2
Brii @BriiStory
Malam ini, kita simak om Heri yang akan melanjutkan cerita tentang petualangannya di perkebunan karet ya.. Ingat, jangan baca sendirian, karna terkadang "mereka" gak hanya sekadar hadir di dalam cerita. #memetwit @InfoMemeTwit pic.twitter.com/qyNOsfYsHj
Expand pic
Brii @BriiStory
"Pak Heri dan Wahyu datang ya, jangan sampai gak datang. Gak akan sampai larut malam, jam sembilan sudah selesai acaranya."
Brii @BriiStory
Suatu pagi di hari jumat, Pak Lurah mengundang kami untuk datang ke rumahnya, malam harinya dia akan mengadakan selamatan menyambut kelahiran cucunya, om berniat akan menyempatkan diri untuk datang.
Brii @BriiStory
Wahyu baru saja pulang dari rumah sakit pada malam sebelumnya, tubuhnya belum terlalu fit untuk bepergian, om gak mengijinkannya untuk ikut ke rumah Pak Lurah walau pun dia bersikeras ingin ikut.
Brii @BriiStory
Rumah Pak Lurah gak terlalu jauh, menggunakan motor kira-kira hanya satu jam ke arah barat perkebunan. Dengan begitu, om berpikir kalau nanti gak akan terlalu malam, paling lama jam sepuluh sudah sampai rumah lagi. ***
Brii @BriiStory
Pak Lurah termasuk orang yang cukup dekat dengan kami, beberapa kali dalam satu bulan beliau pasti mampir ke rumah, karna memang kalau ingin ke kota beliau selalu lewat dekat perkebunan.
Brii @BriiStory
Keluarga besarnya, sejak kakek buyut sudah tinggal di daerah sisi luar perkebunan, makanya Pak Lurah sudah banyak bercerita tentang keadaan perkebunan dan daerah sekitarnya sebelum kami tinggal di situ.
Brii @BriiStory
Beberapa ceritanya terbilang menyeramkan, sangat manakutkan malah. Yang membuat jadi mengerikan, Pak Lurah berani menjamin kalau cerita itu benar adanya, karna dia mendengarnya langsung dari ayah dan kakeknya.
Brii @BriiStory
Kakek dari Pak Lurah bisa dikatakan saksi langsung peristiwa-peristiwa mengerikan yang pernah terjadi di perkebunan karet, namun beliau sudah meninggal jauh sebelum kami datang.
Brii @BriiStory
Salah satu cerita yang sangat menancap di kepala adalah mengenai pemakaman yang katanya masih ada di perkebunan, pemakaman yang berisi korban pembunuhan.
Brii @BriiStory
Yang menakutkan, katanya juga pemakaman itu gak diketahui letak pastinya, karena pelaku pembunuhan melarikan diri entah ke mana dan gak pernah kembali. Yang pasti, letaknya di wilayah perkebunan karet. ***
Brii @BriiStory
Setelah selesai pekerjaan di hari itu, om langsung bersiap untuk pergi ke rumah Pak Lurah, berharap sebelum maghrib sudah sampai di sana. "Beneran nih Pak saya gak boleh ikut?" Lagi-lagi Wahyu kembali melontarkan pertanyaan yang sama sejak siang tadi.
Brii @BriiStory
"Gak usah Yu, kamu istirahat aja, nanti kalau sakit lagi gimana coba." jawab om, dengan kalimat yang sama juga. "Pak Heri kan baru beberapa kali ke rumah Pak Lurah, memangnya sudah hapal banget jalannya?, lagian hutan di sebelah barat kan lebih rindang dari bagian lainnya."
Brii @BriiStory
Kembali Wahyu melontarkan kalimat, yang kali ini sedikit membuat om goyah, akan mengajak Wahyu atau jangan.
Brii @BriiStory
Memang, wilayah hutan sebelah barat jauh lebih rindang dan sepi dari pada wilayah lainnya, karna itulah jarang ada orang yang melintas, banyak yang lebih memilih jalur lain walau harus memutar lebih jauh.
Brii @BriiStory
Tapi melihat kondisi Wahyu yang masih kelihatan lemas, om membulatkan tekad untuk tetap berangkat sendirian. "Gak apa-apa Yu, saya sendiri aja, toh nanti jam sembilan sudah pulang lagi." Percakapan selesai, om langsung ke luar rumah dan menyalakan mesin motor.
Brii @BriiStory
Jam lima sore, matahari sudah terlihat malas menebar cahayanya, dia memilih untuk mulai bersandar di ufuk barat, tetapi sinar kuningnya tetap masih menembus sela-sela pepohonan karet.
Brii @BriiStory
"Saya jalan dulu Yu, kamu jangan ke mana-mana ya." "Baik pak, hati-hati di jalan." Setelah berpamitan, om berangkat. ***
Brii @BriiStory
Menelusuri jalan setapak, menembus perkebunan karet, om memacu motor dengan kecepatan sedang, gak terlalu cepat tapi gak lambat juga.
Brii @BriiStory
Angin mulai terasa lebih sejuk, karena sore sudah semakin mendekati malam, beberapa kali om harus menutup wajah karna beberapa kali binatang kecil beterbangan menghalangi jalan. pic.twitter.com/fWBTihlVS7
Expand pic
Brii @BriiStory
Seingat om, baru dua atau tiga kali melalui jalan ini, itu pun berboncengan dengan Wahyu. Sedikit lupa, membuat om harus berhenti berapa kali ketika jalan setapak bercabang dua, om harus berpikir sejenak untuk memilih salah satunya.
Brii @BriiStory
Awalnya, ketika menemui jalan bercabang, om masih yakin dengan jalur yang dipilih, tapi lama kelamaan mulai ragu, karna yang om ingat jalan yang ditempuh seharusnya lebih banyak menanjak, ini malah selalu turun.
Brii @BriiStory
Apa lagi ketika sudah melewati wilayah perkebunan karet dan mulai memasuki hutan rindang, semakin ragu. Sekali lagi om melirik arloji, masih jam enam kurang sepuluh menit.
Brii @BriiStory
Suasana semakin remang, sepertinya sebentar lagi akan gelap dan masuk waktu maghrib. Om menyalakan lampu motor untuk membantu penglihatan, sambil terus menyusuri jalan hutan yang semakin lebat pepohonannya.
Brii @BriiStory
Berbeda dengan ketika di awal perjalanan tadi, om mulai merasa asing dengan suasananya, sepertinya om belum pernah melalui jalur itu, sama sekali gak kenal wilayahnya. Belum ada perasaan takut atau was-was, om tetap melanjutkan perjalanan..
Load Remaining (117)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.