0
The Lost Book @kisahtanahjawa
Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Johannes Graaf van den Bosch memiliki kedekatan dengan Fort van den Bosch atau lebih dikenal dengan Benteng Pendem Ngawi yang dibangun pada kurun waktu tahun 1839-1845, berdiri diatas lahan seluas satu hektar dan diapit oleh dua Sungai Bengawan. pic.twitter.com/WHiU0ukTSk
 Expand pic
The Lost Book @kisahtanahjawa
Tembok benteng berbentuk persegi panjang dengan tiap ujungnya dilengkapi bastion dan dikelilingi parit yang dilepasi buaya, untuk pertahanan luar dengan timbunan gundukan tanah, ini menjadikan benteng ini sangat kokoh, dari sinilah penamaan setempat meyebut dengan benteng pendem. pic.twitter.com/X3H9mryxcn
 Expand pic
The Lost Book @kisahtanahjawa
Benteng van den Bosch memang terlihat seperti terpendam, dikarenakan tertutupi gundukan tanah yang sengaja dibangun untuk menghalau luapan air dari dua sungai Bengawan, parit dengan buaya buas, akan mempersulit bagi tanahan yang melarikan diri dan pejuang yang akan menyerang.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Saat itu Ngawi yang semula berstatus Onder-Regentschap ditingkatkan menjadi Regentschap atau kabupaten dalam wilayah Karesidenan Madiun, dikepalai oleh Regent atau Bupati R. Adipati Kertonegoro pada tahun 1834, hal ini disebabkan letak geografisnya strategis dan menguntungkan.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Johannes Graaf van den Bosch lahir di Herwijnen, Belanda tahun 1780 dan tiba di Tanah Jawa tahun 1797 berpangkat Leutnant, karena berselisih paham dengan Herman Willem Daendels tahun 1810, beliau lantas dipulangkan ke Belanda, sampai tahun 1827 beliau kembali ke kota Batavia.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang ke-40 pada tahun 1830-1833, saat masa pemerintahannya inilah ditetapkan sistem Cultuurstelsel atau Tanam Paksa. Kebijakan ini sangat menyengsarakan bagi petani pribumi akan tetapi justru membawa kemakmuran di Negeri Belanda.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Bang Juki pada kesempatan ini akan mengajak sobat Javanica untuk berziarah ke makam KH. Muhammad Nursalim, letaknya di dalam bangunan kantor bergaya arsitektur Roman-Indische yang berada ditengah benteng pendem Ngawi, Mendiang adalah tokoh penyia'ar Islam dan Pahlawan Bangsa.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Mbah Kyai merupakan pengikut setia dari Pangeran Diponegoro yang gugur akibat tertangkap oleh serdadu Belanda saat berjuang melawan penjajahan Belanda, perlawanan dikarenakan banyaknya warga pribumi sekitar yang ditangkap dan dipekerjakan paksa dengan perlakuan tidak manusiawi.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Setelah tertangkap, mbak Kyai dibawa kedalam benteng untuk diinterogasi, karena dianggap berbahaya oleh pemerintah Kolonial Belanda kemudian dijatuhi hukuman mati. Mbah Kyai yang memiliki kewaskitaan dan kesaktian tak mempan saat dibacok, dipukul maupun ditembak dengan peluru.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Pada saat itu militer Belanda sempat kebingungan, hingga mendapatkan ide jahat agar mbah Kyai dikuburkan hidup-hidup serta sekujur tubuhnya diikat dengan rantai sangat kencang, lantas tubuh Mendiang dimasukan dalam lubang dan ditimbun keselurahan dengan tanah dan bebatuan coral. pic.twitter.com/GZxT1tC7Rl
 Expand pic
The Lost Book @kisahtanahjawa
Benteng Pendem di Ngawi ini istimewa sebab di dalam kompeksnya terdapat makam kusuma bangsa yang gugur sebagai seorang pahlawan, kita semua sebagai generasi bangsa agar tetap mendoakan agar Mendiang gugur sebagai seorang syuhada serta turut menjaga sejarah bangsa dan negara.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Tepat disebelah selatan dari bangunan kantor umum, terdapat dua sumur yang dahulunya dipergunakan oleh militer Belanda untuk membuang jenazah korban penangkapan baik tahanan militer atau para pekerja paksa, sehingga menyebakan sumur-sumur ini selayaknya untuk kuburan masal.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Pada sumur yang terletak di timur (masih terdapat tembok pembatas) dahulunya para korban diceburkan kedalam sumur yang memiliki kedalaman 50-75 meter dalam kondisi sakit, lemah atau meninggal setelah bekerja, kondisinya sangat mengenaskan dan korban ada yang minta disempurnakan. pic.twitter.com/QQTpvGJHjg
 Expand pic
The Lost Book @kisahtanahjawa
Aura pedih dan suasana panas terasa kuat akibat banyaknya jenazah yang masih berada didasar sumur serta sampai dengan sekarang belum diangkat untuk disempurnakan, termasuk jenazah-jenazah para Ulama Kyai setempat lain yang turut menjadi korban kekejaman militer Belanda saat itu.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Sumur berikutnya terletak di barat (sudah tidak ada lagi tembok pembatas dan diratakan dengan tanah, hanya terlihat sisa bata melingkarnya saja) dengan kondisi lebih terasa panas, tanahnya sendiri ambles perlahan dan gembur, hal ini diakibatkan karena jumlah jenazah lebih banyak.
The Lost Book @kisahtanahjawa
Bangunan ujung selatan dibom oleh Nippon tahun 1942 dan mengalami kerusakan pada struktur atasnya hingga ditumbuhi pohon besar dengan akar-akarnya menjuntai, bangunan ini pernah terpilih sebagai lokasi uji nyali program acara televisi, sebab menyimpan kisah yang lebih kelam.
Login and hide ads.