0
Hara Syifa @harasyifaaa
Pemilu 2019 telah dilaksanakan. Akan tetapi, tahapan dan prosesnya masih tetap berlanjut hingga nanti keluar hasil ketetapan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). #kawalkotaksuara pic.twitter.com/CJt80wkKRc
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Terlepas dari hasil quick count (QC) atau hitung cepat lembaga survei yang memenangkan salah satu paslon capres-cawapres, penting bagi kedua paslon, timses, ataupun pendukungnya agar tidak baper dan bijak menanggapinya. #kawalkotaksuara
Hara Syifa @harasyifaaa
Seperti diketahui, QC merupakan sebuah metode verifikasi hasil pemilihan umum yang dilakukan dengan menghitung persentase hasil pemilu di tempat pemungutan suara (TPS) yang dijadikan sampel. #kawalkotaksuara pic.twitter.com/lajJehFs9M
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Rata-rata sampel yang digunakan oleh lembaga survei untuk melakukan QC sebesar 3.000 hingga 5.000 sampel. Lalu apakah 3.000 hingga 5.000 sampel ini bisa mewakili 809.699 jumlah TPS yang ada? #kawalkotaksuara
Hara Syifa @harasyifaaa
Secara akademik, jawabannya bisa. Karena sampling adalah metode statistik yang dapat dipertanggungjawabkan. Akan tetapi faktor yang lebih terpenting adalah sebaran datanya. #kawalkotaksuara
Hara Syifa @harasyifaaa
Sebab jika jumlah sampel banyak tapi hanya terpusat di satu daerah saja, bisa saja tidak mewakili kondisi yang sebenarnya. #kawalkotaksuara
Hara Syifa @harasyifaaa
Menurut pakar statistik dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Khairil Anwar Notodiputro, mengatakan bahwa QC merupakan statistik yang mempunyai kemungkinan adanya perbedaan-perbedaan antara satu lembaga survei dengan lembaga lainnya. #kawalkotaksuara
Hara Syifa @harasyifaaa
Bahkan menurutnya, QC bisa saja berbeda hasilnya dengan real count. Hal itu bisa terjadi karena dua faktor, pertama faktor yang bersifat teori dan kedua faktor malpraktek. #kawalkotaksuara
Hara Syifa @harasyifaaa
Kesalahan hasil perhitungan QC secara teori bisa terjadi walaupun peluangnya sangat kecil. Namun, kesalahan fatal dalam perhitungan bisa terjadi akibat malpraktek atau ulah kenakalan lembaga survei itu sendiri. #kawalkotaksuara
Hara Syifa @harasyifaaa
Kenakalan-kenakalan dalam praktek statistik inilah yang akhirnya merusak kaedah ilmu pengetahuan dan mental masyarakat. Kesalahan prediksi terkait QC pernah terjadi pada Pilpres 2004. #kawalkotaksuara
Hara Syifa @harasyifaaa
Dimana saat itu TVRI yang bekerja sama dengan Institute for Social Empowerment and Democracy memenangkan pasangan Mega-Hasyim dengan keunggulan 50,07% atas pasangan SBY-JK yang hanya memperoleh 49,93%. #kawalkotaksuara pic.twitter.com/UH1eQp6uKx
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Hasil survei tersebut disiarkan TVRI langsung dari Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). #kawalkotaksuara pic.twitter.com/5BOy1mGaZQ
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Namun, Pilpres 2004 menghasilkan keputusan SBY-JK menjadi presiden-wakil presiden dengan persentase sebesar 60,62% berbanding 39,38% yang didapatkan Megawati-Hasyim. #kawalkotaksuara pic.twitter.com/YCPrNkd3U4
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Kesalahan juga terjadi pada Pilpres 2009. Lembaga survei Indonesia Development Monitoring (IDM) mengklaim pasangan capres-cawapres Megawati-Prabowo unggul dengan angka 37,45%, SBY-Boediono 31,7%, dan disusul JK-Wiranto 30,78%. #kawalkotaksuara
Hara Syifa @harasyifaaa
Faktanya berdasarkan hasil pengumuman resmi KPU, SBY-Boediono menang dengan 60,8% diikuti Megawati-Prabowo 26,79%, dan JK-Wiranto sebesar 12,41%. #kawalkotaksuara pic.twitter.com/t7H1erlVQn
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Kesalahan yang sama juga terulang pada Pilpres 2014. Tidak tanggung-tanggung, kesalahan prediksi QC dilakukan oleh empat lembaga survei. #kawalkotaksuara
Hara Syifa @harasyifaaa
yaitu Jaringan Survei Indonesia (JSI), Pusat Studi Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Lembaga Survei Nasional (LSN), dan Indonesia Research Center (IRC). #kawalkotaksuara
Hara Syifa @harasyifaaa
Rata-rata dari empat lembaga survei ini memenangkan pasangan Prabowo-Hatta dengan 51% atas Jokowi-JK yang hanya memperoleh 49%. #kawalkotaksuara pic.twitter.com/s5u0KIaSpM
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
Kesimpulan: QC itu adalah statistik. Sedangkan KPU adalah parameter. Oleh sebab itu, jangan cepat baper dan marilah bijak menanggapi hasil suvei sebagai bagian dari akademik. #kawalkotaksuara
Hara Syifa @harasyifaaa
Jika kamu, kamu, dan kamu yakin pasangan calon mu lah yang menang, maka kawal kotak suara hingga keluar hasil keputusan resmi KPU, bukan memprovokasi orang lain. Mari bijak untuk Indonesia damai dan sejahtera. #kawalkotaksuara
URL KOMPASIANA 15 Jangan Baper, Bijak Menanggapi Hasil QC Pilpres 2019 Pemilu 2019 telah dilaksanakan. Akan tetapi, tahapan dan prosesnya masih tetap berlanjut hingga nanti keluar hasil ketetapan resmi dari Komisi Pemilih

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.