PT 20% Pemicu Konflik Berdarah Dan Polarisasi Rakyat. siapa yang salah??

Demokrasi memang tidak sederhana, tetapi kita telah bersetuju memilihnya untuk membangun bangsa ini.
0

Semua kekhawatiran yang dulu pernah disuarakan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tentang potensi terciptanya konflik akibat pemberlakuan presidential threshold (PT), rupanya kini menjadi kenyataan. Saat ini, sebagian rakyat tengah berhadap-hadapan dengan aparat keamanan, imbas dari polarisasi yang sudah kian menajam. Situasi Ibu Kota sudah buncah, darah telah tertumpah, semua itu hanya karena ambisi berkuasa elite politik yang tak peduli bangsa ini terbelah.

Saat memberikan orasi politik di Djakarta Theater pada awal tahun lalu, AHY sudah mengingatkan akan bahaya PT atau ambang batas partai politik dan gabungan partai politik dalam mencalonkan presiden dan wakil presiden sebesar 20 persen. Bagi dia, PT 20 persen itu berpotensi membelah bangsa karena terbatasnya pilihan calon pemimpin.

Sebagaimana kita tahu, sejak Pilpres 2014 silam, bangsa ini masih terpolarisasi menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Pendukung pemerintah dan oposisi. Pertikaian kedua kubu ini barang tentu akan semakin memanas jika mereka harus kembali berhadapan dalam perebutan kekuasaan di 2019. Dan, memang, itulah yang terjadi saat sekarang.

Sudah enam korban tewas karena pendukung oposisi tidak menerima hasil pemilu yang memenangkan petahana. Jika jujur melihat, penolakan mereka bukan hanya sekedar karena alasan kecurangan yang diduga telah dilakukan. Melainkan juga karena mereka memang sudah tidak menghendaki lawan politiknya untuk kembali berkuasa di periode kedua.

Inilah imbas dari polarisasi yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini. Perbedaan pandangan dan pilihan politik, seringkali membuat rakyat berdebat kusir, membela pilihannya masing-masing secara subjektif dan membabi-buta. Kita tidak lagi mau mendengar dan melihat secara jernih dan jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Memang sudah lama kita bertengkar, saling mengutuk dan menyumpahi. Itu membuat kita tak lagi bangga kepada negeri ini. Indonesia yang dulu dipuja Bung Karno sebagai 'Ibu Pertiwi', seakan sudah kehilangan keagungannya. Itu semua terjadi karena tabiat para politisi yang brengsek. Mereka hanya peduli dengan kekuasaan, sementara rakyat dibiarkan saling 'bunuh-bunuhan'.

Kita menjadi saling membenci, karena elite politik yang terus saja bertikai. Pada puncaknya, semua kalangan menjadikan ajang perhelatan demokrasi ini sebagai saranan memaksakan keyakinan dan pilihan politik mereka masing-masing. Kondisi ini yang menyebabkan konflik berdarah antar anak bangsa akhirnya tercipta.

Karena itu, hendaknya kita semua bisa menghentikan pertikaian ini dengan segera. Jangan lagi ada darah yang tumpah hanya karena rebutan kursi presiden yang sifatnya cuma sementara. Kita mesti saling intropeksi diri dan memulai rekonsiliasi. Beberapa waktu lalu, AHY juga menyerukan hal ini. Ia meminta agar rakyat kembali bergandengan tangan dan melakukan rekonsiliasi nasional.

Demokrasi memang tidak sederhana, tetapi kita telah bersetuju memilihnya untuk membangun bangsa ini. Maka, tak ada pilihan lain kecuali kita harus belajar keras memahami makna ajaran itu. Termasuk belajar berpolitik dengan baik, tanpa memakai kekerasan dan kecurangan dalam memperebutkan kekuasaan.

Login and hide ads.