Lebaran Baru Saja Usai, tapi kok Julid-Julidnya kembali lagi ya

politik tidak ada yang abadi, sekarang jadi kawan nanti bisa jadi lawan, begitu juga sebaliknya, yang tadinya lawan, besok bisa jadi kawan.
0

Aktifitas liburan lebaran telah usai. Agenda politik paska pemilu Presiden masih saja berdengung hingga hari ini. Yang anehnya, Cuma partai Demokrat yang selalu diserang dan selalu jadi perhatian para koalisi maupun lawan.

Terlebih, semakin akrabnya sang ketua Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama kubu capres terpilih Joko Widodo-Ma'aruf Amin.

Nyinyir salah satunya. Serangan berupa fitnah dan cacian selalu disampaikan para elit politik yang berada di kubu koalisi. Ya, partai PKS dan Gerindra begitu nafsu menyindir putra sulung SBY tersebut.

Kok aneh rasanya. Jika suasana lebaran masih dirasakan rasa permusuhan. Tak lain karena kedengkian atau iri atas kedekatan AHY terhadap kubu penguasa. Itulah hebatnya mantan mayor infanteri tersebut. Jago dalam olah komunikasi lewat silaturahmi. Atau bahasa lainnya rekonsiliasi terhadap lawan politik.

Tujuannya cuma satu, yaitu tanah air tetap bersatu. Tak ada kubu- kubuan paska pemilu serentak April lalu. Jadi apa salahnya jika AHY rajut kesatuan dengan mengunjungi istana untuk kesekian kalinya. Padahal, suami Anisa Pohan tersebut sudah sering menegaskan tidak ada pembahasan soal bagi-bagi kursi cabinet.

Pembaca tentu memiliki analisa tersendiri atas kedekatan AHY dengan para tokoh Negara. Seperti Jokowi, beliau merupakan kepala Negara yang care atau peduli atas keluarga AHY.

Masih ingat di kepala kita saat Ibu Ani Yudhoyono dirawat di Rumah Sakit Singapura beberapa waktu lalu. Sebagai warga Negara yang baik tentu kakak kandung Edhi Baskoro Yudhoyono ini memiliki perasaan sungkan atas perhatian Jokowi terhadap keluarganya. Ditambah dengan suasana open house di hari lebaran. Tak ada yang salah bukan?

Terus apa juga yang dinyinyirkan para elit politik yang seharusnya mengikuti cara AHY terhadap lawan politik paska Ramadan. Kemudian, disaat Ibu Ani disemayamkan, dan dikebumikan lawan politik sang ayah pun (SBY), seperti Megawati hadir di taman makan pahlawan, Kalibata, Jakarta.

Tentu menambah rasa kemanusian keluarga SBY terhadap lawan politiknya yang begitu peka terhadap rasa duka kehilangan keluarga yang sangat disayang dan dicinta. Sudahlah, orang-orang julid akan capek pada waktunya.

Oleh sebab itu, saya mengajak pembaca sekalian untuk selalu berpikir positif lah kepada SBY, AHY dan Demokrat. Karena dipolitik tidak ada yang abadi, sekarang jadi kawan nanti bisa jadi lawan, begitu juga sebaliknya, yang tadinya lawan, besok bisa jadi kawan.

https://www.kompasiana.com/vidiaimanudin/5cfdd73ac01a4c246430fe07/lebaran-baru-saja-usai-tapi-kenapa-kembali-jadi-julid

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.