4
Dragono Halim @DragonoHalim
... dan seumur-umur, sekarang #barutahu kalau ada kunci pas di lambang OSIS (SMP/SMA). Cocoknya buat STM/SMK, dong. 😅 pic.twitter.com/V7jaxGdFbV
 Expand pic
Dragono Halim @DragonoHalim
On a serious note, tetap banyak sekolah, guru, dan siswa di Indonesia yg bisa berpikir lebih maju dibanding ilustrasi di atas, kok. Mereka sama-sama saling belajar, dan memperlakukan ujian sebagai konsekuensi. Selebihnya, di SMP dan SMA, mulai berdiskusi tentang masa depan.
Dragono Halim @DragonoHalim
Sayangnya, itu relatif hanya terjadi di lingkungan yg mendukung. Katakanlah di sekolah-sekolah favorit, atau dengan guru-guru/civitas akademika yg berpikiran terbuka. BUKAN dikondisikan secara sistematis. Maka, tidak aneh kalau ada sekolah-sekolah bertitel favorit.
Dragono Halim @DragonoHalim
Tanpa bisa dihindari, dikotomi sekolah di pinggiran kota dan sekolah di tengah kota tetap berperan. Kalau ada anomali, paling-paling ada siswa atau guru berprestasi dari sekolah pinggiran, kemudian mendapatkan tawaran untuk bersekolah/mutasi tempat mengajar ke sekolah lain.
Dragono Halim @DragonoHalim
Jadi, ketika ada celetukan: "Sekolah itu bukan jaminan. Biar sekolahnya di pelosok, kalau memang cemerlang, pasti kelihatan" itu adalah anomali. Syukur-syukur ada, dan punya dampak di lingkungannya. *merasa bersyukur dulu memilih SMA sendiri, meskipun harus mendaftar sendiri*
Dragono Halim @DragonoHalim
Teriring harapan, semoga para orang tua masa kini, yg lebih sadar, peduli, dan paham pentingnya kualitas pendidikan, bisa dan mampu mengupayakan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Tujuan besarnya: Generasi baru masyarakat yg lebih baik.
Dragono Halim @DragonoHalim
Kualitas pendidikan pun bisa lebih merata. Mau sekolah negeri, sekolah swasta berkualitas, sekolah swasta kelas samping. Pokoknya, semua mampu berperan penuh. Para gurunya juga bukan sekadar bermata pencarian dengan mengajar. Artinya, bermental dan material sejahtera.
Dragono Halim @DragonoHalim
Salam buat para alumnus SD Sumber Mas (sudah bubar), SMPN 15 Samarinda, SMAN 1 Samarinda, Universitas Mulawarman. Tanpa bersekolah di sana, mungkin saya tidak begini, sekarang (bisa lebih terpuruk ... atau malah lebih cemerlang 😅)
Dragono Halim @DragonoHalim
Satu contoh nyata, baru banget terjadi waktu mudik Imlek setahun dan dua tahun terakhir. Para keponakan yg masih SMA kelihatan banget bingung ingin berkuliah apa, di mana. Belum punya landasan yg kuat, ditambah keinginan orang tua untuk memilih jurusan. Sayang.
Dragono Halim @DragonoHalim
"Ya, sudah. Aku terserah mama aja. Mama yg bayar, kok."
Dragono Halim @DragonoHalim
Pendidikan seolah-olah adalah kompetisi balapan. Kalau tinggal kelas, malu. Kalau tidak lulus, malu. Jadi, mau tidak mau, harus terus melaju dan jangan sampai tertinggal. Padahal, ya, mungkin memang penyampaian materi pelajaran atau daya tangkap siswa ybs yg spesial.
LISMA S. @lisma327
@DragonoHalim Makin kesini makin mikir, "nanti anakku mau homeschooling aja, kurikulum di sekolah formal semakin hari terasa semakin jahat." Padahal aku bekerja di sekolah sbg guru. Hehe
Dragono Halim @DragonoHalim
@lisma327 Kebayang, masalahnya adalah penyetaraan ijazah, omongan orang lain kepada orang tua (peduli amat, sih, hehehe), omongan teman sebaya si anak, omongan pihak lain yg berhubungan dengan si anak di masa depannya.
LISMA S. @lisma327
@DragonoHalim Gpp, Ibu-Bapaknya berarti harus kuatin mental dari sekarang. Sistem homeschooling seengganya gak terlalu kaku, lebih memanusiakan manusia. Dan sekarang homeschooling makin menjamur artinya sistem di sekolah mulai dirasa terlalu maksain. Ada KKM, UN, plus soal HOTS.
LISMA S. @lisma327
@DragonoHalim Aamiin. Tapi masih menyimpan secercah harapan semoga sistem pendidikan di Indonesia bisa menjadi payung yang meneduhkan untuk siswa sekaligus guru, kiblatnya semoga bisa bergeser. Berkarakter tak hanya ada dalam silabus tapi bisa dipraktekan dalam semua aspek kehidupan. 💪
Dragono Halim @DragonoHalim
@lisma327 Peralihan lintas generasi salah satu kuncinya. Banyak kaum muda yg mengambil alih, dan berkaca dari pengalaman mereka di masa kecil, mereka berusaha agar tidak terulang lagi bagi anak-anak mereka. Mudah-mudahan.
Hafizhurrahman @MethodologistID
@DragonoHalim Menurut saya perbandingan tersebut tidak apple to apple. Untuk "format pendidikan di Eropa" yang diuraikan adalah capaian pembelajaran, sementara untuk "format pendidikan di Indonesia" yang diuraikan adalah metode transfer pengetahuan dan pengevaluasian pemahaman. Cmiiw.
Dragono Halim @DragonoHalim
@MethodologistID Mungkin maksud dari ilustrasi tersebut, belajar merujuk pada pembelajaran akademik. Semua mengacu ke mata pelajaran formal. Ujian pun disampaikan dengan metode yg itu-itu saja. Semua mengarah ke target nilai.
Hafizhurrahman @MethodologistID
@DragonoHalim Saya tidak paham betul terkait uraian mas barusan 1. Belajar merujuk pada pembelajaran akademik; Di Indonesia, proses belajar mengajar mengacu pada pembelajaran yang sifatnya akademis (ilmiah).
Dragono Halim @DragonoHalim
@MethodologistID Pembelajaran akademik mencakup paket-paket mata pelajaran. Berhitung-matematika-kalkulus-dst. Saat SD atau SMP, apakah tepat diajari dan diharuskan menguasai sejumlah bab yg kemudian diulangi di SMA?
Hafizhurrahman @MethodologistID
@DragonoHalim Apakah capaian pembelajaran di sekolah dasar yang menjadi "dasar" untuk ke "tahap menengah", "tahap atas", dan "tahap tinggi" di Indonesia fokusannya hanya "belajar+ujian?" Enggak. Kan itu ada di kurikulum (seperangkat rencana mengenai tujuan, isi, bahan pelajaran & cara)
Dragono Halim @DragonoHalim
@MethodologistID Betul, dan semoga saja kurikulum rancangan terakhir yg sudah dilengkapi dengan framework pendidikan terbaru bisa diterapkan maksimal, dan memberi dampak positif. 🙂 Posisi saya bukan sebagai pengkritik buta, tetapi masih ada ruang perbaikan yg relatif luas.
Hafizhurrahman @MethodologistID
@DragonoHalim Posisi saya untuk mengkritisi twit mas yang menurut saya tidak apple to apple kepada "fokus pembelajaran di Indonesia".
Load Remaining (1)
Login and hide ads.