3
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
Mengapa hewan beracun tidak terkena racunnya sendiri? "Segala sesuatu adalah racun, tak ada yang tak bisa jadi racun, cuma dosisnya lah yang membuat sesuatu itu jadi beracun" - Paracelsus pic.twitter.com/n8Zw19tcAg
 Expand pic
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
1. Saat Charles Darwin masih mahasiswa di Cambridge ia merobek kulit pohon tua dan menemukan dua ekor kumbang, dia mengambilnya dengan kedua tangan, masing-masing satu. Kemudian dia melihat serangga ketiga, ingin diambil juga, satu serangga yang ditangan disimpannya dalam mulut
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
2. Tiba-tiba Charles merasakan semburan cairan panas yang pahit dalam mulutnya. Serangga yang menyerangnya adalah Bombardier Beetle Serangga ini adalah satu dari banyak binatang seperti katak, ubur-ubur, salamander dan ular yang menggunakan bahan kimia beracun utk melindungi diri
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
3. Dalam kasus ini Bombardier Beetle mengeluarkan cairan beracun dari kelenjar di perutnya. Tapi kenapa zat sengit yang ditembakkan pada suhu 100 derajat celsius ini tidak menyakiti serangga itu sendiri? Bagaimana hewan beracun selamat dari racunnya sendiri?
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
4. Jawabannya adalah mereka menggunakan satu dari dua strategi dasar yaitu dengan menyimpan senyawa ini dengan aman atau berevolusi menjadi tahan terhadap racun tersebut Bombardier Beetle menggunakan cara pertama, racunnya disimpan dalam dua ruang berbeda dalam perutnya pic.twitter.com/UDO6MuMfrp
 Expand pic
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
5. Ketika merasa terancam katup antar ruang tersebut terbuka dan saat kedua zat tersebut tercampur terjadi reaksi kimia yang menyembur melalui kelenjar tersebut. Dengan cara yang sama, ubur-ubur juga menyimpan racunnya dalam struktur berbentuk jarum yang disebut nematocysts
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
6. Ular beracun menyimpan racunnya dalam ruang khusus yang hanya punya satu jalan keluar, yaitu melalui taringnya Tapi ular juga menggunakan biochemical resistance sebagai pertahanan diri. Sebagian ular menyimpan dan mengikat racun yang tidak aktif dalam darahnya pic.twitter.com/9i3jSiAEb0
 Expand pic
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
7. Sementara itu katak panah berevolusi jadi anti sama racunnya sendiri tapi dengan cara lain. Katak menggunakan zat pahit yang disebut alkaloids. Alkaloids dikumpulkan dari memakan arthropoda kecil seperti kutu dan semut. Salah satu alkaloid paling berbahaya adalah epibatidine
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
8. Epibatidine mengikat pada reseptor di otak seperti nikotin tapi minimal sepuluh kali lebih kuat, dengan jumlah hampir sebutir gula pasir saja sudah cukup untuk membunuh manusia. Jadi bagaimana katak panah melindungi dirinya sendiri dari zat semacam ini?
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
9. Bayangkan gembok dan kunci. Gembok sbg target dan alkaloid sbg kuncinya. Ketika kunci membuka gembok, hal tersebut memicu reaksi kimia dan sinyal elektrik, menyebabkan kelumpuhan, pingsan dan kematian Tapi kalau gemboknya diganti, kunci tak lagi cocok dengan gembok tersebut
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
10. Katak panah dan banyak hewan lain punya pertahanan diri seperti ini. Sedikit perubahan genetik mengubah struktur yang mengikat alkaloid, cukup membuat racun syaraf tersebut jadi tidak efektif Tak hanya hewan beracun dan berbisa, predator dan mangsanya pun punya kemampuan ini
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
11. Garter snake memakan neurotoxic salamanders telah berevolusi untuk kebal terhadap racun salamander melalui sebagian perubahan genetik yang sama dengan salamander itu sendiri Itu artinya hanya salamander yang paling beracunlah yang bisa bertahan dari garter snake
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
12. Dan garter snake yang paling kebal lah yang akan selamat dari racun salamander. Akibatnya hanya ular dan salamander yang mempunyai racun dan kekebalan tertinggilah yang akan bertahan hidup dan berkembang biak menjadi banyak hingga bergenerasi selanjutnya
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
13. Seiring menguatnya racun, kekebalan juga menguat. Pertarungan evolusi ini terjadi hingga jutaan tahun. Pola ini muncul terus menerus. Tikus grasshopper kebal terhadap sengatan kalajengking. Horned lizards memakan harvester ants pic.twitter.com/qPlZGTOGeY
 Expand pic
 Expand pic
Julie "Hypatia" 🏳️‍🌈🦄 @RadPlague
14. Demikian pula dengan bombardier beetle, kodok yang menelannya bisa menahan rasa sakit. Kebanyakan beetle dimuntahkan kembali sejam kemudian dalam keadaan hidup, namun bagaimana kodok dapat bertahan dari rasa sakitnya masih belum dapat dipahami sampai saat ini
Ezra Abigail Emeline @EAEmeline
@RadPlague Wah iya bener, aku ada mata kuliah toksikologi pangan, selain dosisnya sama kondisi tubuh manusia juga yang beda2
Login and hide ads.