1
Deva Irawan @devairawan_
Tong kosong memang nyaring bunyinya. Pepatah itu memang benar adanya. Coba saja anda gedor sebuah tong yang ada isinya, tentu tiada bunyi yang akan terdengar. Tapi bila tong itu tiada berisi, maka akan keluarlah suara.
Deva Irawan @devairawan_
Dalam dunia nyata, pepatah itu pun berlaku pula.
Deva Irawan @devairawan_
Orang yang tidak punya pengetahuan, alias kosong, cenderung lebih lantang berbicara.
Deva Irawan @devairawan_
Entah apa tujuannya. Mungkin saja untuk menutupi kondisi ketidaktahuannya.
Deva Irawan @devairawan_
Sayangnya, kali ini yang berperilaku seperti tong kosong itu adalah seorang ekonom yang cukup punya nama.
Deva Irawan @devairawan_
Lewat akun twitter pribadinya, Faisal Basri yang merupakan seorang ekonom dari Universitas Indonesia, menyatakan bahwa Indonesia salah mengelola gula.
Deva Irawan @devairawan_
Menurutnya, dua tahun terakhir ini Indonesia menjadi importir gula terbesar di dunia.
Deva Irawan @devairawan_
Importasi ini lah yang dianggapnya berkontribusi dalam menciptakan defisit perdagangan.
Deva Irawan @devairawan_
Data yang dibeberkan Faisal memperlihatkan bahwa sepanjang tahun 2017-2018, Indonesia mengimpor gula hingga 4,45 juta ton.
Deva Irawan @devairawan_
Volume impor gula ini tertinggi dibanding Cina (4,2 juta ton), Amerika Serikat (3,11 juta ton), Uni Emirat Arab (2,94 juta ton), Bangladesh (2,67 juta ton), dan Aljazair (2,27 juta ton).
Deva Irawan @devairawan_
Volume gula yang diimpor Indonesia itu juga melampaui negara seperti Malaysia (2,02 juta), Nigeria (1,87 juta ton), Korea Selatan (1,73 juta ton), dan Arab Saudi (1,4 juta ton).
Deva Irawan @devairawan_
Selain itu, ekonom yang pernah gagal di Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu itu mengatakan bahwa harga gula di Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan dengan negara lain.
Deva Irawan @devairawan_
Sebagai contoh, per Januari 2017, harga gula per kilogram di Indonesia US$ 1,1, sementara harga gula di dunia US$ 0,45.
Deva Irawan @devairawan_
Begitu juga per Juni 2017, harga gula sebesar US$ 1 per kilogram, atau lebih tinggi ketimbang harga di dunia US$ 0,31.
Deva Irawan @devairawan_
Pada November 2018, harga gula di Indonesia sebesar US$ 0,85 atau melampaui harga gula dunia US$ 0,28.
Deva Irawan @devairawan_
Dengan kurs Rp 14.041 per dolar AS, harga gula di Indonesia saat itu mencapai Rp 11.936 atau tiga kali lipat dari harga gula dunia Rp 3.932 per kilogram.
Deva Irawan @devairawan_
Parahnya lagi, Faisal menuduh bahwa ada pemburu rente yang meraup triliunan rupiah dari impor gula tersebut. pic.twitter.com/f4WrgPFbaH
 Expand pic
Deva Irawan @devairawan_
Untung saja, informasi semacam ini tidak dibiarkan berkembang liar.
Deva Irawan @devairawan_
Lewat Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution, dijelaskan bahwa yang diimpor merupakan gula industri, bukan gula konsumsi.
Deva Irawan @devairawan_
Gula industri bukanlah gula yang biasa kita seduh untuk menambah manis teh atau kopi.
Deva Irawan @devairawan_
Gula industri ini digunakan untuk kebutuhan industri makanan dan minuman.
Deva Irawan @devairawan_
Selain itu, impor gula industri juga dilakukan atas rekomendasi Kementerian Perindustrian, berdasarkan permintaan pelaku industri.
Deva Irawan @devairawan_
Oleh karena itu, impor gula kita, tidak seliar seperti yang digembar-gemborkan Faisal Basri.
Load Remaining (3)
Login and hide ads.