5
Marsinah Milenial @AQUBINAL

Kebenaran itu pahit. Tapi harus disampaikan

Marsinah Milenial @AQUBINAL
[A Thread] Tragedi Kematian Mahasiswa Trisakti 12 Mei 1998 Sejak Maret '98, aksi & demonstrasi para mahasiswa yang menuntut reformasi menjalar di beberapa kota di Indonesia. Tak jarang aksi2 berujung kisruh. Terlebih per April '98 juga ditemukan kasus penculikan para aktivis. pic.twitter.com/3lQMtJbsb2
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Salah satu kampus yang mahasiswanya aktif dalam berdemonstrasi adalah Trisakti. Berbeda dengan sekarang, Trisakti yang dulu tidak memiliki pamor di kalangan masyarakat. Hampir tidak ada media besar yang memberitakan aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa Trisakti.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Rumor beredar, bahwa Trisakti dianggap sbg “kampusnya orang kaya”, sehingga tidak lekat dgn citra "kampus aktivis". Faktanya? Trisakti bukan “kampusnya orang kaya” yang hanya punya mahasiswa bergaya. Di sana, ada mahasiswa2 yang aktif menyuarakan kebenaran, melawan penindasan. pic.twitter.com/V818CsQaVX
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Sebelum persiapan demonstrasi besar di tanggal 12 Mei 1998. Tercatat beberapa aksi dilakukan oleh mahasiswa Trisakti, di antaranya mimbar bebas yang digelar dalam lingkungan kampus pada tanggal 23 Maret dan 18 April.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Dari mimbar bebas tsb, Senat Mahasiswa Universitas Trisakti (SMUT) pun menggelar aksi sosial dengan membagikan sembako dan layanan kesehatan. Dan, mimbar bebas yang ke-2, SMUT mulai mencoba melakukan aksi turun ke jalan. Jarak yang ditempuh tidak jauh hanya memutari kampus.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
12 Mei 1998, sekitar 6000 mahasiswa berkumpul di Kampus A Universitas Trisakti untuk demonstrasi besar. Mereka mengantungi dukungan dari pimpinan universitas & para guru besar, bahkan Prof. Dr. Moedanton Moertedjo (Rektor) dan Ir. Trisulo (Ketum Yayasan) turut melakukan orasi.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Pukul 11.00 para demonstran ini menyerukan penurunan Soeharto dan reformasi politik, bahkan aksi diwarnai oleh pembakaran patung Soeharto –yang mana kita semua tahu, bahwa pemimpin otoriter ini sangat ditakuti pada masanya. Ya, aksi ini sangat berani!
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Sekitar 12.00 – 13.00 massa mulai berbaris keluar area kampus, menurut rencana SMUT massa akan melakukan long march ke kompleks DPR/MPR Senayan. Namun perjalanan mereka terhenti karena dihadang oleh barikade polisi, tepat di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat. pic.twitter.com/Q3QbQ6iX8J
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Sempat tjd negosiasi antara SMUT & aparat, namun hasilnya: demonstran dilarang melangkah lebih jauh lagi. Demonstrasi pun digelar di depan kantor wali kota, sementara mahasiswi membagikan bunga mawar kpd aparat, aparat tambahan pun bertambah banyak dari Kodam Jaya & Brimob.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Kopassus pun berdatangan dengan truk besar dan senapannya, Brimob tak ketinggalan dengan tabung gas air mata, dan Tim Panser yang dilengkapi meriam air, namun semua itu tak menggetarkan nyali para demonstran. pic.twitter.com/zNkMNDB3L6
Expand pic
Expand pic
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Pukul 13.30 turun hujan deras yang cukup membuyarkan ketegangan, terlebih sebelumnya aparat maju mendesak para mahasiswa, dan mahasiswa membalasnya dengan cemoohan, teriakan yel-yel, dan bahasa tubuh lainnya yang menandakan perlawanan. pic.twitter.com/KeegNvjFKM
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Hingga 17.00 kedua pihak sepakat untuk sama-sama mundur, karena demonstran Trisakti tak dapat bergerak, sebab aparat tak mengizinkan mereka untuk terus bergerak. Negosiasi yang dibuat para demonstran ... nihil.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Di saat para demonstran mulai mundur dan menuruti para aparat untuk kembali ke kampus ... datanglah sebuah “masalah” dari Mashud. pic.twitter.com/R9e0YJ890O
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Mashud diduga sebagai seorang mata-mata yang menjadi provokator mahasiswa, ia mengaku sebagai alumni Trisakti lalu mencemooh para mahasiswa, lalu setelah dikejar ia malah memasuki kerumunan barikade aparat. Di situlah terjadi insiden saling mendorong antara mahasiswa dan aparat.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Mahasiswa yang sudah berada dalam lingkungan kampus ditembaki dan dilempari gas air mata. Aparat yang berada di jembatan layang menembaki para mahasiswa yang berlarian di dalam kampus, sebagian lainnya mendekati pintu gerbang dan membuat formasi tembak.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Tembakan-tembakan itulah yang telah memakan korban luka dan korban jiwa. Brengsek, 'kan? Padahal mahasiswa sudah mau mundur, sepakat mau mundur, dan mereka sudah ada di dalam lokasi kampus.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
(Part 1) Ini salah satu kesaksian dari Rizky Rahmawati Pasaribu (mahasiswi Trisakti '98), yang bahkan sudah mau tewas karena sempat ditembak saat massa bubar hendak kembali ke kampus Trisakti. pic.twitter.com/4vJTsvJRac
Marsinah Milenial @AQUBINAL
(Part 2) Tapi beruntung, Rizky Rahmawati Pasaribu ini masih berada di bawah lindungan Tuhan. Ia bisa selamat, dan beruntung lagi ... masih ada aparat yang punya rasa kemanusiaan. pic.twitter.com/4uhHdnUlK2
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Pada 28 Mei, Kapolri Jenderal Pol Dibyo Widodo memberikan pernyataan bahwa Polri dan Brimob yang bertugas TIDAK DIBEKALI peluru tajam. Apakah benar? Tentu tidak.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Hasil otopsi menunjukkan Elang Mulia Lesmana, Hendriawan Sie, Heri Hartanto, dan Hafidhin Alifidin Royan meninggal karena peluru tajam. Rekaman peristiwa yang sudah disiarkan di televisi pun dengan jelas memperlihatkan peristiwa penembakan yang dilakukan polisi ke arah mahasiswa. pic.twitter.com/0vulK1FQLc
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Muncul sebuah spekulasi, bahwa: terdapat satuan lain (di luar Polri) yang melakukan penembakan terhadap mahasiswa. Dugaan ini muncul dalam sidang Mahkamah Militer yang digelar untuk mengadili kasus tersebut. Satuan lain itu juga diduga sebagai personil Kopassus. pic.twitter.com/G1gLsNSy9l
Expand pic
Marsinah Milenial @AQUBINAL
18 personil polisi dijadikan terdakwa dalam kasus penembakan tersebut, namun Adnan Buyung Nasution membela para polisi tersebut. Adnan mengatakan bahwa para terdakwa tersebut adalah korban, bukan dalang utamanya.
Marsinah Milenial @AQUBINAL
Tahun 2003, salah satu terdakwa, Kapten Polisi Agustri Heryanto angkat bicara. Ia katakan bahwa ia dan terdakwa lainnya hanya “alat politik” milik atasan mereka. Sidang Mahkamah Militer tersebut menurutnya adalah sidang dagelan, yang bukan mengadili pelaku yang sesungguhnya. pic.twitter.com/uXyLuewUFQ
Marsinah Milenial @AQUBINAL
DPR telah membentuk panitia khusus untuk menyelidiki kasus Tragedi Kematian Mahasiswa Trisakti, namun panitia khusus tersebut hanya menarik kesimpulan kontroversial: tak ada indikasi pelanggaran HAM dalam kasus penembakan tersebut, maka cukup diselesaikan oleh Mahkamah Militer. pic.twitter.com/gG37kNTsny
Load Remaining (4)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.