Add to Favorite
0
tirto.id @TirtoID
Monopoli obat ARV membuat pemerintah tak punya nilai tawar. Tender pengadaan obat pun gagal. tirto.id/dd7y pic.twitter.com/RQ8NH3o7JE
 Expand pic

Ancaman Krisis Kelangkaan Obat HIV Akibat Monopoli

tirto.id - Meski belum bisa disembuhkan, efek merusak Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat dikurangi dengan terapi antiretroviral (ARV). Konsumsi ARV secara teratur bisa membuat pengidap HIV memiliki angka harapan hidup setara dengan orang yang tidak terinfeksi HIV. Sayangnya, saat ini Indonesia sedang mengalami krisis ARV akibat kegagalan tender.
HIV adalah virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. Ia masuk melalui mukosa, menginfeksi sel dendritik lalu sel CD4 (komponen dalam sel darah putih). Virus kemudian dibawa kelenjar getah bening, berkembang biak di kelenjar limfa, lalu menyebar ke organ lain seperti otak, limpa, usus hanya dalam hitungan hari karena terbawa aliran darah.

Terapi ARV bertujuan untuk menghambat replikasi virus dan menekan pertumbuhannya sehingga CD4 meningkat dan sistem kekebalan tubuh kembali pulih. ARV telah menjadi program penanggulangan HIV-AIDS di seluruh dunia karena efektif menekan jumlah HIV sampai ke tingkat yang tidak bisa dideteksi alat deteksi jumlah HIV (HIV Viral Load). Selain itu, ARV juga mencegah pengidap HIV menularkan virusnya kepada orang lain. Artinya, ARV punya dua manfaat, yakni sebagai penyelamat hidup dan pencegah penyebaran.

“Dengan meminum ARV, orang dengan HIV tidak akan menularkan virus ke pasangan dan ke anak asal dikonsumsi secara tertib dan teratur,” ungkap dr. Ronald Jonathan, konselor HIV/AIDS.

ARV dikonsumsi seumur hidup oleh pengidap HIV dan tidak boleh terputus. Kondisi putus obat bisa membikin resistensi virus dan orang tersebut harus mendapat resep lain dengan jenis atau dosis obat berbeda. Konsumsi ARV memiliki efek samping jangka pendek berupa lelah, mual (sakit perut), muntah, diare, sakit kepala, demam, nyeri otot, insomnia.

Tapi meski begitu, Ronald menyatakan efek yang ditimbulkan cenderung kecil bila dibanding manfaat ARV. Konsumsi ARV memperlambat laju virus menuju stadium klinis, atau yang biasa disebut AIDS. Pada stadium ini, HIV diiringi berbagai penyakit mematikan.
Gagal Tender
Saat ini di Indonesia orang dengan HIV-AIDS (ODHA) diperkirakan mencapai 631.635 jiwa. Prevalensi individu yang tahu status mencapai 301.959 jiwa, pernah menerima pengobatan 180.843 jiwa, dan sedang dalam pengobatan sebesar 96.298 jiwa. Mayoritas ODHA di Indonesia sebanyak 43,586 jiwa atau sekitar 42 persen dari total ODHA menggunakan obat ARV kombinasi Tenofovir, Lamivudin dan Efavirenz (TLE).

Kombinasi obat ini, dibuat dalam bentuk Fixed Dosed Combination (FDC) guna memudahkan konsumsi pada pasien. FDC hanya perlu diminum 1 butir sekali, sementara obat pecahan ARV harus diminum per butir dengan dosis Tenofovir 1 butir, Lamivudin 2 butir, dan Evavirenz 1 butir. ARV jenis FDC didistribusikan dari India ke Indonesia lewat tender terbatas yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan PT Kimia Farma dan PT. Indofarma Global Medika.

Mirisnya, pada Desember 2018 lalu, tender pengadaan ARV tidak mencapai titik temu dan gagal karena kedua perusahaan farmasi tak menyetujui harga rasional yang diajukan Kemenkes. Selama ini Kimia Farma menjual FDC dengan harga Rp404.370 sementara Indofarma dengan harga Rp385 ribu. Padahal harga obat ini di pasaran internasional hanya berkisar di angka Rp112 ribu.

“Artinya, keuntungan yang mereka ambil jauh lebih besar dari harga obat. Apalagi jika mengurus bebas bea masuk dan PPN,” ungkap Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC), Aditya Wardhana dalam keterangan publik di Jakarta Pusat, Kamis (10/01).

Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 197/KMK.010/2005 menyatakan pembebasan bea masuk dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas impor bahan baku ARV. Selama ini, harga obat ARV di Indonesia merupakan harga beli obat ARV tertinggi di dunia. Pada tahun 2016, anggaran yang dikeluarkan pemerintah untuk pengadaan ARV mencapai Rp826 juta, naik menjadi Rp1,19 miliar pada 2017, menyedot anggaran kedua setelah vaksin.

Kondisi ini membikin pemborosan uang negara sebesar lebih dari Rp210 miliar per tahun. Padahal jika digunakan untuk menambah cakupan maka potensi efisiensi tersebut bisa digunakan untuk menambah akses ARV FDC pada 150-200 ribu ODHA.

Krisis ARV
Kegagalan tender pada Desember lalu berdampak pada kelangkaan FDC di Indonesia karena APBN tak bisa digunakan untuk membeli langsung ARV dari India. Walhasil, kekosongan stok FDC mulai terjadi di banyak tempat. Beberapa fasilitas kesehatan pun harus meresepkan ARV jenis pecahan kepada pasiennya. Tapi solusi ini kemudian memunculkan masalah lain: konsumsi ARV pecahan dianggap merepotkan dan tidak efisien.

Kemenkes akhirnya melakukan pengadaan darurat obat ARV FDC dengan menggunakan dana bantuan donor Global Fund. Mereka membeli langsung ARV dari produsen di India namun hanya dalam jumlah terbatas, yakni sebanyak 220 ribu botol. Jumlah tersebut cuma mencukupi kebutuhan hingga bulan April 2019. Paska April 2019, jika masih terjadi kebuntuan proses lelang, maka krisis obat ARV FDC akan berulang dan bahkan dalam skala lebih luas.

“Saya curiga tender ini memang diatur supaya gagal sehingga pemerintah harus beli ARV pecahan,” ujar Adit skeptis.

Jika membeli ARV dalam bentuk pecahan, maka BUMN farmasi tersebut tetap menjadi pihak yang diuntungkan. Sementara Kemenkes tidak punya jalan lain karena obat harus terus tersedia. Kegagalan tender FDC memaksa Kemenkes membeli tiga jenis obat dengan harga di atas pasaran internasional. Sebagai contoh, Tenofovir dijual dengan harga Rp252.720 kepada pemerintah, sementara harga jual internasional hanya dipatok Rp47 ribu saja.

Monopoli obat akan terus berlanjut dan pemerintah tetap tidak memiliki daya tawar selagi tidak menerapkan kompetisi yang jujur, transparan, dan sehat. Harga ARV bisa turun dan stoknya terjamin hanya dengan mendorong pabrikan lain terlibat dalam proses pengadaan ARV. Jika krisis ARV dibiarkan berlanjut, risiko putus obat akan semakin besar dan negara akan menanggung ongkos pengobatan yang jauh lebih mahal ketika resistensi virus merebak.

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf

Q @H1Q1S
@TirtoID Masalah @BPJSKesehatanRI defisit bukan hanya karena orang ga taat bayar iuran, tapi juga monopoli biaya obat dan perawatan yang sudah di luar akal sehat. Masa total harga obat dan biaya yg dikeluarkan di Indonesia bisa berkali-kali lipat lebih mahal dibanding di luar? pic.twitter.com/v5fpn8N3PX
 Expand pic
Tunggal Pawestri @tunggalp
Ini serius isu. Gila. Tolong Kimia Farma dan Indo Farma jelaskan kenapa harga kalian jadi mahal banget? Ini bukan sabotase untuk pelan-pelan membunuh ODHA kan? Apakah mereka tidak tahu bahwa ibu-ibu miskin, anak-anak, banyak yang membutuhkan obat ini? twitter.com/tirtoid/status…
TUSPAN @TUSPANers
@TirtoID Orang2 yang monopoli gini teh hatinya terbuat dari apa yah? Lapis legit gitu?
Tunggal Pawestri @tunggalp
@TirtoID jujur saja, agak capek baca tulisan ini. Poin2 penting baru ada di akhir. Dan ada banyak hal tak terjawab yang mestinya diterangkan. 1. Kenapa Pemerintah Indonesia tidak langsung beli, kenapa harus pakai jasa ‘agen’ 2. Jika ARV FDC langka, yang pecahan masih aman jumlahnya?
Tunggal Pawestri @tunggalp
Tolong @KoalisiAIDS bantu tambah info. Poin2 penting baru ada di akhir. Dan ada banyak hal tak terjawab yang mestinya diterangkan. 1. Kenapa Pemerintah Indonesia tidak langsung beli, kenapa harus pakai jasa ‘agen’ 2. Jika ARV FDC langka, yang pecahan masih aman jumlahnya?
Tunggal Pawestri @tunggalp
Satu lagi, kenapa perusahaan farmasi lain tidak bisa ikut tender? Dan kenapa disebut monopoli jika pada akhirnya bisa impor langsung?
Aditya Riky @adity4riky
@tunggalp @TirtoID Nah itu, baru mau nanya. Kenapa ga bisa beli sendiri ya? Atau ada UU atau.peraturan yg larang?
Tunggal Pawestri @tunggalp
Dan @TirtoID apakah kalian tak bsia tembus mewawancarai Kimia Farma dan Indofarma soal harga ini? Setidaknya menjelaskan kenapa harga ARV FDC maupun pecahan, selalu lebih tinggi dari yang lain? Cek jangan sampai harga tinggi karena harus bayar upeti/komisi
Eng Sastrosumidjo @Eng_2012
@tunggalp @TirtoID Setahu saya untuk jumlah tertentu diatas beberapa ratus juta, aturan nya memang ngga boleh beli langsung, harus open tender, dan biasanya harganya jadi lebih mahal (biaya lelang, etc). Tapi kalau bedanya sampai ratusan persen begini, ngga masuk akal juga. Kenapa ya?
Ijong Ambarita @TOGAambarita
@TirtoID Ini program nasional kan ? Mereka kebayang ga sih efek domino yang bs timbul kalo sampai stok ARV kosong ? Cuma krn segelintir orang ga dapet cuan dr obat ? Buset
🧡🍦 @pecintaicecream
@Eng_2012 @tunggalp @TirtoID iya, saya juga taunya begitu mas. open tender. setau saya. lalu kenapa harus kimia farma dan indo Farma karena kimia farma dan indofarma merupakan PBF (pabrik besar farmasi) yg bersinergis dengn kemenkes makanya lewat mereka.
🧡🍦 @pecintaicecream
@Eng_2012 @tunggalp @TirtoID dan yg saya herankan pula, sama. kenapa mreka menawarkan hrga segitu besarnya. apa pertimbanganny? apakah stlah dibeli itu mreka mlakukan pengecekan terkait keaslian dari obat tersebut? sempet berfikir begitu. butuh transparansi bila memang mreka melakukan pengecekan.
Raja Absolut999 @RajaAbsolut999
@TirtoID Jadi inget cerita satir Pengamat Top Indonesia beberapa Hari yg lalu; "Bukan Hanya Ketahanan Pangan & Energy kita yg Lemah, tapi Ketahanan Obat kita parah, jadi umur Negri🇮🇩Ini hanya 14 Hari bila perang meletus RRC vs USA&europe" tragic, BEGINNING OF THE End" @rockygerung 😱
Samkopi @Samboril
@tunggalp @TirtoID Harus ada keterangan jelas dr kimia farma, sm indofarma kenapa bisa harga lelang bisa sampe berlipat lipat, monopoli sampe gini bgt, uda ga ngerti lagi
Q @H1Q1S
@TirtoID @BPJSKesehatanRI @BPJSKesehatanRI jadi harus membayar biaya yang irasional, karena tidak ada pengendalian harga agar harga menjadi wajar. Beras, jagung, telor saja bisa dikendalikan harganya, apakah @KemenkesRI pernah memperhatikan biaya perawatan n obat disini sudah melonjak liar tanpa kendali?
Bohong @dubadit
@tunggalp program medical mariyuana seharusnya udah bisa jadi salah satu solusinya pemerintah. biaya mahal untuk penelitian juga bangun infrastruktur untuk mendukung program ini kayanya worth banget buat jangka panjang. tanam sendiri teliti sendiri pakai sendiri. gausah impor impor. murah
ber-internet sejak 1996, alumnus Apakabar 🐵 @_butet_harahap
@tunggalp imo bukan obat AIDS saja. Dulu alm adikku gagal ginjal, hemodialisis mandiri pake cairan CAPD. Kaget, harga cairan di @rscm_official lebih mahal drpd harga swasta. cc @KemenkesRI @BPJSKesehatanRI
ber-internet sejak 1996, alumnus Apakabar 🐵 @_butet_harahap
@tunggalp @rscm_official @KemenkesRI @BPJSKesehatanRI Saya tanya dan dengan polos orangnya bilang, "RS cari untung juga, bu." Ini bayarnya pake pajak rakyat, tega bener. 😠 Adikku saat itu pake KJS, pake uang rakyat DKI.
Load Remaining (20)
Login and hide ads.