0
The Lost Book @kisahtanahjawa
Dibalik suatu makna teduh, pastinya akan selalu ada alkisah yang tersimpan rapih dibaliknya. Sebagian bersembunyi enggan terkuak, sebagiannya lagi tinggal menunggu waktu untuk dirinya terbebas dari segala rancu konon katanya pic.twitter.com/btBGNTFYeL
The Lost Book @kisahtanahjawa
Namun sebuah rahasia tidak selamanya bisa diam tak terucap. Sebagaimanapun pilunya, tentu akan selalu ada jiwa yang memberontak untuk menjadi sang pencerita. Seperti dirinya, sang manusia merdeka yang masih terjebak dalam sisa cerita setelah berhentinya nafas kehidupan
The Lost Book @kisahtanahjawa
Pena sejarah kemudian kembali mengajak kita ke salah satu sudut kota Yogyakarta yang selalu menyimpan banyak cerita dalamnya. Cerita dimana mesin waktu senantiasa mau berputar kembali pada sebuah masa dimana pendudukan Jepang sedang mendominasi Indonesia
The Lost Book @kisahtanahjawa
Kata Romusha kemudian tidak menjadi asing di telinga sebagian dari kita. Sebuah kata yang sesungguhnya menjadi panggilan akrab mereka kepada warga pribumi yang dipekerjakan secara paksa oleh mereka. Kata ini pula yang kemudian menjadi awalan dari kisah pilu di malam hari ini
The Lost Book @kisahtanahjawa
Sedigdayanya Romusha pada masanya, bukan berarti semua pemerintahan tunduk tanpa daya dibawah kuasa. Yogyakarta misalnya, melalui pemimpin tertingginya kala itu – Sultan Hamengku Buwono IX – juga pernah melayangkan negosiasi yang sekiranya bersifat tidak memberatkan rakyatnya
The Lost Book @kisahtanahjawa
Negosiasi pun terjadi diantara Sultan HB IX dengan penguasa tertinggi Nippon di Jogja saat itu – Koochi Zimukyoku Tyookan. Penguasa Jepang yang saat itu sangat bersikeras untuk memberdayakan Romusha diluar Jawa, terpaksa mengalah oleh ide brilian Sultan HB IX
The Lost Book @kisahtanahjawa
Daripada membuang sumberdaya yang nantinya tahu akan berakhir siksa, Sultan HB IX lebih memilih untuk memberdayakan rakyatnya dalam pembangunan kanal pertemuan antara Sungai Progo dan Sungai Opak, dimana beliau percaya kejayaan akan senantiasa hadir melalui aliran kanal tersebut
The Lost Book @kisahtanahjawa
Pembangunan Selokan Mataram pun akhirnya tercanang. Dan solusi ini juga dirasa menjadi pilihan terbaik bagi rakyat Yogyakarta. Karena selain bekerja untuk daerahnya sendiri, nafkah hidup pekerjanya pun juga dijamin secara pribadi oleh Sang Raja tanpa perlu adanya siksa
The Lost Book @kisahtanahjawa
Namun seindahnya kiasan sejarah yg sudah coba diperbaiki, tetap bisa rusak seketika selama si antagonis msh di dalamnya. Aliran tenangnya harap di sepanjang Selokan Mataram akhirnya menemui gejolak dlm pembangunannya. Daerah Bulaksumur pun seakan siap menutur kisah selanjutnya
The Lost Book @kisahtanahjawa
Bakero!!! (baca: Anjing!!!) umpat prajurit Nippon yang mulai naik emosinya, kala pembangunan di daerah tersebut dirasa sangat lamban. Situasi pun makin memanas kala prajurit Nippon yang terkenal temperamen mulai bermain tangan kepada mereka yang sedang bekerja
The Lost Book @kisahtanahjawa
Rakyat yg tak terbiasa dgn campur tangan Jepang, diam2 jg menyimpan emosi yg siap tersulut. Adalah pekerjaan hina ketika sebuah hal mulia untuk sebuah mimpi kejayaan mulai diintervensi. Pemandangan tubuh pekerja yg menjadi bulan-bulanan, akhirnya menjadi konsumsi sehari-hari
The Lost Book @kisahtanahjawa
Lantas apakah kalian tinggal diam? Tanya kami kepada Alm. Bapak Sutopo yang bersedia untuk bercerita dalam kisah ini. Tentunya tidak, sebagian pekerja yang sudah tersulut emosi karena perilaku kasar para prajurit akhirnya pun terpaksa melawan
The Lost Book @kisahtanahjawa
Dengan peralatan kerja seadanya, mereka pun berbalik menyerang. Pertikaian pun tidak bisa terhindarkan lg, satu per satu nyawa saling berbalik melayang kepada Sang Pencipta. Baginya bukanlah hal sia-sia ketika nyawa memang merupakan harga yg harus dibayar untuk sebuah harga diri
The Lost Book @kisahtanahjawa
Sedikit cerita perlawanan heroik para warga diatas hanyalah satu dari beberapa cerita yg jarang muncul ke permukaan. Jauh sebelum peristiwa tersebut terjadi, sudah tidak terhitung berapa banyak nyawa para pahlawan yang hilang karena kejamnya eksekusi mati di sekitaran daerah ini
The Lost Book @kisahtanahjawa
Yang orang banyak ketahui, mereka hanya sekedar menghantui dibawah rindangnya pohon beringin raksasa di salah satu kawasan kampus terbesar di Yogyakarta. Tubuh bersimbah darah merupakan sebuah bukti akan kenangan suatu masa dimana bangsa ini pernah menjadi pemberani
The Lost Book @kisahtanahjawa
Begitupun mitos lagu Gugur Bunga yang marak didendangkan selama ini. Percayalah, simpang siur tersebut tidaklah pernah menjadi mantra awalan menakuti bagi para pemberani yang pernah ada di tempat ini. Melainkan sebuah nostalgi kebersamaan tentang masa indah tentang arti berjuang pic.twitter.com/MV8D0PQ41T
Login and hide ads.