6
Brii.. @BriiStory
~Suatu malam, Maret 2017~ Sudah dua hari Ibu Juwita terbaring lemah di atas tempat tidur, gak sadarkan diri. Kami yang berada di dalam ruangan hanya bisa memandangnya, gak bisa berbuat apa-apa lagi. #memetwit @InfoMemeTwit pic.twitter.com/eJVZdi8Znd
Expand pic
Brii.. @BriiStory
Dokter Ferry sudah bekerja maksimal, terlihat pasrah melihat kondisi pasiennya yang satu ini, dia hanya duduk memperhatikan monitor yang ada di samping tempat tidur. Beberapa saat kemudian, detak jantung Ibu Juwita semakin lemah, dan semakin melemah.
Brii.. @BriiStory
Akhirnya, derai tangis keluarga memecah sunyinya ruangan, ketika sekitar pukul satu tengah malam Ibu Juwita meninggal dunia. ***
Brii.. @BriiStory
Namaku Rida, aku bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit yang letaknya di tengah-tengah kota Bandung. Sudah kira-kira lima tahun aku menjalani profesi ini, pekerjaan yang memang sudah menjadi cita-cita sedari kecil. Termasuk pekerjaan yang menurutku sangat mulia.
Brii.. @BriiStory
Aku sangat menikmati pekerjaan ini, nyaris semuanya ku lakukan dengan senang hati. Aku suka pekerjaannya, aku suka rekan-rekan sejawat, aku suka lingkungannya, semuanya. Oh, Nyaris semuanya..
Brii.. @BriiStory
Rumah sakit tempatku bekerja ini adalah rumah sakit yang sudah lama berdiri, cukup tua usianya. Seperti layaknya bangunan tua yang ada di kota Bandung, tentu saja masih bangunan yang ber-arsitektur Belanda.
Brii.. @BriiStory
Beberapa sudutnya dibiarkan apa adanya, gak pernah direnovasi sedikit pun, hanya cat nya saja yang terus diperbaharui.
Brii.. @BriiStory
Menurut sejarahnya, waktu pertama kali dibangun rumah sakit ini hanya memiliki satu gedung dan satu lantai saja, sekarang sudah memiliki beberapa gedung dalam satu kawasan, salah satu gedungnya terdiri dari tujuh lantai. Rumah sakit yang sangat luas, cukup terkenal juga.
Brii.. @BriiStory
Malam ini, aku (dengan bantuan Mas Brii) akan mencoba menceritakan salah satu kejadian yang pernah aku alami di rumah sakit ini. Dan tentu saja, kejadiannya sangat menyeramkan. Teman-teman simak ya,
Brii.. @BriiStory
Ingat pesan Mas Brii, jangan pernah baca sendirian, karena terkadang "Mereka" gak hanya sekadar hadir dalam cerita. ***
Brii.. @BriiStory
Ibu Juwita, satu dari beberapa pasien yang sangat aku ingat sampai sekarang, salah satu alasannya karena beliau cukup lama dirawat, kurang lebih dua bulan, sampai akhirnya takdir berkata lain, ajal menjemputnya di ruang rawat inap.
Brii.. @BriiStory
Selama dua bulan masa perawatan itu, kami para perawat sudah cukup akrab dengannya, kebetulan juga Ibu Juwita orang yang sangat ramah, senang bersenda gurau dan berbincang.
Brii.. @BriiStory
Ketika masuk rumah sakit, Ibu Juwita berumur 69 tahun, tubuhnya kurus dengan rambut panjang yang sudah memutih. Penyakit yang dideritanya cukup berat, komplikasi juga. Kebetulan, aku yang pertama kali menangani dan merawat beliau, setelah keluar dari penanganan UGD.
Brii.. @BriiStory
Ruang yang Ibu Juwita gunakan adalah ruangan VIP, satu ruangan hanya diisi oleh satu pasien. Di dalamnya tersedia sofa dan meja untuk keluarga yang ingin menemani. Dengan telaten aku merawatnya pada malam pertama, mempersiapkan segala yang harus disiapkan.
Brii.. @BriiStory
Hanya dua anggota keluarga yang menemani, satu laki-laki berumur 40an dan satu perempuan berumur sekitar 25 tahun, yang laki-laki berdiri disamping tempat tidur sambil terus berbincang dengan Ibu Juwita,
Brii.. @BriiStory
sementara yang perempuan duduk di sofa sambil terus-terusan memainkan ponsel yang ada di tangannya.
Brii.. @BriiStory
"Sudah ya Bu, sekarang ibu istirahat, saya berada di ruang perawat tidak jauh dari sini. Kalau ada yang diperlukan Ibu tinggal tekan tombol yang ada di sebelah tempat tidur, saya langsung datang." "Terima kasih ya Neng." Jawab Ibu Juwita dengan senyuman.
Brii.. @BriiStory
Setelah itu aku langsung keluar, berjalan menuju ruang perawat yang berada di ujung lorong. Ruangan Ibu Juwita dan ruang perawat berjarak sekitar 30 meter.
Brii.. @BriiStory
Ruang rawat inap ini berada di gedung paling besar kedua, bangunan yang cukup tua usianya. Malam itu yang bertugas hanya aku dan dua teman perawat, Ida dan Riana. Aku duduk sendiri di meja perawat yang berada di depan ruangan, sementara Ida dan Riana masih berkeliling ke pasien.
Brii.. @BriiStory
Sekitar jam sebelas malam, pintu kamar Ibu Juwita terbuka, kemudian dua anggota keluarga yang sejak awal menemani keluar dari dalam. "Suster, saya titip ibu saya ya. Kami hanya bisa menemani sampai di sini, besok kami datang lagi."
Brii.. @BriiStory
Begitu ucap sang lelaki yang belakangan aku tahu kalau dia adalah anak dari Ibu Juwita. "Baiklah Pak," Jawabku dengan ramah. Kemudian mereka pulang. ***
Brii.. @BriiStory
Sendirian aku duduk di meja depan ruang perawat, sementara Ida dan Riana berada di dalam ruangan yang tepat di belakangku.
Brii.. @BriiStory
Lorong kosong panjang menjadi pemandangan yang aku lihat di depan, kanan dan kirinya berbaris pintu ruang rawat inap yang gak semuanya terisi, hanya beberapa saja. Sangat sepi dan hening, situasi yang sudah biasa aku dan teman-teman rasakan apa bila sedang tugas malam. pic.twitter.com/xMSFGHgiyX
Expand pic
Load Remaining (112)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.