Prabowo TIDAK niat menang, MK hanyalah tipuan penyemangat RELAWAN

optimisme yang ditunjukkan kelompok pasangan capres-cawapres nomor urut 02 tersebut tidak diiringi dengan niat dan tindakan yang nyata untuk menang.
Sandiaga Uno pilpres2019 prabowosubianto
0

Kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno masih yakin akan keluar menjadi pemenang Pilpres 2019. Meskipun beberapa pihak dari awal berpendapat bahwa pembuktian yang dilakukan kubu 02 di Mahkamah Konstitusi (MK) sangat lemah, namun hal itu tidak mengurangi optimisme mereka. Bahkan Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade dengan sesumbar mengatakan Prabowo-Sandi akan keluar jadi pemenang dan siap merangkul Jokowi-Ma’ruf.

Akan tetapi, menurut hemat saya optimisme yang ditunjukkan kelompok pasangan capres-cawapres nomor urut 02 tersebut tidak diiringi dengan niat dan tindakan yang nyata untuk menang. Sedari awal, mulai dari proses, pelaksanaan, hingga penyelesaian selisih sengketa pilpres di MK, kubu 02 terkesan lebih banyak membangun opini dibandingkan kerja nyata dan membuktikan segala sesuatu sesuai dengan fakta.

Dalam proses pemilihan calon wakil presiden, Prabowo sudah lebih dulu tidak menunjukkan niat untuk menang dengan tidak melibatkan aspirasi partai koalisi. Dimana saat itu, tiga partai koalisi Prabowo mengusung kader-kader terbaiknya untuk mendampinginya dalam Pilpres 2019. Partai Keadialan Sejahtera (PKS) mengusung 9 nama kader terbaiknya, Partai Amanat Nasional (PAN) mengusung Zulkifli Hasan, dan Partai Demokrat mempunyai nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Dengan memilih Sandiaga Uno yang notabene-nya saat itu adalah kader Partai Gerindra, secara tidak langsung Prabowo telah mematikan mesin partai koalisinya. Ditambah lagi, dalam posisi strategis Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi mayoritas diisi oleh petinggi dari Gerindra. Semua yang dilakukan Prabowo tersebut merusak semangat koalisi yang merupakan bentuk kerja sama atau kombinasi antara 2 organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama.

Dalam perjalanannya pun, Prabowo juga terkesan menjalankan strategi yang dianggapnya benar. Beberapa kali masukan kepada Prabowo dari partai koalisi tidak diindahkan dan dijalankan. Misalnya seperti masukan dari Ketua Umum Partai Demokrat yang menghendaki Prabowo melakukan kampanye yang santun, damai dan menjunjung tinggi persatuan, kebhinekaan serta kemajemukan.

Gaya kampanye Prabowo yang terkesan mengeksploitasi politik identitas, secara faktual telah menggerus basis suaranya. Tidak dapat dibantah, berdasarkan hasil survei pemilih Prabowo yang berasal dari kelompok minoritas turun tajam hanya dalam waktu 4 bulan. Pada Agustus 2018, Prabowo-Sandi didukung kelompok minoritas dengan persentase sebesar 43,6. Sementara itu pada Januari 2019 jatuh drastis keangka 4,7 persen. Jika Prabowo berniat untuk menang sedari awal, tentunya segala masukan dan pertimbangan dari partai-partai koalisi dapat dipikirkan dan dijalankan secara matang.

Ketidakseriusan Prabowo-Sandi untuk menang dalam Pilpres 2019 juga ditunjukkan saat mempermasalahkan hasil rekapitulasi suara oleh KPU. Di awal, Prabowo-Sandi lebih menginginkan people power atau Gerakan Kedaulatan Rakyat untuk merebut kemenangan. Alhasil, korban nyawa berjatuhan pada peristiwa 22 Mei 2019 di depan kantor Bawaslu.

Setelah kejadian kelam itu, barulah Prabowo menempuh jalur konstitusional untuk membuktikan kemenangannya atau membuktikan segala sesuatu kecurangan yang dilakukan petahana. Akan tetapi, lagi-lagi Prabowo tidak menunjukkan niat yang kuat untuk menang. Kubu Prabowo lagi-lagi hanya membentuk opini daripada membuktikan fakta-fakta yang kuat dalam persidangan.

Di Mahkamah Agung (MA), permohonan yang diajukan kubu Prabowo tidak dapat diterima karena tidak memenuhi syarat formal dan melewati tenggat waktu yang ditentukan. Begitu juga dengan saksi dan fakta yang dimajukan dalam persidangan sengketa Pilpres 2019 di MK, kubu Prabowo tidak dapat menghadirkan saksi dan fakta yang kuat secara hukum. Semua rangkaian ini menunjukkan, sedari awal hingga proses akhir, hasil Pilpres 2019 sesungguhnya sudah bisa ditebak. Jadi, marilah kita terima apapun hasil keputusan MK dengan lapang dada dan riang gembira.

Berry Salam, Pegiat Masyarakat Berkeadilan

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.