Prabowo Khianati Pendukungnya Sendiri Jika benar Minta Jatah Mentri

Begitulah politik. Segala hal selalu dilandasi dengan kepentingan. Tidak akan ada teman atau lawan abadi.
1

Perlawanan yang dikobarkan Partai Gerindra menyikapi hasil Pilpres 2019, sepertinya bakal berakhir dengan kompromi. Partai besutan Prabowo Subianto ini konon sudah bernegosiasi dengan kubu Joko Widodo. Mereka meminta jatah lima kursi menteri sebagai imbalan 'uang duka'. Jika permintaan itu dikabulkan, mereka akan menerima kekalahan dan menghentikan sikap perlawanan.

Ini jelas sebuah sikap pengkhianatan. Ketika pendukungnya sudah berdarah-darah karena turun ke jalan, bahkan sudah ada delapan orang meninggal dan 737 orang luka-luka, para elite politik oposisi ini justru lebih mementingkan jabatan pribadi. Mereka mengkhianati dukungan tulus tanpa pamrih pendukungnya, demi hasrat berkuasa di lingkaran istana.

Meski, sejak awal saya juga tidak membenarkan aksi massa pendukung Prabowo-Sandi ini untuk menggelar aksi 'people power'. Apalagi aksi itu berujung anarkistis sehingga menelan korban jiwa. Sebab, satu-satunya jalan terbaik hanyalah dengan melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Andai kubu oposisi benar-benar memiliki bukti kecurangan, seharusnya mereka tidak perlu khawatir untuk mengikuti persidangan.

Kecuali, klaim bahwa mereka memiliki bukti itu hanya sekedar omongan belaka. Wajar saja jika mereka enggan membawa sengketa ini ke MK, karena gugatannya bakal ditolak juga. Seperti laporan mereka ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) beberapa waktu lalu. Pengaduan mereka ditolak lantaran bukti-bukti yang dilamporkan cuma berita link-link berita soal dugaan kecurangan. Kan konyol itu namanya?

Namun, apa lacur, nasi sudah jadi bubur. Pendukung oposisi, yang sebelumnya diprovokasi elite politik untuk menjalankan aksi 'kedaulatan rakyat', sudah turun ke jalanan. Selama dua hari, kondisi pusat Ibu Kota mencekam. Sepanjang hari hingga malam rakyat bentrok dengan aparat keamanan. Korban pun berjatuhan. Elite politik yang hanya menonton dari layar televisi, kian menambah panas situasi, dengan mengeluarkan statement-statement provokasi, salah satunya, ada tokoh yang mengecam aksi polisi yang ia sebut mirip kelakuan PKI.

Di tengah kekisruhan ini, rupanya pihak yang mati-matian dibela, mencoba menangguk di air keruh. Sebuah sumber internal yang kemudian juga viral di media sosial menyebutkan bahwa pertemuan Prabowo dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pada Kamis 23 Mei 2019 kemarin. Dalam pertemuan itu disebut ada permintaan dari Prabowo agar pihaknya legowo menerima hasil pilpres. Tidak tanggung-tanggung, ia meminta jatah lima kursi menteri.

Secara tersirat, hal tersebut juga sudah dikonfirmasi oleh Cawapres Ma'ruf Amin. Ia menyebut sudah ada negosiasi dengan kubu oposisi, dan untuk saat ini pihaknya tengah mengupayakan pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo. Meski rencana pertemuan itu dibalut dengan upaya rekonsiliasi, tapi tetap saja, kecurigaan publik bahwa bakal ada upaya transaksi dan kompromi.

Begitulah politik. Segala hal selalu dilandasi dengan kepentingan. Tidak akan ada teman atau lawan abadi. Mereka bisa saja bersepakat jika semua mendapat imbalan yang setimpal. Tetap saja pada akhirnya, rakyatlah yang menjadi korban. Sudah mati-matian mendukung, hingga ada yang kehilangan nyawa, tapi rupanya para elite lebih mementingkan harta dan kuasa.

Link asli
https://www.kompasiana.com/terejana/5ce7ac033ba7f71a9e52fcc5/jika-benar-minta-kursi-menteri-gerindra-sudah-khianati-pendukung-sendiri

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.