2
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
Banyak mahasiswa semester akhir - atau yang baru lulus S1 - berpikir untuk melanjutkan studi S2. Kebanyakan berharap pula untuk mendapatkan beasiswa. Ada yang juga sedang terpikir tentang hal ini? A thread
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
1. Melanjutkan pendidikan ke tingkat S2 menjadi keinginan banyak mahasiswa/lulusan S1. Tiap semester, ada saja mahasiswa atau lulusan S1 yang mendatangi saya dan menyatakan minat mereka untuk lanjut S2. Alasannya macam2.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
2. Ada yg beralasan bahwa gelar S2 itu bergengsi, bisa memberikan peluang kerja lebih baik, atau utk melengkapi ilmu yg diraih di studi S1. Tp banyak juga yg S2 karena tidak punya rencana karir yg jelas setelah lulus S1. Istilahnya, ambil S2 cuma pelarian. Daripada nganggur.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
3. Tiap kali saya dimintai pendapat ttg rencana menempuh S2, pertanyaan saya yg pertama selalu "Mau biaya sendiri atau beasiswa?" Kalau mau apply beasiswa, saya akan bertanya lg "Emang benar2 BUTUH? Benar2 KOMITMEN?" Ini pertanyaan penting yg justru tdk dipahami banyak orang.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
4. Pada umumnya, lowongan pekerjaan di Indonesia ditawarkan bagi lulusan S1. Artinya, ijazah S1 sebetulnya cukup utk memulai karir di perusahaan ternama sekalipun, kecuali mau melamar menjadi dosen yg memang menuntut kualifikasi minimal lulusan S2. Kerja TIDAK HARUS bergelar S2.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
5. Jadi, kalau memang ingin lanjut S2 setelah lulus S1, perencanaan harus matang, tujuan hidup jelas, manfaat yg mau diraih dr studi S2 juga harus jelas, supaya kalkulasi cost-benefit lanjut S2 bisa dipertimbangkan. Jangan "yg penting S2 dulu, buat apa gelarnya dipikir ntar aja!"
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
6. Bila sudah yakin mau S2 dan punya dana sendiri, begitu lulus S1 bisa langsung merencanakan studi S2. Apalagi bila menempuh S2 di Indonesia, asal punya duit & lolos seleksi, prosesnya cepat. Dalam waktu paling telat 1 tahun sejak lulus S1, bisa langsung mulai studi S2.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
7. Bila berniat menempuh S2 dgn biaya sendiri, pilihan studi juga lebih bebas. Lulusan S1 arsitek mau S2 manajemen, atau lulusan S1 komunikasi mau S2 teknik industri, boleh! Mau kuliah S2 marketing di Pakistan atau S2 arsitek di Sudan, bebas! Kan duit kita sendiri.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
8. Berbeda bila mau S2 dengan beasiswa. Ada banyak hal yg perlu disiapkan; mulai dr IPK, CV, skor TPA, form aplikasi, dll. Jadi, butuh waktu. Pun pilihan studi S2 tidak terlalu bebas, tergantung aturan dari pengelola beasiswa.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
9. Program beasiswa biasanya meminta pelamar untuk mengisi formulir pendaftaran & menyusun essay ttg tujuan hidup, kontribusi utk masyarakat, dll. Ini yang sulit! Banyak yg anggap formulir dan essay ini formalitas belaka. Yang penting diisi dgn kata2 indah berbunga. Ini SALAH!
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
10. Formulir dan essay itu adalah kesempatan yg diberikan kpd kita utk menjelaskan ttg diri kita dgn lebih utuh; ttg karakter, kepribadian, visi hidup, kontribusi kita utk masyarakat, dll, yg belum tersampaikan di CV. Jadi, bukan formalitas! Formulir & essay ini faktor penting!
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
11. Karena formulir dan essay berperan sangat penting dlm seleksi beasiswa, mengisinya pasti butuh waktu. Nggak boleh asal diisi. Rata2 mahasiswa2 dan teman2 yg saya bimbing (yg diterima beasiswanya) butuh waktu 7-8 bulan hanya utk isi formulir dan menyusun essay.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
12. Karena itulah, tadi saya tanya "emang butuh S2?" Kalau memang butuh, pasti serius dibela-belain persiapannya. Saya baru menganggap seseorang serius mau apply beasiswa S2 LN kalau sudah punya skor IELTS minimal 6,5 atau skor Toefl Internasional minimal setara 550.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
13. Lanjut S2 dgn beasiswa juga butuh waktu utk tahu hasilnya; sukses atau gagal. Umumnya, seleksi butuh waktu kira2 3-4 bulan. Kalau sukses, butuh beberapa bulan lagi utk mulai studi. Kalau gagal seleksi dan mau coba lagi, tentu butuh waktu ekstra. Ini harus diperhitungkan!
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
14. Bisa jadi, saat teman2 yg S2 dgn biaya sendiri sdh lulus, teman2 yg berkarir sdh punya posisi yg lumayan di pekerjaan, kita baru mulai studi. Dan ketika kita baru lulus S2, teman2 seangkatan sudah bekerja 3-4 tahun. Selisih 3-4 tahun ini harus dipikirkan!
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
15. Selisih 3-4 tahun ini harus dipikirkan karena ini investasi waktu. Kita perlu mempertimbangkan "cost-benefit" atas investasi waktu tsb. Apakah dgn gelar S2, kita bisa mendapat pekerjaan (dgn posisi dan gaji) yg lebih baik drpd teman yg langsung kerja setelah lulus S1?
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
16. Pilihan studi juga tdk bebas bila menempuh S2 dgn beasiswa. Ada beberapa program studi & negara tujuan yang diprioritaskan program beasiswa tertentu. Kalau pilihan studi kita tdk masuk prioritas, ya kita harus ganti, kalau tidak bisa2 kita ditolak. Sebagus apapun IPK kita.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
17. Jadi, melamar beasiswa S2 butuh komitmen waktu utk siapkan kelengkapan, butuh investasi uang tenaga pikiran dan dana yg cukup, serta mungkin butuh kompromi utk pilihan studi. Jadi, jangan berpikir meraih beasiswa studi lanjut itu gampang. Butuh effort & komitmen kuat!
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
18. Kalau kita sdh paham semua konsekuensi di atas, baru kita bisa pikirkan & putuskan apakah sebaiknya kita langsung lanjut apply beasiswa S2 atau kerja dulu selepas S1. Misal, punya duit nggak utk tes IELTS atau Toefl Internasional? Butuh kursus atau bisa belajar sendiri?
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
19. Kalau memang nggak terlalu butuh gelar S2, dan keuntungan yg diraih dari studi S2 tidak sepadan dgn investasi yg perlu ditanamkan, ya nggak perlu S2. Langsung kerja saja setelah lulus S1. Ingat, jangan pernah berpikir utk studi S2 krn gengsi. Gak sepadan dgn perjuangannya!
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
20. Kalau setelah bekerja kita memang merasa butuh studi lanjut utk mendongkrak karir, kita bisa putuskan utk menempuh S2. Ini malah lebih bagus krn alasan utk S2 jelas. Ada beasiswa S2 yg menuntut kita punya pengalaman kerja. Jadi S2 bisa terarah utk pengembangan karir.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
21. Pernah ada yg nanya "Pak, saya mau S2 ke luar negeri, tapi saya mau yg gelarnya unik, ada gak ya? Kalau gelarnya MSi atau MM kan sudah banyak. Saya nggak suka" Saya jawab "kamu mau yg gelarnya ALM. atau RIP?" Lha, mau belajar atau mau nyari nama panggung buat mentas?
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
22. Poin thread ini bukan mendorong lulusan S1 utk tidak menempuh studi S2, tapi menyadarkan bhw melanjutkan S2 (apalagi dgn beasiswa) bukanlah pilihan yg mudah. Perlu komitmen & investasi. Gelar S1 bisa digunakan utk mulai berkarir. Gelar S2 tdk menjamin dapat pekerjaan bagus.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
23. Terlepas apakah dgn atau tanpa beasiswa, memilih lanjut S2 harus dgn pertimbangan matang & tujuan hidup yg jelas. Studi S2 itu masuknya butuh persiapan, kuliahnya butuh perjuangan. Sayang bila digunakan utk sekedar pelarian "daripada nganggur", atau cuma utk meraih gengsi.
Sony Kusumasondjaja @KusumasondjajaS
24. Pada akhirnya, GELAR S2 itu sendiri tidak dapat banyak berperan membantu keberhasilan karir kita. Dalam banyak situasi, kinerja di pekerjaan seringkali tidak terkait dgn gelar pendidikan yg kita miliki. (end)
Load Remaining (66)
Login and hide ads.