1
Fachry Ali @fbajri

I'm a blogger who often discusses things about the internet.

https://t.co/JcmO5rY5pc
Fachry Ali @fbajri
Kenapa cuma Whatsapp, Facebook dan Instagram yang "dibatasi" oleh pemerintah? Menurut gue pertimbangannya ada beberapa hal, mulai dari literasi digital, algoritma, sampai alasan ekonomis. Gue coba jelasin sudut pandang gue akan hal ini. pic.twitter.com/pNUd3WTpyE
Expand pic
Fachry Ali @fbajri
Sebelum pembatasan ini dilakukan, selama ini kita udah tau kalo Facebook dan Whatsapp dua media yang penyebaran hoax-nya paling cepat. Tapi kenapa Instagram juga? Gue punya pendapat soal ini, tapi coba gue bahas soal alasan-alasan mendasar di-tweet pertama.
Fachry Ali @fbajri
Alasan pertama menurut gue karena LITERASI DIGITAL. Masih banyak masyarakat Indonesia yang literasi digitalnya rendah. Literasi digital ini ada kaitannya dengan literasi baca, keduanya masih sama-sama rendah.
Fachry Ali @fbajri
Yang dimaksud literasi digital bukan cuma menggunakan sosial medianya aja, tapi juga paham konteks, mau mencari pendapat lain dan sebagainya dari apa yang mereka lihat di sosial media. Bukan "ditelan mentah-mentah". Tapi sayangnya, masih banyak yang begini.
Fachry Ali @fbajri
Bahkan @kemkominfo udah sempat bilang ini dari jauh-jauh hari. Hubungan penyebaran hoax dan literasi digital. "Rendahnya literasi digital jadi penyebab penyebaran berita hoax" kominfo.go.id/content/detail…
Fachry Ali @fbajri
Pengguna internet dengan literasi digital yang rendah bisa jadi "bahaya" di situasi genting seperti kemarin. Mereka bisa lihat screenshot berita hoax, sebar link berita hoax, sebar video, foto dan sebagainya tanpa dipikir dua kali.
Fachry Ali @fbajri
Kalo hoax itu tersebar secara cepat dan masif, dikhawatirkan masyarakat di daerah lain juga akan ikut "kepancing" tanpa tau fakta yang sebenarnya dan tanpa verifikasi kebenaran apa yang mereka lihat di sosial media. Pemerintah udah belajar banyak dari pengalaman yang lalu.
Fachry Ali @fbajri
Alasan kedua menurut gue adalah: ALGORITMA. Ini berlaku untuk Facebook. Saat ini Facebook aja masih sibuk "berbenah" soal algoritma mereka yang cenderung mempercepat dan mempermudah penyebaran hoax. Berita ini baru aja April 2019 kemarin: wired.com/story/facebook…
Fachry Ali @fbajri
Algoritma Facebook yang belum "matang" ini bisa memperparah penyebaran, dan pemerintah gak mungkin nunggu Facebook. Terlalu lama dan dalam situasi genting butuh solusi yang praktis. Walhasil Facebook "dibatasi".
Fachry Ali @fbajri
Alasan ketiga menurut gue adalah: EKONOMIS. Kenapa ekonomis? Karena seperti yang kita tau kalo Facebook ada "mode gratis" yang bisa kita gunain. Buat beberapa provider. Gratis emang bagus sih.. Tapi setiap yang gratis, pasti "rame". Udah gratis, bisa buat sebarin hoax pula. 😌
Fachry Ali @fbajri
Alasan-alasan dasar tadi udah gue bahas di atas, tapi mungkin masih bingung, kenapa Instagram kena imbasnya? Menurut gue adalah karena Instagram punya algoritma yang mirip Facebook dan kontennya visual. Semakin visual suatu media sosial, semakin menarik dan memancing emosi.
Fachry Ali @fbajri
Menarik bukan selalu berarti suka, mungkin hanya penasaran sama isinya aja. Tapi yang pasti dalam keadaan genting seperti kemarin, foto atau video yang di-share bisa dengan mudah "mancing" emosi. Dan yang ditakutkan adalah (mungkin) daerah lainnya akan tersulut.
Fachry Ali @fbajri
Secara ekonomi memang hal ini gak bagus, Berdampak ke banyak orang. Karena tiga media sosial ini yang paling familiar digunakan orang buat aktifitas dagang. Yang mungkin bisa bikin sedikit lega adalah jalur komunikasi gak diputus, hanya dibatasi.
Fachry Ali @fbajri
VPN, Tor dan sebagainya gue yakin pemerintah tau kok. Tau juga kayaknya banyak yang akan beralih ke solusi itu. Tapi gak terlalu khawatir (mungkin) karena hal-hal semacam ini kurang dipahami sama masyarakat yang literasi digital nya masih rendah.
Fachry Ali @fbajri
Mungkin "bagian atas" bisa kirim instruksi, tapi "bagian bawah" kesulitan nerima instruksi. 😅
Fachry Ali @fbajri
Sebetulnya gue punya pertanyaan juga ke @kemkominfo yang ambil tindakan itu segera. Artinya selama ini mereka sudah memantau dong?
Kementerian Kominfo @kemkominfo
5.Kementerian Kominfo terus melakukan pemantauan dan pencarian situs, konten dan akun dengan menggunakan mesin AIS dengan dukungan 100 anggota verifikator. Selain itu, Kementerian Kominfo juga bekerja sama dengan Polri untuk menelusuri dan mengidentifikasi akun-akun yang..
Fachry Ali @fbajri
Tertarik juga sama tweet ini tentang AIS tapi gak dijabarin mendetail seperti apa dan sejauh apa menghargai hak privasi pengguna internet. twitter.com/kemkominfo/sta…
Fachry Ali @fbajri
Karena setau gue AIS itu singkatan dari Artificial Intelligence System (AIS). Tapi kurang detail penjelasannya. Iya masa genting boleh digunakan mencegah hal-hal semacam kemarin, tapi kalo lagi "aman" digunakan buat apa? en.wikipedia.org/wiki/Artificia…
Naya @nay21314
@fbajri @aMrazing Krn ketiga medsos itu berada dlm satu holding dan banyak yg pake buat share berita hoax. Sekalian dibatasi aja ketiganya.
Hardyin Alexander Hutapea @hardlexander
@fbajri Padahal sesederhana karena mereka bertiga di bawah satu perusahaan hehehe.
Efan Ferdianto @efanferd
@fbajri Selain ngeblok, menurut saya pemerintah harus aktif beriklan di sosmed untuk sosialisasi agar bisa menjangkau semua elemen masyarakat. Kalau bisa minta slot iklan gratis ke fb.
Avi @avimuhimmatul
@fbajri Kalo instagram bisa dikaitkan dengan penyebaran hoax lewat visual. Bagaimana dengan twitter dan youtube kak?
Load Remaining (1)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.