0
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Demokrat adalah partai yang tidak pernah habis dibahas dan dibicarakan. Apapun topik politik di negeri ini, kurang menarik rasanya jika tidak melibatkan Demokrat. Pasca Pilpres 2019 baru-baru ini beredar kabar Demokrat keluar dari koalisi Prabowo-Sandi. #CurangItuDosa pic.twitter.com/h6QTUyBzHZ
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Seluruh jagad media sosial menjadi hiruk pikuk. Bagi kelompok 01, isu yang menguntungkan ini di goreng habis-habisan dengan asumsi akan melemahkan mental kubu 02. #CurangItuDosa
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Sementara itu, bagi 'ultras' 02 yang terlanjur termakan kabar bohong ini malah mencaci-maki dan menghujat. Berbeda cerita dengan sikap abu-abu yang ditunjukkan Partai Amanat Nasional (PAN). #CurangItuDosa pic.twitter.com/cRvXhOrcf9
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Baru-baru ini, elite PAN mengajak semua pihak meyakini hasil hitung cepat yang secara tidak langsung meyakini kemenangan Jokowi-Ma'ruf. Tapi apa dikata, manuver PAN ini tidak terlalu menarik untuk dibahas. #CurangItuDosa
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Tidak ada riak yang begitu besar yang terlihat. Tidak ada juga penggiringan opini yang begitu besar. Begitu juga halnya ketika Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan masukan untuk 'Kampanye Akbar' yang digelar Prabowo. #CurangItuDosa pic.twitter.com/W94mkT861x
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
SBY berpesan agar Prabowo tidak menghilangkan sisi kemajemukan dan kebhinekaan dalam kampanye akbar tersebut. Namun dipihak lain malah mengarang cerita berbeda. Surat tersebut diartikan sebagai kemarahan SBY kpd Prabowo yang terlalu mengedepankan politik identitas. #CurangItuDosa pic.twitter.com/SLe2t9vTo1
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Terkesan, semua pihak ingin mengambil keuntungan dari nama besar Ketum Demokrat ini, tapi sekaligus tidak mau menarik SBY ke tengah medan percaturan karena dianggap akan membahayakan. #CurangItuDosa
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Alasannya sederhana, karena SBY selaku Ketum Demokrat mempunyai citra yang kuat sekaligus mempunyai legacy yang begitu tertanam dalam memori rakyat Indonesia. #CurangItuDosa pic.twitter.com/Z65HU9SBFf
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Dari dua kali pemilu yang dimenangkan SBY, ia mendapatkan persentase suara lebih dari 60%. Pada Pemilu 2004 SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla menang dengan persentase 60,62% suara nasional. #CurangItuDosa
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Angka ini jauh mengungguli petahana Megawati yang hanya memperoleh 39,38% suara nasional. Di Pemilu 2009, meskipun terdapat tiga paslon capres-cawapres, SBY tetap bisa mempertahankan perolehan suara di atas 60%. #CurangItuDosa pic.twitter.com/jhu5KluCnN
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Tepatnya pasangan SBY yang kala itu menggandeng Boediono sebagai calon wakil presiden berhasil memperoleh suara sebesar 60,8%. Dari dua pemilu ini bisa disimpulkan, citra SBY di mata rakyat Indonesia begitu kuat. #CurangItuDosa pic.twitter.com/dsLSVakrjN
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Citra diri ini juga didukung dengan legacy yang dibuat SBY selama 10 tahun. Tidak bisa dipungkiri, meskipun ada tekanan ekonomi global, ekonomi dalam negeri masih berjalan dengan baik. #CurangItuDosa pic.twitter.com/7mGtipQiX0
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Daya beli terjaga, bahkan di bawah kepemimpinan SBY, Indonesia mampu melunasi utang kepada IMF sebelum waktu yang ditentukan. #CurangItuDosa
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Tidak kalah penting adalah stabilitas politik dan keamanan dalam negeri yang kondusif selama 10 tahun kepemimpinan SBY. Selain itu, meskipun tidak lagi menjadi presiden, tingkat kesukaan masyarakat kepada SBY masih jauh mengungguli tokoh-tokoh politik lainnya di tanah air. pic.twitter.com/RvNTVdOvMh
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Dua hal inilah yang selalu dimanfaatkan partai politik lain dalam mengambil ceruk suara pendukung SBY dan Demokrat. Namun melibatkan SBY dan Demokrat dalam percaturan politik adalah hal yang dianggap berbahaya oleh partai lainnya. #CurangItuDosa pic.twitter.com/7eW9T7gJaE
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Dengan citra dan legacy yang begitu kuat, SBY dan Demokrat dianggap ancaman bagi keberlangsungan partai lainnya. Hal ini bisa kita lihat dari gocekan-gocekan parlemen dalam menetapkan presidential threshold (PT) 20%. #CurangItuDosa pic.twitter.com/s0GLKunyJ1
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Seperti kita ketahui, Partai Demokrat mengusung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam Pilgub DKI Jakarta 2016. Meskipun AHY tidak menjadi Gubernur DKI bukan berarti itu adalah kekalahan. #CurangItuDosa pic.twitter.com/IRrYa3sQSB
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Sebaliknya, itu adalah kemenangan Demokrat melejitkan nama AHY dipentas nasional. Popularitas AHY yang melejit dengan cepat terlalu berbahaya jika berhasil dikonversi menjadi elektabilitas di Pemilu 2019. #CurangItuDosa pic.twitter.com/6Xw1VD5yYq
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Tak heran, dalam waktu tiga bulan pasca Pilgub DKI Jakarta, persyaratan PT 20% dipaksakan (disahkan) oleh DPR RI. PT 20% ini dijadikan alat untuk menjegal langkah AHY dan Partai Demokrat di Pemilu 2019. #CurangItuDosa
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Entah direncanakan atau tidak oleh kedua capres kita hari ini, posisi cawapres dikunci hingga last minute. Berharap Demokrat akan merapat, tapi sekaligus tidak menginginkan ada calon wakil presiden dari Demokrat. #CurangItuDosa pic.twitter.com/hmrYO7KBke
Expand pic
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Kedua cawapres yang dipilih oleh masing-masing paslon bahkan orang yang tidak terdeteksi oleh lembaga survei dan masih minim popularitas apalagi elektabilitas. #CurangItuDosa
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Bagaimana kedepannya percaturan politik di tanah air? Tentunya akan sangat menarik untuk disimak. #CurangItuDosa
Hendi Kusuma @hendikusumaaa
Apakah Demokrat akan kembali berdigdaya, atau ia akan terus dikeroyok secara bersama-sama oleh partai lainnya? Selalu menarik segala cerita tentang Demokrat. #CurangItuDosa pic.twitter.com/NKSZtPR6RH
Expand pic

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.