Cara PAN dan PKS melangkah masuk Istana dengan memanfaatkan Prabowo diam-diam

Begitulah politik cair dan kepentingan mampu merubah posisi demi posisi yang lebih nyaman yakni lingkaran istana presiden.
0

Politik itu tidak mengenal kawan abadi, dan musuh bebuyutan. Namun, mengenal kepentingan abadi. Selama kepentingan dapat dikompromikan maka tiada jalan selain merapat. Berada dalam barisan oposisi selamanya tidaklah menguntungkan bagi partai PAN dan PKS.

Sebelumnya PAN adalah partai yang senang keluar masuk dalam lingkaran Istana. Pada tahun 2014 PAN berada bersama mengusung Calon Presiden dan wakil Presiden Prabowo Hatta. Setelah Pemilu selesai dan Jokowi JK dilantik sebagai Presiden dan wakil presiden.

Maka PAN merubah haluan dengan memasuki lingkaran partai koalisi pendukung Jokowi-Kalla. Dan mendapatkan beberapa kompensasi atas berganti posisi. Diantaranya adalah Ketua MPR RI yang saat ini masih dijabat oleh Zulkifli Hasan dan beberapa pos menteri.

Dan langkah serupa juga telah nampak gelagat dari PAN. Dimana dibeberapa kesempatan Zulkifli Hasan telah bertemu dengan Presiden Jokowi. Tercatat ada dua kesempatan yang mempertemukan antara pemenang pilpres pemilu serentak yakni Jokowi dengan Ketua Umum PAN.

Melihat trak record, maka kemestian PAN masuk dalam barisan lingkaran Istana tinggal menunggu moment yang tepat.

Kemudian bagaimana dengan PKS? Partai yang saat ini mendapatkan keuntungan elektoral dari memainkan politik identitas dalam koalisi Adil Makmur. Dimana kenaikan suara PKS signifikan berbanding dengan pemilu tahun 2014 lalu. Sedangkan untuk partai koalisi lainnya tidak mendapatkan efek ekor jas, terutama Partai Gerinda yang mengusung Prabowo-Sandi.

Dalam beberapa diskusi terbatas. Koalisi Adil Makmur mesti berantakan dan ada yang dikorbankan untuk tertuduh sebagai pengkhianat koalisi. Dan mesti ada isu yang terus dimainkan untuk menciptakan ketidakcocokan satu sama lain. Terutama tentang dukungan nyata terhadap Prabowo-Sandi. Isu yang terus dimainkan adalah dukungan nyata dari politik identitas yang mendukung Prabowo-Sandi.

PKS sebagai partai yang didentikkan sebagai partai kanan memiliki kemampuan untuk memainkan politik identitas. Dimana sebelumnya PKS pernah menawarkan sembilan wakil presiden kepada Jokowi yang ingin bergabung dengan Jokowi sebagai petahana. Namun sayang pihak istana telah melihat bagaimana sepak terjang PKS bila dalam koalisi.

Maka beberapa cara dilakukan secara sistematis dan tidak mesti keluar dari petinggi partai PKS. Berikut beberapa cara PKS untuk bisa melanggengkan kepentingan untuk masuk istana, baik sebelum pemilu dan sesudah pemilu.

Pertama, menyingkirkan tokoh frontal PKS yakni Fahri Hamzah. Cara ini sukses dengan mengeluarkan Fahri Hamzah dari PKS dan tidak lagi menjadi kader PKS. Maka jadilah Fahri Hamzah tidak memiliki kekuatan dari partai politik. Ibarat kata jadilah Fahri Hamzah tidak memiliki rumah politik. Hal ini memudahkan konsolidasi partai kader untuk memainkan garis komando partai yang saat ini dipimpin oleh Sahibul Iman.

Kedua, PKS pernah mempersiapkan beberapa nama cawapres untuk Jokowi. Hal ini terlihat upaya menanam jejak kepada Jokowi untuk melihat kader-kader PKS. Namun, langkah ini tidak diterima oleh koalisi partai pendukung jokowi yang lain yakni PDIP, PKB, PPP, Golkar, Nasdem, Perindo, PSI yang nyata-nyata telah dulu menyatakan dukungan kepada Jokowi untuk dua periode. Namun, asa ini masih menjadi bagian yang dapat digunakan nantinya.

Ketika, PKS membangun polarisasi dukungan kepada Prabowo dengan politik Identitas. Dengan loyalitas kader dan jejak kemenangan mengusung Politik Identitas di beberapa pilkada, diantaranya Pilkada DKI Jakarta. Maka hal ini dimainkan dengan apik mengelilingi Prabowo dalam proses kampanye. Dan permainan politik identitas ini amat menguntungkan PKS, dan kerugian bagi Prabowo dan Gerindra yang tidak bisa mengalahkan kemampuan mobilisasi politik identitas PKS.

Keempat, Melihat tanda-tanda kekalahan Prabowo Sandi. Salah satu tokoh utama PKS Mardani Ali Sera menyampaikan tagar #2019GantiPresiden Haram. Dan hal ini menjadi pertanda bahwa PKS mulai menjarak dengan koalisi adil makmur dan BPN. Setelah pernyataan tersebut keluar, maka tagar tersebut lenyap dan senyab dalam lini masa jagad maya.

Kelima. Pasukan 'setan gundul berjenggot' yang menjadi kekuatan mulai memainkan peran untuk mengacaukan koalisi dengan menggiring isu-isu yang merusak moral. Dan salah satu korbannya adalah Partai Demokrat yang diserang habis-habisan.

Sedangkan langkah PAN yang telah terbiasa bermain seperti pendulum. Satu saat berada di sisi lain dan beberapa waktu kemudian berada di sisi berbeda dapat diajakan mitra koalisi bagi PKS. Maka, apapun yang menjadi langkah PAN melalui Zulkifli Hasan dan beberapa politisi PAN tidak menjadi isu yang mesti diserang oleh 'kumpulan setan gundul berjenggot'.

Sebab, dengan sukses PAN ke lingkaran istana, maka PKS pun akan ikut menikmati dengan cara yang aman. Dan tetap bahwa koalisi telah berakhir dengan pengumuman KPU atas hasil Pilpres yang dimenangkan oleh Paslon 01 Jokowi-Ma'ruf.

Begitulah politik cair dan kepentingan mampu merubah posisi demi posisi yang lebih nyaman yakni lingkaran istana presiden.

https://www.kompasiana.com/anjasnimuarti/5ce3fd3995760e7e5c62ded5/cara-pan-dan-pks-melangkah-masuk-istana

Login and hide ads.