0

Surat Terbuka Untuk Pak Prabowo Subianto

Tersiar kabar dan berita yang tak sedap kepada kami relawan Pak Prabowo dan Sandi yang berada di Rejang Lebong, Bengkulu. Bahwa dari beberapa kader utama Partai Gerindra yang dekat dengan Pak Prabowo sudah mengambil langkah cepat bermanuver. Tanpa sepengetahuan Pak Prabowo untuk ikut dalam Pemerintahan Pak Jokowi dan Kiyai Ma'ruf Amin.

Ada yang niat dan terindikasi untuk menjadi menteri dan jabatan lain yang mentereng dalam Pemerintahan Pak Jokowi-Ma'ruf Amin mendatang. Apalagi yang menumpang dalam ajakan untuk rekonsiliasi.

Wacana Rekonsiliasi yang kami baca dari berbagai media yang Pak Prabowo sampai saat ini belum terima. Bagi kami ajaran rekonsiliasi cak bunga bangkai yang bentuknya bagus, tumbuh dalam hutan dan hanya sekali berbunga kemudian mati. Namun, bila sekali berbunga, maka ada aroma yang tidak sedap menebar kemana-mana.

Yang menabar kemana-mana saat ini adalah omongan orang-orang terdekat dengan Pak Prabowo. Mereka yang hanya baru ini ikut berjuang dan bertarung dalam pemilu serentak 2019. Dimana pada pemilu-pemilu sebelumnya tidak nampak sama sekali.

Terutama juru bicara Andre Rosiade yang pernyataan kalau diperhatikan tidak sesuai dan berubah-ubah dari waktu ke waktu tentang mengabarkan sikap Pak Prabowo. Sebelum sidang di Mahkamah Konstitusi dan selama kampanye kritikanny tajam dan bagus menyikapi kelemahan kebijakan kabinet kerja Jokowi.

Setelah MK memutuskan menolak keseluruhan tentang kecurangan pemilu yang terstruktur, sistematis dan massif. Tidak terdegar lagi kritikan yang tajam dan bagus. Seakan-akan kehilangan daya analisa yang tajam.

Dalam berapa hal, seolah-olah Andre Rosiade telah mendahului dan lebih mengetahui tentang isi hati Pak Prabowo dalam banyak hal menyikapi isu-isu yang diembuskan oleh lawan politik untuk membelit Pak Prabowo.

Yang terbaru adalah Panglima Relawan Roemah Djoeang pius lustrilanang membenarkan dirinya telah mendaftar sebagai calon anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) periode 2019-2024. Bagi kami ini adalah aroma jebakan untuk merusak Pak Prabowo dari dalam.

Dalam pernyataan Pius, yang juga pengurus teras DPP Gerindra, mengakui telah direstui oleh Prabowo Subianto.

"Beliau sudah setuju," kata Pius, Jakarta, Rabu (3/6/2019). Setahu kami, Pak Prabowo tidak seperti itu dengan mudah memberikan restu.

Kami tahu sekarang Pak Prabowo sedang berusaha mengeluarkan beberapa orang yang ditahan akibat membela Pak Prabowo.

Dan yang lucu lagi Pius mengaku ada tiga orang memiliki langkah sama untuk menjadi anggota BPK. Namun, belum menyampaikan secara langsung secara jantan. Jelas ini bentuk 'pengkhiatan' terhadap Pak Prabowo. Tidak berani terus terang.

Selain Pius ada politisi Gerindra Willgo Zainar yang mendaftar sebagai calon anggota BPK periode 2019-2024. Kemudian adalah Haerul Saleh dan Wakil Ketua Umum Gerindra Ferry Juliantono juga mendaftar sebagai calon anggota BPK.

Jika ini benar adanya, nyata bagi kami telah menebarkan aroma tidak sedap bagi Pak Prabowo selaku Ketua Umum Partai Gerindra.

Aroma pengkhianatan dan hendak menyelamatkan diri masing-masing bila ada peluang dan kesempatan. Dari jauh telah tercium.

Kalau di Bengkulu seperti aroma bunga bangkai, bentuknya bagus. Namun, aroma tak sedapnya telah menebar kemana-mana.

Aroma tak sedap itu adalah pernyataan Pius, dimana dirinya telah menegaskan bahwa lembaga BPK itu adalah lembaga di luar pemerintahan dan tidak dibawahi oleh presiden.

"BPK adalah lembaga tinggi negara yang sejajar kedudukannya dengan presiden,"

Sebab yang kami ketahui, BPK dan lembaga tinggi negara lainnya, merupakan bagian dari pemerintahan eksekutif yang menguatkan Presiden.

Semestinya bagi kami Partai Gerindra lebih baik tetap menjadi oposisi diluar pemerintahan.

Nampak sekali Pius tidak tidak tegas apakah dirinya mendaftar calon anggota BPK sebagai bagian dari rekonsiliasi politik setelah Pilpres 2019. Dia hanya berlindung dengan mengatakan bahwa mayoritas elit setuju bahwa rekonsiliasi perlu dilakukan.

"Rekonsiliasi bisa terjadi di dalam mau pun di luar pemerintahan."

Jelas sikap ini sikap mendua, bersikap abu-abu. Tidak jelas apakah lanang atau betino. Maaf kurang elok bahaso. Begitulah kami Pak Prabowo.

Bagi kami relawan, berjuang untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyat adalah keniscayaan. Apalagi di Bengkulu banyak petani penghasil kopi yang bergantung dari hasil perkebunan tradional dan belum terkoodinir. Masih jauh dari kemakmuran.

Kami relawan dari petani kopi yang berselalu bersama masyarakat cukup tahu sudah gaya politik kader Gerindra yang numpang 'tenar' dan diam-diam menebar aroma tak sedap seperti bunga bangkai kepada Pak Prabowo.

Mohon maaf Pak Prabowo, terus terang kami tak terima dan kecewa.

Rejang Lebong, Bengkulu

link asal
https://www.kompasiana.com/restusugaraalexander/5d1d97560d82302a9269ddb2/kami-kecewa-lihat-gaya-politisi-gerindra-minta-jabatan-dengan-bungkus-rekonsiliasi?page=1

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.