Soal Tax Ratio Mau di genjot sampai 16%, Ini Respons Sri Mulyani

0

Ketika menjadi pembicara dalam acara Kompas Gramedia di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (22/11/2018), Sri Mulyani menyampaikan bahwa pemerintah saat ini terus berupaya meningkatkan tax ratio Indonesia.

"Ada yang bilang kalau tax ratio kita itu rendah. Makanya kita perbaiki, tanpa menimbulkan kekhawatiran bagi perekonomian," katanya.

Kekhawatiran yang disampaikan bendahara negara terbilang wajar. Sebab, pemerintah tidak ingin merusak momentum pertumbuhan ekonomi dengan mengejar pajak secara membabi buta.

Tax ratio atau rasio pendapatan pajak terhadap PDB yang mengukur formula kinerja perpajakan dengan membandingkan penerimaan pajak dari PDB dalam waktu tertentu.

Semakin rendah tax ratio, maka semakin rendah pula kepatuhan wajib pajak dalam negeri. Selain itu, kemampuan pemerintah untuk menggali sumber penerimaan pajak dari berbagai sektor belum optimal.

Namun, akselerasi perekonomian pada tahun ini membuat penerimaan negara terutama dari sisi pajak moncer. Per 31 Oktober 2018, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp 1.160,7 triliun atau tumbuh 17% yoy.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu bahkan optimistis, penerimaan pajak pada tahun ini akan jauh lebih baik dibandingkan realisasi tahun-tahun sebelumnya.

"Growth penerimaan positif robust, belanja bagus, defisit lebih kecil. Sehingga tax ratio naik, spending naik. Semua nilainya hijau dan biru. Tidak ada yang merah rapornya," tegas dia.

Pada 2014, tax ratio berada pada level 13,7%. Namun, tax ratio kemudian menurun setahun berselang menjadi 11,6%. Kemudian turun lagi menjadi 10,8% pada 2016 dan makin menciut sampai 10,7% pada 2017 lalu.

Pada tahun ini, pemerintah menargetkan bisa meningkatkan tax ratio hingga 11,6%. Sementara itu, untuk tahun depan tax ratio ditargetkan bisa berada pada level 12,1%.

Comment

No comments yet. Write yours!