0
Hara Syifa @harasyifaaa
Semua kekhawatiran yang dulu pernah disuarakan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tentang potensi terciptanya konflik akibat pemberlakuan presidential threshold (PT), rupanya kini menjadi kenyataan.
Hara Syifa @harasyifaaa
Situasi Ibu Kota sudah buncah, darah telah tertumpah, semua itu hanya karena ambisi berkuasa elite politik yang tak peduli bangsa ini terbelah. #JokowiMundurlah pic.twitter.com/OUPijf4Iu8
 Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Saat ini, sebagian rakyat tengah berhadap-hadapan dengan aparat keamanan, imbas dari polarisasi yang sudah kian menajam. pic.twitter.com/EKG0RZJsjL
 Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Saat memberikan orasi politik di Djakarta Theater pada awal tahun lalu, AHY sudah mengingatkan akan bahaya PT atau ambang batas partai politik dan gabungan partai politik dalam mencalonkan presiden dan wakil presiden sebesar 20 persen. #JokowiMundurlah pic.twitter.com/KfRqqTqQvD
 Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Bagi dia, PT 20 persen itu berpotensi membelah bangsa karena terbatasnya pilihan calon pemimpin. Sebagaimana kita tahu, sejak Pilpres 2014 silam, bangsa ini masih terpolarisasi menjadi dua kubu yang saling bertentangan. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Pendukung pemerintah dan oposisi. Pertikaian kedua kubu ini barang tentu akan semakin memanas jika mereka harus kembali berhadapan dalam perebutan kekuasaan di 2019. Dan, memang, itulah yang terjadi saat sekarang. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Sudah enam korban tewas karena pendukung oposisi tidak menerima hasil pemilu yang memenangkan petahana. Jika jujur melihat, penolakan mereka bukan hanya sekedar karena alasan kecurangan yang diduga telah dilakukan. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Melainkan juga karena mereka memang sudah tidak menghendaki lawan politiknya untuk kembali berkuasa di periode kedua. Inilah imbas dari polarisasi yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Perbedaan pandangan dan pilihan politik, seringkali membuat rakyat berdebat kusir, membela pilihannya masing-masing secara subjektif dan membabi-buta. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Kita tidak lagi mau mendengar dan melihat secara jernih dan jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi. Memang sudah lama kita bertengkar, saling mengutuk dan menyumpahi. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Itu membuat kita tak lagi bangga kepada negeri ini. Indonesia yang dulu dipuja Bung Karno sebagai 'Ibu Pertiwi', seakan sudah kehilangan keagungannya. Itu semua terjadi karena tabiat para politisi yang brengsek. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Mereka hanya peduli dengan kekuasaan, sementara rakyat dibiarkan saling 'bunuh-bunuhan'. Kita menjadi saling membenci, karena elite politik yang terus saja bertikai. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Pada puncaknya, semua kalangan menjadikan ajang perhelatan demokrasi ini sebagai saranan memaksakan keyakinan dan pilihan politik mereka masing-masing. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Kondisi ini yang menyebabkan konflik berdarah antar anak bangsa akhirnya tercipta. Karena itu, hendaknya kita semua bisa menghentikan pertikaian ini dengan segera. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Jangan lagi ada darah yang tumpah hanya karena rebutan kursi presiden yang sifatnya cuma sementara. Kita mesti saling intropeksi diri dan memulai rekonsiliasi. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Beberapa waktu lalu, AHY juga menyerukan hal ini. Ia meminta agar rakyat kembali bergandengan tangan dan melakukan rekonsiliasi nasional. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Demokrasi memang tidak sederhana, tetapi kita telah bersetuju memilihnya untuk membangun bangsa ini. Maka, tak ada pilihan lain kecuali kita harus belajar keras memahami makna ajaran itu. #JokowiMundurlah
Hara Syifa @harasyifaaa
Termasuk belajar berpolitik dengan baik, tanpa memakai kekerasan dan kecurangan dalam memperebutkan kekuasaan. #JokowiMundurlah
Login and hide ads.