Setara Institute: Banyak Penumpang Gelap dalam Pemilu 2019

Setara Institute menyatakan terdapat fakta-fakta seputar Pemilu 2019, khususnya pemilihan presiden (Pilpres), mulai dari tahap deklarasi dukungan, kampanye, hingga respons atas hasil “quick count” lembaga-lembaga survei dan rekapitulasi suara sementara KPU, nyata-nyata mengindikasikan pergelaran itu ditunggangi “penumpang gelap” (free rider).
IndonesiaElection2019 JokoWinElection Pemilu 2019 JokowiMenang pilpres2019 Indonesia
0
Nisa Kurnia @NisaKurnia20
Setara Institute: Banyak Penumpang Gelap dalam Pemilu 2019 bit.ly/2HmjQRO pic.twitter.com/vxErMcniZr
 Expand pic

Koran Sulindo – Setara Institute menyatakan terdapat fakta-fakta seputar Pemilu 2019, khususnya pemilihan presiden (Pilpres), mulai dari tahap deklarasi dukungan, kampanye, hingga respons atas hasil “quick count” lembaga-lembaga survei dan rekapitulasi suara sementara KPU, nyata-nyata mengindikasikan pergelaran itu ditunggangi “penumpang gelap” (free rider).

“Mereka berlatar belakang simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), kelompok keagamaan radikal seperti GARIS (Ketua Umumnya, Chep Hermawan, pernah mengaku sebagai Presiden ISIS Regional Indonesia) bahkan kelompok-kelompok teroris seperti Jama’ah Anshorud Daulah (JAD), Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), dan Jamaah Anshorus Syari’ah (JAS),” kata Ketua Setara Institute, Hendardi, di Jakarta, Selasa (14/5/2019), melalui rilis media.0

Menurut Hendardi, penangkapan teroris Bekasi dari jaringan JAD pekan lalu yang merancang peledakan bom dalam aksi 22 Mei 2019 menanggapi pengumuman resmi hasil Pemilu 2019 oleh KPU RI menegaskan bahwa kelompok teroris telah menunggangi Pemilu 2019 untuk kepentingan politik mereka. Mereka memberikan dukungan “tidak gratis” kepada kontestan serta menjadikan titik-titik rawan yang ditimbulkan oleh fragmentasi elite untuk melakukan konsolidasi jaringan dan kekuatan.

Baca Selengkapnya : https://bit.ly/2HmjQRO

Login and hide ads.