Dear Pak Mahfud MD, Jangan Ajari Kami Arti "BELA NEGARA"

Mahfud MD berulah
islam garis keras aniyudhoyono Mahfud MD rakyat Politik SBY
0
Hara Syifa @harasyifaaa
Dalam sebuah unggahan video yang viral di media sosial, Pak Mahfud MD mengatakan petahana kalah di daerah yang dulunya dianggap dan diidentifikasi sebagai daerah garis keras secara keagamaan. #CurangItuDosa pic.twitter.com/FC1US0ZAud
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Anggota Dewan Pengarah BPIP yang digaji dengan uang rakyat ini dengan tegas menyebut daerah seperti Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Apakah maksud Pak Mahfud mengidentikkan daerah garis keras secara keagamaan ini terkait dengan DI/TII dan GAM di Aceh, PRRI di Sumatera Barat, DI/TII di Jawa Barat, dan DI/TII serta Permesta di Sulawesi Selatan pada masa lalu? #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Apakah secara tidak langsung Pak Mahfud mengatakan kami pemberontak dan ekstrimis? Saya sebagai salah seorang putra Sumatera Barat, terkhusus sebagai anak Minang merasa tersinggung dengan pernyataan itu. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Sebelum adanya PRRI, terlebih dahulu tanah leluhur kami sempat dijadikan pusat pemerintahan darurat republik Indonesia atau dikenal dengan PDRI. #CurangItuDosa pic.twitter.com/VvDzUV0zV6
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Kalaulah kami orang Minang kala itu oportunis, sudah kami halau utusan pemerintah pusat kala itu. Karena dengan dipindahkannya pemerintahan ke Sumatera Barat, sama saja artinya memindahkan medan pertempuran ke tanah leluhur kami. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Kalau lah kami ini dianggap ekstrimis, mungkin kala itu kami juga enggan menyerahkan republik ini ke Pulau Jawa setelah negeri kami diobrak-abrik Belanda saat PDRI. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Tapi apa fakta yang sebenarnya, PDRI disambut baik oleh masyarakat Minang. Dari dalam hutan-hutan kami semangat perjuangan dikobarkan dan eksistansi NKRI disampaikan melalui stasiun-stasiun pemancar radio hingga ke luar negeri. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Terkait Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), jika itu dianggap sebagai daerah yang diidentifikasi garis keras, mari kita lihat awal adanya gerakan ini. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Sejarah PRRI bukanlah pemberontakan maupun tuntutan mendirikan negara baru, melainkan bentuk protes kepada pemerintah pusat kala itu. #CurangItuDosa pic.twitter.com/FNdepO6yLi
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Di mana saat itu terjadi ketimpangan pembangunan antara Pulau Jawa dengan daerah-daerah di luar Pulau Jawa. Tapi apa dikata, pemerintah yang berada di Pulau Jawa menganggap protes kami sebagai sebuah pemberontakan. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Siapakah korban dari penumpasan dan pengerahan militer terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah militer Indonesia ini? Korbannya adalah Republik Indonesia. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Karena tokoh PRRI yang ditumpas merupakan para pejuang kemerdekaan, pendiri dan pembela NKRI. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Jika kami orang Minang tidak memilih Jokowi dianggap tidak rasional dan mengedepankan emosional keagamaan, lagi-lagi Pak Mahfud gagal mengenali karakter kami orang Minang. #CurangItuDosa pic.twitter.com/RhpftBIWCW
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Kalaulah karena emosional keagaamaan semata, tidaklah mungkin Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menang telak di Sumatera Barat pada pilpres-pilpres sebelumnya. #CurangItuDosa pic.twitter.com/pY3Dsm3AnP
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Dimana kala itu kencang berhembus hoaks tentang agama Buk Ani Yudhoyono yang dikatakan Katolik lantaran nama beliau Kristiani Herrawati. #CurangItuDosa pic.twitter.com/i7sDqLWqDl
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Jadi bijaklah hendaknya Pak Mahfud menempatkan diri. Jika berbicara selaku anggota Dewan Pengarah BPIP, maka bicaralah tentang ideologi yang merekatkan, bukan memancing kemarahan yang berdampak kepada keretakan bangsa dan negara ini. #CurangItuDosa pic.twitter.com/CqN2OigxL1
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Kalau Pak Mahfud berbicara sebagai kapasitas mantan Ketua MK, maka berbicaralah terkait masalah-masalah hukum yang terjadi selama Pemilu 2019 berlangsung. Jikalau Pak Mahfud berbicara selaku tim sukses, tentu harus ada SK yang membuktikannya. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Termohon maaf yang sebesarnya kepada Pak Mahfud. Dengan segala hormat, jangan tuding kami orang Minang sebagai orang-orang garis keras yang berbeda haluan dengan NKRI. Jangan ajari kami arti bela negara. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Jangan ajari pula kami bagaimana seharusnya memilih pemimpin. Nenek moyang kami telah meninggalkan dasar-dasar yang kuat dalam pituah yang diturunkan turun-temurun, dari generasi ke generasi. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Pemimpin menurut kami orang Minang adalah "Bak kayu gadang di tangah koto, ureknyo tampek baselo, batangnyo tampek basanda, dahannyo tampek bagantuang, daun rimbunnyo tampek bataduah, tampek bahimpun hambo rakyat. #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
pai tampek batanyo, pulang tampek babarito, sasek nan kamanyapo tadorong nan kamanyintak, tibo dikusuik kamanyalasai, tibo dikaruah mampajaniah, mahukum adia bakato bana". #CurangItuDosa
Hara Syifa @harasyifaaa
Jika Pak Jokowi tidak bisa menang di daerah kami, barangkali ada kriteria yang tertuang dalam pituah adat kami yang tidak terpenuhi oleh Pak Jokowi. #CurangItuDosa pic.twitter.com/ei2U1GiDHf
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Menang dan kalah adalah hal yang biasa dalam demokrasi. Jadi marilah kuatkan yang benar, jangan benarkan yang kuat. Adil dan bijak dalam bernegara. #CurangItuDosa pic.twitter.com/Ia0P3XYyHa
Expand pic

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.