0
David Lipson @davidlipson
Fellow Indonesia journalists: There is a document from @amnestyindo and @AJIIndonesia stating ABC crew was intimidated by police. This is wrong and now being corrected. Our crew was attacked by protesters but not police. Everyone is ok, thanks to a soldier who stepped in.
David Lipson @davidlipson
Police did try to stop us filming some protesters being arrested, who looked like they'd been beaten up. But there was no threat or anything too physical. (We shot it anyway)
David Lipson @davidlipson
Also worth adding that this was an honest mistake by @amnestyindo and @AJIIndonesia - Please don't turn this into a conspiracy theory
David Lipson @davidlipson
FYI: this TV story has some footage of what happened to the ABC crew facebook.com/davidlipsonabc…
🇮🇩#JokowiAmin🇮🇩 @ronalmarbun3
@davidlipson @amnestyindo @AJIIndonesia @davidlipson thank you for this tweet sir...too many HOAX made by opposition and their supporters here.. Thats why we spread out #ThankYouPOLRI and we stand for our President @jokowi and Police.😊 Cc: @DivHumas_Polri @CCICPolri
Aldie @el_kaezzar
David adl jurnalis ABC, ia klarifikasi rilis dr @amnestyindo @AJIIndonesia yg menyatakan ada intimidasi ke kru ABC dr polisi. Ini salah. Yg menyerang adl demonstran. Rilis lalu diperbaiki. Ketidaksengajaan ini ia harap ga dibawa konspirasi. #ThankYouPOLRI #TangkapDalangKerusuhan twitter.com/davidlipson/st…
🄺🄴🄽 🄽🄳🄰🅁🅄 @kenndaru
Pelajaran ni buat aktivis se-Indonesia. Cek and ricek gak cuma berlaku buat awam; buat kalian juga berlaku. twitter.com/davidlipson/st…
ini lina 🕊 @lookslina
@kenndaru Lhah, kok malah journalist asing yang memberikan klarifikasi, journalist Ind yang gabung di aji apa kabarnya?
🄺🄴🄽 🄽🄳🄰🅁🅄 @kenndaru
@lookslina Apalagi jurnalis, yg punya kewajiban utk cek dan ricek... lha kok ga ricek ke ABC?
Catastrographer @catastrographer
Wah ga malu tuh yg bikin hoax bahwa 'Jurnalis ABC diserang sama polisi' pas #JakartaRiot #22Mei2019 ??? NIH ADA KLARIFIKASI DARI PIHAK ABC, YANG NYERANG JURNALIS ABC ADALAH PERUSUH/PENDEMO BUKAN POLISI YANG JAGA!!!!! twitter.com/davidlipson/st…
Zara @zarazettirazr
@davidlipson Did you got intimidated by a cops too that you need to make corrections?

Rilis dari AJI Indonesia yang sudah diperbaharui

Berdasarkan verifikasi tim Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, setidaknya hingga saat ini terdapat tujuh jurnalis yang mengalami kekerasan, intimidasi dan persekusi dalam aksi 22 Mei 2019.

Jurnalis yang menjadi korban kekerasan saat meliput aksi unjuk rasa berujung kerusuhan pada 21-22 Mei, makin bertambah. Data sementara yang dicatat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta ada 20 jurnalis dari berbagai media yang menjadi korban.

Kasus kekerasan tersebut terjadi di beberapa titik kerusuhan di Jakarta, yaitu di kawasan Thamrin, Petamburan, dan Slipi Jaya, Jakarta. Pihak kepolisian dan massa aksi diduga menjadi pelaku kekerasan tersebut.

Kekerasan yang dialami jurnalis berupa pemukulan, penamparan, intimidasi, persekusi, ancaman, perampasan alat kerja jurnalistik, penghalangan liputan, penghapusan video dan foto hasil liputan, pelemparan batu, hingga pembakaran motor milik jurnalis.

Mayoritas kasus kekerasan itu terjadi saat para jurnalis meliput aksi unjuk rasa di sekitar Gedung Bawaslu, di kawasan Thamrin. Beberapa kasus di antaranya, aparat kepolisian melarang jurnalis merekam aksi penangkapan orang-orang yang diduga sebagai provokator massa.

Para jurnalis tetap mengalami kekerasan meskipun mereka sudah menunjukkan identitasnya, seperti kartu pers kepada aparat. Aparat menunjukkan sikap tak menghargai kerja jurnalis yang pada dasarnya telah dijamin dan dilindungi oleh UU Pers.

Sampai saat ini AJI Jakarta masih mengumpulkan data dan verifikasi para jurnalis yang menjadi korban. Tak menutup kemungkinan, masih banyak jurnalis lainnya yang menjadi korban, dan belum melapor.

Berikut ini data yang dicatat AJI Jakarta terkait kasus kekerasan terhadap jurnalis.

Budi, kontributor CNN Indonesia TV, mengalami kekerasan fisik, perampasan alat kerja dan penghalangan liputan oleh aparat Polisi. Intan dan Rahajeng, jurnalis RTV, mengalami persekusi oleh massa aksi.

Draen, jurnalis Gatra, mengalami kekerasan fisik dan diusir oleh polisi. Felix, jurnalis Tirto, dihalangi saat liputan. Dwi, jurnalis Tribun Jakarta, mengalami kekerasan tidak langsung, kepala bocor terkena lemparan batu massa aksi.

Ryan, jurnalis CNNIndonesia.com, mengalami kekerasan fisik, perampasan alat kerja dan penghalangan liputan oleh aparat Polisi. Seorang reporter lainnya dari CNNIndonesia.com juga mengalami penghalangan peliputan dan perampasan paksa alat kerja oleh Polisi.

Ryan, jurnalis MNC Media, alat kerjanya dirampas oleh massa aksi. Fajar, jurnalis Radio MNC Trijaya, mengalami kekerasan fisik, penghapusan karya jurnalistik dan penghalangan liputan oleh aparat Polisi.

Fadli, jurnalis Alinea.id, mengalami kekerasan fisik dan penghalangan liputan. Fahreza, jurnalis Okezone.com, mengalami perusakan alat kerja/motor oleh massa aksi. Putera, jurnalis Okezone.com, mengalami perusakan motor oleh aparat.

Aji, jurnalis INews TV, mengalami kekerasan fisik dan diusir oleh aparat Kepolisian. Setya, jurnalis TV One, mengalami kekerasan fisik dan penghalangan liputan oleh aparat Polisi. Ario, VJ Net TV, mengalami perusakan alat kerja/motor dibakar.

Yuniadhi, fotografer Kompas, motornya dirusak. Topan, fotografer Tempo, mengalami kekerasan tidak langsung, matanya kena serpihan dari bom molotov massa aksi.

Niniek, jurnalis AP, mengalami persekusi online (doxing). Seorang kru ABC News mengalami intimidasi oleh massa ( dalam rilis sebelumnya tertulis diintimidasi polisi).

Kasus kali ini merupakan kasus kekerasan terhadap jurnalis yang terburuk sejak reformasi.

Atas tindakan itu, AJI Jakarta dan LBH Pers mengecam keras aksi kekerasan dan upaya penghalangan kerja jurnalis yang dilakukan oleh aparat kepolisian maupun massa aksi.

Kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis saat meliput peristiwa kerusuhan bisa dikategorikan sebagai sensor terhadap produk jurnalistik. Perbuatan itu termasuk pelanggaran pidana yang diatur dalam Pasal 18 UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Setiap orang yang menghalangi kebebasan pers diancam penjara maksimal dua tahun, dan denda maksimal Rp500 juta.

Kami mendesak aparat keamanan dan masyarakat untuk menghormati dan mendukung iklim kemerdekaan pers, tanpa ada intimidasi serta menghalangi kerja jurnalis di lapangan.

Kami juga mengimbau kepada para pimpinan media massa untuk bertanggung jawab menjaga dan mengutamakan keselamatan jurnalisnya.

Atas peristiwa tersebut AJI Jakarta dan LBH Pers menyatakan dan menyerukan:

  1. Mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis, baik oleh polisi maupun kelompok warga.

  2. Mengimbau kepada para pemimpin media untuk bertanggung jawab atas keselamatan jurnalis saat bertugas di lapangan. Memberikan pembekalan pengetahuan Safety Journalist dan penanganan trauma yang terjadi selama peliputan.

  3. Mengimbau para jurnalis yang meliput aksi massa untuk mengutamakan keselamatan dengan menjaga jarak saat terjadi kerusuhan.

Jakarta, 27 Mei 2019

Asnil Bambani Amri, (Ketua AJI Jakarta) 081374439365
Erick Tanjung (Ketua Divisi Advokasi AJI Jakarta) 08118109277
Ade Wahyudin (Direktur Eksekutif LBH Pers) ‭+62 857 73238190

URL Aliansi Jurnalis Independen Usut Tuntas Kasus Kekerasan 20 Jurnalis Saat Meliput Aksi 22 Mei Berdasarkan verifikasi tim Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, setidaknya hingga saat ini terdapat tujuh jurnalis yang mengalami kekerasan, intimidasi dan persekusi dalam aksi 22 Mei 2019.

Comment

phamyen @phamyen92145781 29/05/2019 15:29:13 WIB
I would like to thank you for the efforts you have made in writing this article.I would like to thank you for the efforts you have made in writing this article. http://catmario4.com/
Login and hide ads.