Disaat Rakyat sedang Kondisi Panas Karena Pemilu, Presidennya Malah Nyantai Kaya di Pantai

Jadilah kesatria, jadilah negarawan. Jangan tunggu rakyat harus melawan.
0
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Pemilu 2019 menyisakan banyak misteri. Aksi saling klaim kemenangan diantara kedua kubu menimbulkan ambiguitas siapa sebenarnya yang menjadi pemenang dari kontestasi ini. Adapun dampak dari semua ini adalah resistensi yang muncul di tengah masyarakat. #KPUJanganSalahInputData pic.twitter.com/MfiantB6sg
 Expand pic
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Berkaca pada pemilu sebelumnya, yaitu Pemilu 2009 dan 2014, klaim kemenangan juga pernah terjadi. Kendati demikian, bisa dikatakan tidak ada gesekan yang terjadi antara kelompok masyarakat ataupun kelompok pendukung pasangan calon tertentu. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Pada tahun 2009, klaim kemenangan dilakukan kubu pasangan capres-cawapres Megawati-Prabowo. Salah satu lembaga survei yang memenangkan Megawati-Prabowo atas petahana SBY-Boediono saat itu adalah IDM. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Sedangkan hasil hitung cepat lembaga survei lainnya justru mengunggulkan SBY-Boediono atas lawan-lawannya saat itu. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Tahun 2014 juga terjadi hal yang sama. Prabowo yang kala itu berpasangan dengan Hatta Rajasa juga mengklaim kemenangan atas pasangan Jokowi-JK. Tercatat saat itu dua lembaga survei, yaitu Puskaptis dan JSI mengunggulkan Prabowo-Hatta atas Jokowi-JK. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Namun presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mampu mengendalikan stabilitas politik nasional. Dengan sikap kenegarawanannya SBY mampu meredam polarisasi yang terjadi. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Kunci dari stabilitas itu adalah leadership yang kuat. Bukan kuat dalam artian kekuasaan yang absolut, tapi kuat dalam ideologi persatuan dan kesatuan. #KPUJanganSalahInputData pic.twitter.com/7lYgtXvEhu
 Expand pic
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Hemat saya, Pemilu 2019 hampir sama dengan Pemilu 2009. Dimana petahana kembali ambil bagian dalam kontestasi politik lima tahunan. Bedanya, petahana hari ini tidak berada dalam posisi sebagai seorang negarawan. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Petahana hanya menikmati hasil pemilu dari segi kacamata politisi. Dugaan-dugaan kecurangan yang menguntungkan dirinya tidak diambil pusing. Polarisasi yang terjadi di tengah masyarakat hanya dijadikan bahan guyonan. Ini berbahaya. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Lihat saja, kubu petahana hanya sibuk meledek oposisi dengan guyonan ‘siap presiden’ dan ‘boikot rumah makan padang’. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Padahal hal yang lebih subtansi seperti dugaan kecurangan pemilu dan aksi anarkisme rakyat di banyak daerah atas hasil pemilu tidak begitu mendapat perhatian. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Alih-alih menjadi negarawan dan meneduhkan suasana, Jokowi malah bersantai di mall. #KPUJanganSalahInputData pic.twitter.com/Rsp63rvzh0
 Expand pic
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Menurut Jacobs dan Jacques, kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti terhadap usaha kolektif, dan mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Artinya, jika kebhinekaan dan kemajemukan dijadikan sebagai usaha kolektif, petahana yang hari ini masih tercatat menjadi presiden harus mengambil sikap tegas atas polarisasi yang terjadi. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Jika polarisasi ini terus membesar, bisa dikatakan Jokowi sebagai presiden gagal dalam kepemimpinan nasional. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Pemimpin dalam tradisi lama diibaratkan seperti pohon. Akarnya tempat bersila, batangnya tempat bersandar, dan dahannya tempat berteduh. Tiga unsur ini penting bagi seorang pemimpin sekaligus negarawan. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Jika seseorang hanya bisa menjadi akar untuk berembuk membagi jabatan itu baru sekelas politisi kacangan. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Jokowi harus mengingat kembali posisinya. Dia tak hanya seorang petahana yang berlaga diajang pemilu. Hari ini, Jokowi masih tercatat sebagai seorang presiden yang harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya. #KPUJanganSalahInputData
Pengamat Keadilan @Pengamat_Eksis
Jadilah kesatria, jadilah negarawan. Jangan tunggu rakyat harus melawan. #KPUJanganSalahInputData pic.twitter.com/8iEYHxcrMF
 Expand pic
Login and hide ads.