Mas AHY, Tetaplah Jadi Milenial yang Peduli Persatuan dan Kesatuan

Biarlah anjing menggonggong, kafilah berlalu.
0

Oh Tuhan... ada apa dengan negeri ku hari ini. Semua berita dibuat fitnah dan saling menjelekan antara satu sama lainya.Tak hanya beda kubu dukungan capres dan cawapres. Sekarang sesama pendukung capres dibuat saling serang. Tak peduli apakah itu kawan maupun lawan, semua diadu domba oleh media massa.

Semua ini tentu efek dari pemilu serentak yang dilakukan pada bulan April lalu. Suhu politik terus memanas hingga detik ini. Belum lama ini contohnya. Berita fitnah menyerang ketua Kogasma partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Berita mainstrim menggoreng isu mengenai kedatangan putra pertama SBY tersebut ke istana Negara untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo.

Undangan tersebut dipenuhi sebagai bentuk silaturahmi warga Negara terhadap kepala Negara. Hanya saja, undangan itu diberikan oleh salah satu calon presiden petahana yang merupakan rivalitas dari capres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di pemilu 2019 lalu. Media mainstream mengangkat isu kedatangan AHY ke istana menemui Jokowi sebagai bentuk pertemuan kontrak politik antara AHY dengan Jokowi untuk lima tahun ke depan.

Dan yang terbaru soal ramainya serangan para pendukung Jokowi dan Prabowo kepada Ibu Kristiani Herawati alias Ani Yudhoyono. Tim Buzzer kedua kubu tersebut ramai-ramai menyerang isu fitnah yang ditujukan kepada mantan ibu Negara ke 6 Republik Indonesia tersebut, seolah-olah beliau tidak lah sedang sakit, hanya pura-pura sakit sebagai akalan SBY untuk menghindari suhu di tahun politik 2019 saja.

Saya sebagai orang awam melihat, partai demokrat menjadi salah satu korban kekejaman fitnah dari partai lawan dan kawan di tahun politik 2019 ini. Padahal, sebagai anak muda yang peduli dengan kondisi bangsa dan Negara yang tengah terpecah belah paska pemilu, AHY mencoba hadir sebagai penengah agar para tokoh politik senior mampu merangkul anak-anak muda tanah air untuk tetap kondusif tanpa konflik paska pemilu serentak April 2019 lalu itu.

Di hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei ini lah momentum anak muda kembali mengingat serta mengenang awal mula terbentuknya hari kebangkitan nasional. Dalam catatan sejarah, harkitnas dimulai sejak tahun 1908 atau 111 tahun silam. Dengan demikian, harkitnas sudah ada sejak Negara Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya. Harkitnas mulai ada sejak berdirinya Boedi Oetoemo. Yang kemudian, melalui Keppres No 136 tahun 1959 ditetapkan untuk memperingati peristiwa Kebangkitan nasional.

Sehingga tak salah jika AHY disebut-sebut sebagai genarasi milenial yang peduli akan persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan adanya fitnah dan makian serta bullyan yang dating, akan memperkuat rasa kesatuan persatuan seorang AHY yang memiliki bapak seorang negarawan yang sudah teruji selama sepuluh tahun lama nya berkuasa. Dan untuk Ibu Ani, jangan dengarkan ujaran negative, sebagaimana pepatah mengatakan, biarlah anjing menggonggong, kafilah berlalu. Jangan diambil pusing ya bu. Semoga Ibu lekas sembuh.. Aamiinn...!

artikel asli
https://www.kompasiana.com/darmanfauzii/5ce26ca06b07c55124372ee9/mas-ahy-tetaplah-jadi-milenial-peduli-persatuan-dan-kesatuan

Login and hide ads.