2
#99 @PartaiSocmed
SKENARIO JAHAT DIBALIK TUDUHAN KECURANGAN PILPRES 2019 pic.twitter.com/1bbrLvyc9L
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Sudah terlalu banyak hoax dibuat untuk mem-framing bahwa Pilpres ini tidak akan berjalan secara jurdil. Mulai dari hoax tujuh kontainer surat suara palsu, hoax tentang temuan kotak suara yg sudah dicoblos di kantor KPU, hingga yg terbaru hoax tentang aplikasi buzzer2 polisi pic.twitter.com/q9seYdvLi1
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Mulai dari KPU, Bawaslu hingga Polri dituduh tidak netral dan jadi timses pasangan 01. Framing wasit tidak netral ini dilakukan secara terstruktur, massive dan sistematis oleh kubu 02.
#99 @PartaiSocmed
Yang menyedihkan adalah bukti2 tuduhan yg mereka gunakan ternyata semuanya adalah HOAX. Maka pertanyaannya adalah, buat apa mereka mereka mati2an bikin hoax untuk membangun opini adanya kecurangan dalam Pilpres ini? Mengapa kubu 02 tidak fokus saja memenangkan Bowok?
#99 @PartaiSocmed
Apa untungnya bagi kubu 02 jika publik berhasil dibuat percaya bahwa Pilpres 2019 ini curang? Ini pertanyaan kunci sekaligus menjawab motif mereka. Mengapa begitu ngotot mem-framing adanya kecurangan sampai2 merekayasa bukti2 hoax segala?
#99 @PartaiSocmed
Jika menengok kembali pengalaman Pilpres 2014 tentu kita semua masih ingat betul momen sujud syukur fenomenal ini. Tapi kan ketika itu mereka sudah gagal total di MK, masa mau diulang lagi? Buat apa? pic.twitter.com/VCTJ2CgC74
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Ternyata bukannya mereka tidak kapok, tetapi memang ada perkembangan baru yg memungkinkan strategi lama itu dapat berjalan lebih efektif pada Pilpres 2019 dibanding Pilpres 2014 lalu.
#99 @PartaiSocmed
Selama 2014 hingga 2019 ini banyak perkembangan dan perubahan politik terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
#99 @PartaiSocmed
Di dalam negeri, pemerintahan Jokowi mengambil alih Blok Rokan, Blok Mahakam, dan mengakuisisi saham mayoritas Freeport. Di luar negeri, Donald Trump terpilih sebagai Presiden Amerika dan adanya kasus dukungan Amerika pada Guaido di Venezuela belakangan ini
#99 @PartaiSocmed
Nah, yg sedang dilakukan oleh kubu 02 saat ini adalah menjalankan strategi jadul konsultan politik Rob Allyn dengan sikon yg berbeda dari Pilpres 2014: 1. Muddy the statistical waters 2. Steal the results
#99 @PartaiSocmed
Tahapan saat ini "Muddy the statistical waters". Caranya adalah seperti yg sedang kita lihat sekarang ini, mulai dari mempersoalkan kotak suara kardus (yg sebelumnya mereka setujui), framing tentang ketidak netralan KPU hingga Polisi.
#99 @PartaiSocmed
Selain itu tentu saja hasil survey2 abal2 agar memberi kesan posisi mereka leading atau setidaknya sedang menanjak trendnya. Lembaga survey abal2 Puskaptis yg dulu memenangkan Prabowo sekarang masih tetap dipakai, cuma berubah nama jadi Indomatrik.
#99 @PartaiSocmed
Tujuan dari "Muddy the statistical waters" ini adalah menciptakan kerancuan pd data2 statistik dan ketidakpercayaan pd penyelenggara pemilu sebagai pintu masuk bagi langkah selanjutnya, yaitu "Steal the results". Praktek ini sudah mereka lakukan di 2014 tapi digagalkan oleh MK
#99 @PartaiSocmed
Bagaimana dengan Pilpres 2019? Kondisinya agak berbeda, baik akibat perkembangan di dalam negeri maupun luar negeri seperti yg kami sampaikan sebelumnya. Tidak heran kubu 02 mengulang strategi 2014 bahkan dengan cara2 yg lebih terstruktur, massive dan sistematis
#99 @PartaiSocmed
Goalnya jelas, yaitu terjadinya dispute atas hasil pemungutan suara, jika kubu Bowok kalah. Tentu saja jika menang mereka akan anggap Pemilu berjalan dengan sangat jurdil.
#99 @PartaiSocmed
Dan apa yg bakal terjadi jika Bowok kalah? Sudah bisa ditebak, tentu akan sujud syukur lagi. Namun kali ini proses di MK tidak cukup dengan menghadirkan dukun seperti tahun 2014 lalu, tetapi bisa jadi dikawal oleh demo besar2an bernomor seri pic.twitter.com/rD1J86Culn
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Jika kondisi sudah 'dimatangkan' sedemikian rupa maka keterlibatan asing diharapkan jadi juri penentu seperti yg terjadi di Venezuela saat ini. pic.twitter.com/6kvgGvEFOB
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Apakah kami sedang mengarang bebas? Tentu tidak. Prediksi Amerika tidak "happy" dengan proses akuisi mayoritas saham Freeport itu justru berasal dari kubu 02 sendiri. pic.twitter.com/lAWMQdnvyt
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Dan bagi Amerika dibawah Trump saat ini Bowok jauh lebih bisa 'menghormati' AS dibanding Jokowi. Perlu diingat juga sejarah masuknya Freeport ke Papua adalah berkat jasa Soeharto dan Soemitro Djojohadikusumo. pic.twitter.com/R8jVs8Tavm
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Itulah sebabnya Hashim Djojohadikusumo baru2 ini secara khusus datang ke AS untuk memaparkan visi-misi 02. Memaparkan bahwa Bowok adalah sahabat AS. pic.twitter.com/hEYzB2MBtp
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Keyakinan bahwa jika terjadi dispute maka proses di MK bisa dikawal dgn demo besar2an dan adanya dukungan AS inilah yg membuat kubu mereka tak henti2nya melakukan delegitimasi terhadap para wasit pemilu.
#99 @PartaiSocmed
Mereka sudah lakukan itu di tahun 2014 dan mustahil mereka tak akan mengulanginya lagi. Kali ini dengan situasi dan kondisi yg jauh berbeda.
#99 @PartaiSocmed
Oya, apakah jika Jokowi 'dikalahkan' nanti saham Freeport yg sudah terlanjur dikuasai pihak Indonesia itu bisa kembali dikuasai Freeport? Jawabannya, BISA. Dan ada pengalaman tentang hal ini.
#99 @PartaiSocmed
Dulu Freeport sudah melakukan divestasi saham. Ketika itu 10% saham Freeport dilepas kepada pihak Indonesia dan dikuasai oleh kelompok Bakrie. Yg terjadi kemudian, Freeport membeli kembali semua saham yg dilepasnya itu dengan harga premium.
#99 @PartaiSocmed
Jadi kepentingan AS jelas disini, dan kepentingan AS itu hanya bisa 'dihormati' oleh Bowok yg kebetulan mertua dan ayahnya sangat berjasa memberi karpet merah atas kehadiran Freeport di Indonesia. Sedangkan Jokowi terlalu nasionalis bagi kepentingan AS.
Load Remaining (2)

Comment

Teguuh @yaTegak 06/03/2019 13:57:54 WIB
Negara ini harus dibangun, negara ini tidak boleh dirusak. Buat jera perusak negara.
Login and hide ads.