Kurikulum 1968, 1975, 1984, dan 1994. Kurikulum tersebut begitu melekat & dipolitisasi, sebab rezim saat itu cenderung untuk menghapus jejak pendidikan di era Soekarno yg sangat mendominasi. pic.twitter.com/11nUbAW0p7
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Sistem pendidikan yang dibentuk Orde Baru sangat dipenuhi dengan doktrin untuk “mencetak” keseragaman peserta didik dengan kemampuan dan pola pikir yang juga sama, tidak leluasa, tidak punya banyak pilihan.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Kurikulum-kurikulum tersebut sangat teoritis, begitu banyak hafalan-hafalan yang diajarkan tanpa penerapan untuk keseharian. Para peserta didik diharapkan mendapatkan “output” yang seragam, berpedoman dengan agama dan nilai Pancasila. pic.twitter.com/sP5DdHXm4H
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Karena melekat dengan doktrin, kurikulum ini sering kali memaksakan gagasan dari pusat ke daerah. Sementara itu, pendidikan di setiap daerah punya kesempatan untuk menjadi lebih efektif, bila disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas di setiap daerah. pic.twitter.com/51jF0tIDNp
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Dampak untuk pendidikan menjadi tidak merata dan hanya berjaya dari area Pusat Pemerintahan, yakni Pulau Jawa.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Tilaar (dalam buku 50 Tahun Pembangunan Pendidikan Nasional 1945-1995) mengatakan, bahwa berdasarkan Pelita I, sekolah-sekolah di Indonesia saat itu berorientasi pada pembangunan sehingga dapat menyiapkan tenaga kerja yang sesuai harapan pemerintah.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Meskipun tahun '84 terdapat metode Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), tetap tdk mampu memberikan dorongan untuk pendidikan zaman Orba, karena metode ini memiliki kelemahan. Misalnya, karena kemampuan para guru yg belum mencapai kualifikasi utk memimpin jalannya diskusi para siswa.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Tidak hanya mendoktrin, pendidikan di era Orba sangat miskin seni. Bila saat ini begitu banyak mata pelajaran seni dan sekolah-sekolah seni, rezim Eyang Soeharto tidak memberikan ruang leluasa untuk pelajaran seni.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Zaman Orde Baru juga melekat dengan EBTA dan Ebtanas yang digagas karena perubahan kurikulum sekaligus pergantian sistem dari ujian negara menjadi ujian sekolah, di tahun 1975.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Pergantian sistem ini tidak murni karena pendidikan, melainkan karena pemerintah mengharapkan kuantitas dari masyarakat untuk tetap melanjutkan pendidikan. Kuantitas dibutuhkan karena instansi pemerintahan dan sektor industry membutuhkan banyak sumber tenaga kerja.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Sistem Ujian Sekolah ini membuat para guru dapat membantu ketidaklulusan para siswa, berbeda dengan ujian negara yang memiliki standar kelulusan berdasarkan pemerintahan pusat.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Di tahun 1982 pun EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir) dan Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) mulai diterapkan. Namun, keduanya sempat mjd penyebab nilai tinggi adalah segalanya, dan juga menjadi cikal bakal kemunculan sekolah favorit.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Sistem penerimaan siswa baru dibuat secara tertutup, dan memunculkan potensi KKN di lingkup pendidikan. Jual beli sekolah negeri, menjadi hal yang sangat lumrah (alias, nyogok atau main belakang). pic.twitter.com/SIrQUoNr8v
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Tidak hanya seputar sistem pendidikan nasional, Orba juga mengekang “pengetahuan” secara general. Salah satunya yang terjadi terhadap rantai sejarah dari konstitusi dan ketatanegaraan RI. Catatan sejarah yang tertuang pada zaman Orba tidak ditulis dengan metodologi yang benar.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Pada sebuah pertemuan di sebuah universitas daerah Makassar, Bung Hatta menyebutkan Pancasila sebagai buah pikiran dari Soekarno. Namun, para mahasiswa menampik dan menyebutkan, bahwa Moh. Yamin adalah sosok yang mendalami Pancasila sebelum Soekarno. pic.twitter.com/7ZnjjQ1ya0
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Faktanya, para mahasiswa tersebut mendapatkan informasi tersebut dari buku yang dibuat oleh Moh. Yamin. Dan, catatan yang ditulis dalam buku tersebut tidak pernah dikemukakan dalam sidang resmi BPUPKI, hanya diutarakan dalam rapat Panitia Kecil per tanggal 1 Juni ’45.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Kesalahan itu tetap terulang pada Naskah Persiapan UUD 1945 karya Yamin, dan dijadikan sumber resmi sepanjang Orde Baru. Kabarnya semua “kesengajaan” ini mengarah pada tujuan untuk menghilangkan Soekarnoisme dalam setiap kebijakan Pemerintah Orba. pic.twitter.com/eTEw7WfNpR
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Tindakan lain yang juga dilakukan demi memonopoli pengetahuan adalah dengan pelarangan, perampasan, dan pembakaran buku. pic.twitter.com/6K3wQdJdni
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Berawal dari peristiwa G30S, PKI, & ormas-ormas kiri dienyahkan. Para anggotanya dibunuh & dipenjara tanpa pengadilan. Tidak hanya itu, militer pun bertindak dlm bentuk pembakaran buku di tempat yg berhubungan dgn kaum kiri, seperti Central Comite PKI & Universitas Res Publica. pic.twitter.com/JlWuAmlO6d
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Pelarangan buku ini berawal dari instruksi no.1381/1965 yang dikeluarkan Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan. Instruksi tersebut melarang penggunaan buku karangan para penulis yang telah diberangus pemerintah seperti tercantum dalam lampiran. twitter.com/AQUBINAL/statu…

Thread pelengkap

Marsinah Milenial @AQUBINAL
SITA BUKU, KEKANG INTELEKTUALITAS [A thread] Sore ini gue mau bahas bagaimana rezim otoriter orba mengekang intelektualitas rakyat Indonesia dengan menyita dan memberangus banyak sekali buku yang dianggap “berbahaya”. pic.twitter.com/H77fZslDG0
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
SITA BUKU, KEKANG INTELEKTUALITAS [A thread] Sore ini gue mau bahas bagaimana rezim otoriter orba mengekang intelektualitas rakyat Indonesia dengan menyita dan memberangus banyak sekali buku yang dianggap “berbahaya”. pic.twitter.com/H77fZslDG0
Expand pic
Load Remaining (28)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.