1
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
[THREAD] โ›” ABUSIVE PARENTS โ›” Sering kita dengar cerita gimana kita gak boleh durhaka sama orang tua. Baik dari perspektif agama atau norma sosial yg udah ada. Tapi pernahkah kita coba melihat perspektif yg berbeda? Bahwa ortu pun bisa "durhaka" sama anak-anaknya. pic.twitter.com/5Xas1mKvIo
 Expand pic
 Expand pic
 Expand pic
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑ ุฎู…ู† ุงู„ุฑ ุญูŠู…. Dengan menyebut nama Allah yg Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tidak semua orang punya "privileges" hidup di keluarga bahagia sejahtera. Ada kawan kita diluar sana yg mgkn selalu dihantui rasa takut. Apakah Anda termasuk yg memiliki ortu abusive?
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Data dari @WHO menunjukkan bahwa 1 dari 4 orang dewasa, pernah mengalami kekerasan semasa kecilnya. Sedangkan data dari @ChildFund menunjukkan bahwa 6 dari 10 anak2 di dunia, menjadi subjek punishment/kekerasan oleh ortunya. Dan itu dilakukan secara terus menerus. pic.twitter.com/HDKRVy2ljy
 Expand pic
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Bagaimana dengan situasi di Indonesia? Infografik dari @TirtoID yg melansir data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, memberikan gambaran yg cukup jelas. Tren mengalami penurunan sejak 2013. Pelaku kekerasan anak laki2 didominasi ayah, sedangkan anak perempuan oleh ibunya. pic.twitter.com/W72t9KOBoS
 Expand pic
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Abusive parent menurut @WHO terbagi dalam 4 jenis : 1. Physical Abuse - dialami 23% anak 2. Emotional Abuse - dialami 36% anak 3. Sexual Abuse - 18% korban cewek dan 8% korban cowok 4. Neglect - dialami 16% anak pic.twitter.com/YBrR4KNz3Y
 Expand pic
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
(1) Physical Abuse Menurut @PsychCentral, kriteria physical abuse meliputi : โ€ข Intimidation - melakukan ancaman kepada anak. โ€ข Isolation - mengurung anak dengan paksa. โ€ข Agression - melakukan kontak kekerasan fisik. โ€ข Endangerment - verbal threats ancaman pembunuhan. pic.twitter.com/bHsmmHSsN5
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
(2) Emotional Abuse Menurut @PsychCentral, kriterianya sbb : โ€ข Nitpicking - meremehkan achievement anak. โ€ข Embarrasment - Ortu suka cerita hal personal yg membuatmu malu di depan banyak orang. โ€ข Insecurity - Anak dianggap gak becus krna gagal mencapai target gak realistis. pic.twitter.com/xbZPL33pvI
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
โ€ข Excessive Guilt - ortu ngeklaim bahwa udah seharusnya mereka lah sosok paling penting di hidup si anak. โ€ข Alienation - menganggap temen atau keluarga orang lain bukan satu "kasta" sm keluarganya. Sehingga mereka ga perlu dianggap. โ€ข Anger - Ngamuk2 dan suka bentak si anak. pic.twitter.com/INQwuXmTTC
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
(3) Sexual Abuse Menurut @PsychCentral, kriterianya sbb : โ€ข Grooming - Bersikap manis ke anak untuk pelan2 dirayu ke arah melakukan aktivitas seksual โ€ข Molestation - Aksi cabul menyentuh area sensitif korban โ€ข Rape - Yak, penetrasi. It's the worst form of sexual abuse. pic.twitter.com/YYE3YoCsUe
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
(4) Neglecting. Merujuk penjelasan @PsychToday, secara sederhana neglecting dipahami sebagai bentuk abusive dari orang tua yg gagal memenuhi hak basic anaknya. Contoh : gak bisa nyediain makan, gak bisa menyekolahkan, anaknya sengaja gak divaksin, ga pny waktu buat anak, dll. pic.twitter.com/cAFQuQTLTO
 Expand pic
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Apa yg membuat resiko perilaku abusive orang tua meningkat? Data dari @WHO memaparkan beberapa sebab : - Dulunya juga KORBAN abusive ortu - Penyalahgunaan alkohol - Lingkungan tempat tinggal yg toxic - Regulasi hukum yg melindungi anak2 masih lemah pic.twitter.com/U6KsjQe99l
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Argumentasi @WHO tentang orang tua abusive itu disebabkan krna mereka dulunya juga KORBAN, didukung oleh riset Plummer & Cossins (2018) yg meneliti konsep the Cycle of Abuse pada pelaku Child Sexual Abuse (CSA). Yg menemukan fakta bahwa mereka dulunya pernah menjadi korban. pic.twitter.com/pmUWxkMkcX
 Expand pic
 Expand pic
 Expand pic
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Dampaknya buat anak gimana? @WHO berpendapat bahwa sikap abusive ortu bisa berdampak serius, seperti : - Anak rentan jd korban bully - Depresi - Obesitas - Anak rawan terlibat seks bebas - Anak bisa jatuh dalam penyalahgunaan narkoba. - Bahkan bisa berujung pada kematian pic.twitter.com/uSxPtOMAxg
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Bagaimana kalo Anda saat ini menjadi korban atau melihat anak tetangga Anda jadi korban kekerasan ortunya? Negara mencoba hadir turun tangan melalui KPAI. Disebutkan pengaduan bisa dilakukan lewat sini. kpai.go.id/formulir-pengaโ€ฆ
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Alternatif lain, mungkin bisa dilakukan melalui organisasi nirlaba seperti LAHA - Lembaga Advokasi Hak Anak. Kalo temen2 punya hotline lain dari organisasi atau LSM yg bergerak di bidang perlindungan anak, monggo bisa berbagi disini. ๐Ÿ˜Š laha.or.id/kebijakan-perlโ€ฆ
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
David M. Allen M.D. menuliskan di artikel @PsychToday, tidak mungkin seorang anak bisa memaafkan ortunya selama mereka masih bersikap abusive. Rekonsiliasi baru bs dilakukan kalo tercapai mutual understanding untuk stop bersikap abusive di kemudian hari. Itu kalo dimaafkan. ๐Ÿ˜„ pic.twitter.com/8YWiX618ge
 Expand pic
 Expand pic
 Expand pic
 Expand pic
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
LOH TAPI KAN DALAM ISLAM KITA GAK BOLEH DURHAKA SAMA ORTU? Imam Al Ghazali berpendapat bahwa ortu pun tidak bisa semena-mena pd anaknya. Saya kesulitan menguraikan dgn bahasa yg sederhana. Jd monggo baca langsung disini aja. Tentang ADAB ortu pd anak. nu.or.id/post/read/8441โ€ฆ
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Perlu kita pahami bahwa TIDAK ADA anak yg minta dirinya dilahirkan. Ortunya lah yg PENGEN punya anak. Bahkan ada yg sabar nunggu bertahun-tahun demi bisa punya anak. Jadi, anak itu sebuah privileges gaes. Amanah dari Gusti Allah yg mestinya dijaga. Bukan malah dibuat celaka.
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Perlu dipahami juga bahwa kemampuan anak berbeda-beda. Jangan memaksakan ego atau ambisi pribadi kita ke anak. Terlebih kalo kita tau apa yg kita tuntutkan diluar batas kemampuannya. Ini malah menjadi tekanan tersendiri buat mereka. Krna anak bukan properti atau "investasi" kita.
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Saya memahami bahwa tidak ada ortu yg sempurna. Bahkan kelak ketika udah jadi ortu pun, pasti ada cara kita yg salah. Tapi kuharap dari situlah kuharap ego kita gak terlalu tinggi buat ngakuin salah dan terus berbenah. Semoga Gusti Allah selalu tunjukkan jalan lurusNya.
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
Terimakasih udah menyempatkan baca gaes. Semoga cycle of abuse yg pernah kita alami dulu bisa BERHENTI di kita. Selesai di kita. Dan semoga kita kelak bisa jadi ortu yg baik, supportive, bisa memberikan rasa sayang dan kenyamanan buat anak-anak kita. [THREAD - END]
FK Elisabeth @abethcia
@WidasSatyo @PakarLogika Betul. Dan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya, setiap ada masalah antara orang tua dan anak, selalu memposisikan anak yg salah. Tanpa tau duduk perkaranya. Padahal bisa jadi orang tua justru yg paling bersalah dlm masalah tsb.
Widas ๐ŸŠ @WidasSatyo
@abethcia @PakarLogika Yaps.. Tanpa tau duduk perkaranya cenderung disimpulkan anaknya yg selalu salah. Padahal suatu akibat terjadi kan jg pasti ada sebabnya.
Login and hide ads.