Nasib Prabowo Dipermainkan Setan Gundul PKS

PKS dengan ambisi dan strateginya berhasil. Terbukti, dengan strategi politik identitas tersebut Prabowo banyak kehilangan dukungan
0

Dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, peran tetangga terkadang melebihi saudara kandung. Susah senang kita terkadang lebih banyak diketahui oleh tetangga ketimbang saudara-saudara kita yang berada jauh atau di rantau. Namun tak jarang, tetangga bisa menjadi penghancur kehidupan dan pergaulan kita dalam bermasyarakat karena sifat-sifat iri yang muncul.

Dalam kasus koalisi PKS-Gerindra, PKS merupakan ciri tetangga kedua, yaitu tetangga yang mempunyai sifat iri dan gemar bergunjing. PKS iri karena Gerindra yang lebih muda darinya bisa tumbuh menjadi partai yang besar dan disegani banyak pihak dengan sosok Prabowo-nya. PKS juga iri melihat kedekatan Gerindra dengan PAN. Meskipun PAN sering bermain dengan anak gang sebelah, tapi Gerindra tetap dekat dengannya.

PKS menilai, pergaulan PAN yang luaslah yang membuat Gerindra atau Prabowo masih bersahabat. Diam-diam PKS mencoba untuk membuka diri dengan dunia luar. Lambat laun PKS bergaul dengan anak-anak gang sebelah. Namun ada yang salah, PKS membuka diri dalam pergaulan bukan karena sifatnya yang luwes tapi karena ke-iri-dengkiannya terhadap PAN. Lambat laun, pergaulan PKS dengan anak gang sebelah lebih menjurus kepada ingin meninggalkan Gerindra dan Prabowo.

Keinginan PKS untuk tidak lagi bersama Prabowo pernah diungkapkan kader PKS garis keras, Fahri Hamzah. Bahkan untuk memuluskan langkah itu, Fahri yang kerap silang pendapat dengan niatan PKS itu dikeluarkan dari grup keluarga. Diketahui, sebelum penetapan calon capres-cawapres oleh KPU, petinggi PKS sempat bertemu Jokowi dua kali. Bahkan, semilir angin menyampaikan kabar bahwa PKS juga menawarkan calon wakil presiden kepada Jokowi untuk Pilpres 2019.

PKS menyadari, besarnya pengaruh parpol disekeliling Jokowi tidak akan mudah membuat PKS diterima begitu saja. Ia harus melakukan sebuah pembuktian diri untuk layak bisa diterima dalam pergaulan itu. Di sinilah malapetaka itu terjadi.

PKS mulai menggosok-gosok Prabowo. PKS meyakinkan Prabowo kalau anak-anak di gangnya harus lebih terpandang dari anak-anak gang sebelah. PKS meyakinkan Prabowo dengan strategi politik identitas yang dirancangnya. Alasan PKS menggosok Prabowo dan bukan yang lainnya sederhana, karena Prabowo adalah keluarga kaya raya melintir dan mempunyai rekam pergaulan masa lalu yang kurang bisa diterima oleh masyarakat banyak. Sisi finansial dan emosional itulah yang dibaca PKS sebagai peluang oleh PKS untuk mengaduk-aduk emosional Prabowo agar dia mau melakukan pembuktian diri.

PKS yang berambisi untuk bisa diterima dalam pergaulan anak-anak gang sebelah dan PKS yang termakan ghibah (Allan Nairn) yang mengatakan Prabowo akan meninggalkannya jika terpilih di Pilpres 2019 membuat motivasi PKS menjungkalkan Prabowo tumbuh berkali-kali lipat. Strategi dan taktik politik identitas terus digelindingkan, sehingga merubah wajah Prabowo dari patriotik dan nasionalis menjadi agamais yang kental dengan nuansa identitas kelompok tertentu.

PKS dengan ambisi dan strateginya berhasil. Terbukti, dengan strategi politik identitas tersebut Prabowo kehilangan dukungan dari kelompok minoritas. Dari yang sebelumnya per Agustus 2018 Prabowo-Sandi didukung 43,6% pemilih minoritas menjadi 4,7% per Januari 2019. Kasihan Prabowo, sudah jatuh dihimpit tetangga (PKS) pula.

Artikel asli
https://www.kompasiana.com/msamsiralam/5ce40461733c436e4b536127/prabowo-sudah-jatuh-dihimpit-tangga-pks

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.