5
Amalia Paravoti @lovoti
ALASAN MENGAPA SEBAIKNYA TIDAK MENGANCAM ANAK A THREAD pic.twitter.com/btMBpLRmQp
 Expand pic
Amalia Paravoti @lovoti
“Ayo mandi! kalo gamau mandi nanti dibawa pak karung!” “Kalo gak mau nurut yaudah mama tinggal, nanti km diculik orang jahat.” “Awas kalo ga nurut, disuntik sama pak dokter” Sering denger ya? Hehehe.
Amalia Paravoti @lovoti
Menahan supaya tidak ikut terbawa emosi adalah hal sulit yang dilakukan orangtua apalagi ketika anak sulit diatur dan berbuat kesalahan. Sebelum tau alasannya, aku mau coba jelasin beberapa hal. It's gonna long thread, just enjoy it.
Amalia Paravoti @lovoti
Jadi, otak terbagi atas upstair brain dan downstair brain. Downstair - otak bawah, terdiri dari sistem limbik, disitu ada amigdala. Dia yg menangkap facial expression& body languange serta reaksi fight or flight (itu loh klo kita dikejar anjing, lgsung lari krn tau ada bahaya)
Amalia Paravoti @lovoti
Upstair brain - otak atas terdiri dari prefrontal cortex (tepat diblkang dahi) fungsinya executive function sebut aja EF. EF buat apa? buat berpikir, mengatur strategi, membuat keputusan, meregulasi emosi, berpikir abstrak, dll.
Amalia Paravoti @lovoti
Kalo ibarat rumah, Otak bawah itu tempat basic need, dan otak atas tempat utk berpikir, memecahkan masalah, mengatur strategi; intinya proses berpikir yang rumit itu terjadi di otak atas aja. Lihat gambar ya pic.twitter.com/lMGEY0P8nu
 Expand pic
Amalia Paravoti @lovoti
Hal-hal yg perlu kamu ketahui : 1. Downstair brain anak dpt berkembang dengan sendirinya. Sejak lahir otak bawah sudah dpt menjalankan fungsinya tanpa perlu distimulasi. Berbeda dgn upstair brain, otak atas anak perlu effort untuk dikembangkan.
Amalia Paravoti @lovoti
2. Ada kemungkinan upstair brain gak terdevelop dgn sempurna meskipun sudah dewasa Nah ini salah satu penyebab knp orang dgn usia yg lebih tua tdk menjamin dia lebih mature. Usia udah tua sih, tp kok gak dewasa gitu deh hehe
Amalia Paravoti @lovoti
3. Kerja downstair brain dan upstair brain berkebalikan. Kalo otak bawah aktif ya otak atas gak aktif, begitu sebaliknya.
Amalia Paravoti @lovoti
Nah, ketika anak mendapat ancaman, apalagi dengan nada tinggi, pemilihan kata yang tidak enak/menyakitkan bagi anak, dipukul, dicubit dan kekerasan lainnya membuat anak merasa terancam, fungsi primitifnya mengambil alih, jadi otak apa yg akan aktif? Yap otak bawah.
Amalia Paravoti @lovoti
Saat reaksi fight or flight terjadi, amigdala aktif membuat sulit untuk mengendalikan diri. Amigdala aktif, otak bagian atas shut down. Inilah mengapa percuma ngasih nasehat ke orang saat sedang marah/sedang emosi, krn bukan EF nya yg aktif. Alhasil ia tdk bisa berpikir jernih.
Amalia Paravoti @lovoti
Nah, sama halnya yg terjadi pada anak, ketika anak terus-terusan diancam, terpapar kekerasan fisik, kekerasan verbal, yang akan sering aktif adalah amigdalanya, sehingga wajar ia menjadi semakin sulit diatur karena yang bertugas meregulasi emosi adalah EF - otak atas.
Anggada Samira @angga_eighties
@lovoti Menanamkan sikap kritis & bertanggung jawab sejak dini itu penting. Jadi, lebih memilih untuk ‘sejajar’ dan menjadikan si kecil teman berdiskusi dengan bertanya, “Ok, kamu maunya kapan (mandi/belajar/tidur-nya)?” Ketimbang harus melakukan opresi/ancaman agar didengar/dituruti.
Amalia Paravoti @lovoti
Jadi ada teori blg kekerasan akan menyebabkan rusak pada otak anak itu sangat benar. Amigdala yg semakin sering digunakan akan menumpulkan fungsi EF. Wajar jika anak jadi sering marah, nangis, mudah emosi, makin sulit diatur karena fungsi eksekutifnya gak terbiasa utk diasah.
Amalia Paravoti @lovoti
Byk studi yg setuju bahwa anak dgn kemampuan EF yg tinggi,ia mudah menyerap informasi, mudah utk berkonsentrasi, tdk impulsif, mampu bersabar, lebih baik secara akademik & lebih sukses menjalin hubungan interpersonal, dibandingkan dgn anak yg memiliki kemampuan EF rendah.
Amalia Paravoti @lovoti
Jadi kesimpulannya adalah mendislipinkan anak dgn cara mengancam, memarahi, berteriak, apalagi sampai memukul TIDAK AKAN PERNAH EFEKTIF.
Amalia Paravoti @lovoti
Lalu, apa solusinya? Bisa dengan membiasakan anak berpikir kritis seperti ini twitter.com/angga_eighties…
Amalia Paravoti @lovoti
Bisa dengan mengambil jeda, tarik nafas, baru merespon anak. Orangtua yg hebat mampu menguasai perasaan, pikiran, dan mengelola emosinya sendiri. Mampu mengendalikan diri, orangtua pun harus melatih fungsi EF nya juga, alih2 merespon dengan emosional tdk terkendali.
Amalia Paravoti @lovoti
Daripada membuat marah otak bawah, dengan merespon "tenang sekarang juga!" lebih baik ikut sertakan otak atasnya dengan berkata "susah ya? kira-kira apa ya yg membuat susah?"
Amalia Paravoti @lovoti
Perhatikan bahasa nonverbal yg kita gunakan, nonverbal itu besar pengaruhnya. Ketika berpose seperti pada gambar, anak akan merasa terancam. dalam hatinya "aku salah apa lagi sih? pasti abis ini dimarahin lagi" Nahhh apalagi pakai gesture nunjuk-nunjuk, waduuh jgn ya pic.twitter.com/gtMmAIvKJE
 Expand pic
Amalia Paravoti @lovoti
Daripada memberi gesture spt itu, lebih baik. rangkul anak. Jika perlu duduk sejajarkan mata dgn anak, tunjukkan empati dan mulailah percakapan "bisa ceritakan apa yg terjadi? itupun saat kamu sudah siap bercerita, tdk apa-apa tdk perlu dipaksa, mama akan menemanimu jika km mau"
Amalia Paravoti @lovoti
Ingat ya, ajak anak berbicara hanya jika "badai emosional" anak sudah selesai. Jadi bs sama2 berdiskusi, sama2 berpikir jernih. Ingat, ketika amigdala masih aktif, kemampuan berpikir akan tershut down.
Amalia Paravoti @lovoti
Sudah paham ya sekarang? Yuk mulai mengubah diri. Orang tua hebat mampu memperhatiakn ucapan dan cara penyampaiannya. Salam sehat jiwa sejak usia dini!🥰
djangan meneer 🍲 @ninirmaa
@angga_eighties @lovoti setuju nih. jaman kecil dulu ibu ngebebasin aku mau belajar kapan, komitmen aja ama diri sendiri. jadi pas ujian pun aku ngegame ga masalah. tapi entah kenapa malah ngerasa bertanggung jawab aja gitu buat belajar sendiri di waktu yg uda kita janjiin eheh
Load Remaining (14)
Login and hide ads.