0
Hara Syifa @harasyifaaa
Ma’ruf Amin lagi-lagi melontarkan pernyataan yang memantik kontroversi di publik. #Biru14 pic.twitter.com/o2RZYCrfAF
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
1. Berbicara di depan pendukungnya di Jawa Timur, calon wakil presiden pendamping petahana ini kembali menyeret organisasi yang dipimpinnya, Nahdlatul Ulama (NU), untuk terjun ke dalam politik praktis. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
2. Menurutnya, jika warga NU tidak memilih dia, itu keterlaluan. Ini bukan kali pertama Dewan Penasehat PBNU itu hendak mengklaim dukungan NU secara organisatoris. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
3. Beberapa waktu usai pendaftaran sebagai cawapres di KPU, Ma’ruf meminta NU harus habis-habisan memenangkan dirinya. Kelakuan inilah yang sebenarnya keterlaluan. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
4. Upaya terang-terangan Ma’ruf menyeret NU masuk pusaran politik praktis, jelas bertentangan den­gan Khittah NU sebagai ormas keagamaan. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
5. Siapapun kader NU dapat berkiprah di kelompok politik manapun, namun tidak perlu membawa-bawa nama organisasi Islam tersebut. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
6. Sebenarnya, dzur­riyah muassis alias anak cucu pendiri NU be­berapa waktu lalu menggelar pertemuan akibat ulah Ma’ruf tersebut. Mereka sedih menyaksikan NU yang terlalu jauh diseret ke politik praktis. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
7. Karena itu mereka memutuskan agar NU kembali ke rel khittah 1926 sebagaimana yang dirumus­kan oleh pendirinya. NU bukan partai politik, melainkan organisasi sosial keagamaan dan kemasyarakatan. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
8. Sangat tidak elok jika NU kembali menjadi lembaga politik, karena sudah ada keputusan final mengenai Khittah Nahdlatul Ulama yang menyatakan bahwa NU sama sekali tidak berafiliasi dengan politik praktis. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
9. Ada beberapa poin penting yang terdapat dalam anggaran dasar NU bahwasannya NU adalah Jam’iyyah Diniyyah. Yang mempunyai tujuan untuk mengembangkan Islam yang berdasarkan ajaran empat Mazhab. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
10. Adapun tujuan itu dimanifestasikan ke dalam beberapa poin. Pertama, memperkuat persatuan di antara sesama ulama penganut ajaran empat Mazhab. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
11. Kedua, meneliti kitab-kitab yang dipergunakan untuk mengajar agar sesuai dengan ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah. Ketiga, menyebarkan ajaran Islam yang sesuai dengan ajaran empat Mazhab. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
12. Keempat, membantu pembangunan masjid, surau dan pondok pesantren serta membantu kehidupan anak yatim dan fakir miskin. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
13. Kelima, memperbanyak lembaga pendidikan Islam dan memperbaiki organisasinya. Keenam, meningkatkan badan-badan untuk meningkatkan perekonomian anggota. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
14. Melalui enam manifestasi di atas, tidak ada visi NU untuk berkecimpung di dalam politik praktis. Namun demikian, dinamika NU yang dinamis memaksanya untuk berkecimpung secara politik praktis sejak masa awal kemerdekaan. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
15. Hal ini tidak lepas dari ajaran empat Mazhab itu sendiri yang di dalam literatur-literaturnya dijumpai banyak pembahasan tentang fikih siyasah. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
16. Oleh sebab itu, bergabunglah NU ke dalam partai Islam yang disebut dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI). #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
17. Seiring berjalannya waktu, NU keluar dari Masyumi dan mendirikan partai secara mandiri. Hal ini tak lepas dari keputusan-keputusan Masyumi yang banyak mendiskreditkan NU dan dianggap tidak pernah suara dari NU. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
18. Pada tahun 1952, berdirilah partai politik yang bernama NU. Dalam waktu singkat NU harus berjibaku mengikuti pemilu 1955, dan yang membuat kekagetan banyak orang, partai NU mendapatkan suara lebih banyak daripada partai induknya, Masyumi. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
19. Seruan kembali ke khittah 1926 muncul kembali pada 1971, saat itu ketua umum PBNU KH. Muhammad Dahlan menilai langkah NU terjun ke politik praktis merupakan sebuah kemunduran. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
20. KH. Ahmad Siddiq, Jember kemudian menjadi lakon utama dalam khittah NU. Ia menulis beberapa poin yang begitu komprehensif. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
21. Jadi, cukup beralasan jika beberapa kiai pun mengkritik sikap Ma’ruf yang ingin menyeret NU untuk kembali berkecimpung dalam politik praktis. #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
22. Tidakkah PBNU merasa kapok dengan kegagalan di masa lalu? Saat KH. Hasyim Muzadi waktu itu masih menjabat ketua umum PBNU dan dicalonkan sebagai cawapres mendampingi Megawati, tapi kemudian kalah? #Biru14 pic.twitter.com/4oxiofdm0V
Expand pic
Hara Syifa @harasyifaaa
23. Hal paling ditakutkan ketika pimpinan PBNU apalagi semacam mantan Rais Am mengikuti kompetisi politik praktis adalah ketika kekalahan menimpa. Di mana akan diletakkan marwah ulama ketika ia justru tidak dipilih oleh umat? #Biru14
Hara Syifa @harasyifaaa
24. Apa yang akan dilakukan kemudian? Ini tentu hanya akan mempermalukan NU sendiri. Renungkanlah itu Kiai Ma’ruf. Berkacalah kepada masa lalu. #Biru14 pic.twitter.com/8FIyeICHlU
Expand pic
Load Remaining (1)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.