0
Deva Irawan @devairawan_
Demi mengantisipasi kekurangan pasokan jagung untuk peternak, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman meminta impor jagung.
Deva Irawan @devairawan_
Kenyataan itu terungkap setelah Rapat Koordinasi terbatas di kantor Menteri Koordinator bidang Perekonomian, awal pekan ini.
Deva Irawan @devairawan_
Dalam rapat yang dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, Menteri BUMN, serta Perum Bulog, disepakati bahwa pemerintah akan kembali membuka keran impor jagung untuk pakan ternak.
Deva Irawan @devairawan_
Kuota yang disepakati sebanyak 30.000 ton.
Deva Irawan @devairawan_
Usai keputusan impor itu disetujui bersama, Perum Bulog akan meminta izin ke Kementerian Perdagangan (Kemendag). Setelah itu, Kemendag akan memberikan izin impor.
Deva Irawan @devairawan_
Impor jagung untuk pakan ternak bukan pertama kalinya dilakukan pemerintah. Sebelumnya, pemerintah membuka impor jagung sebanyak 100.000 ton.
Deva Irawan @devairawan_
Alasan impor jagung 100 ribu ton itu pun sama, yakni memberikan kepastian pasokan bagi peternak yang membutuhkan jagung sebagai bahan dasar pakan mereka.
Deva Irawan @devairawan_
Sebenarnya impor jagung untuk pakan itu sudah dihentikan oleh Mentan Amran Sulaiman sendiri di tahun 2016 lalu.
Deva Irawan @devairawan_
Alasannya adalah, produksi jagung dalam negeri sudah mencukupi. Bahkan katanya berlebih. Untuk membuktikan klaim tersebut, Mentan sendiri yang melepas ekspor 300 ribu ton jagung ke Malaysia dan Filipina.
Deva Irawan @devairawan_
Ironisnya, setelah ekspor jagung itu muncul gelombang protes dari peternak yang merasa dirugikan akibat harga jagung mahal.
Deva Irawan @devairawan_
Mereka marah karena di satu sisi mereka kesulitan memperoleh jagung dengan harga murah, tapi di sisi lain pemerintah merayakan ekspor jagung.
Deva Irawan @devairawan_
Alih-alih bertindak memenuhi kebutuhan jagung peternak, Kementerian Pertanian malah melansir data mengenai produksi jagung 2018 yang katanya surplus hingga hampir 13 juta ton.
Deva Irawan @devairawan_
Masalahnya, data itu bertentangan dengan fakta. Kenyataannya, para peternak tidak bisa menemukan jagung sebanyak belasan juta ton tersebut.
Deva Irawan @devairawan_
Masih punya dalih, Kementan lanjut beralasan bahwa surplus jagung itu diserap oleh perusahaan pakan.
Deva Irawan @devairawan_
Tuduhan serius itu langsung dimentahkan pelaku industri yang mengaku tidak punya fasilitas penyimpangan sebesar belasan juta ton. Oleh karena itu, tuduhan Kementan tidak beralasan.
Deva Irawan @devairawan_
Setelah menuduh, Kementan malah balik berbaik-baik pada industri.
Deva Irawan @devairawan_
Karena pada akhirnya, Kementan meminjam jagung dari industri pakan, untuk dibagikan kepada peternak rakyat. Dan setelah itu, Kementan mengajukan impor jagung 100 ribu ton.
Deva Irawan @devairawan_
Seandainya klaim Kementan itu benar, bahwa terjadi surplus produksi, berarti masalah sebenarnya bukan pada ketersediaan pasokan.
Deva Irawan @devairawan_
Banyaknya pasokan jagung tidak serta-merta menurunkan harga di pasaran. Terbukti dari impor 100 ribu ton yang kini diikuti dengan tambahan 30 ribu ton lagi.
Deva Irawan @devairawan_
Seperti disampaikan oleh seorang pengamat, pemerintah hendaknya tidak tergesa-gesa menjadikan impor sebagai solusi.
Deva Irawan @devairawan_
Karena bisa saja, antara pasokan dan harga tidak ada korelasi yang biasa. Bisa saja fluktuasi harga tidak terjadi karena ketiadaan pasokan
Deva Irawan @devairawan_
Toh Kementan sendiri yang ngotot mengenai surplus produksi jagung hingga 12 juta ton lebih.
Deva Irawan @devairawan_
Kementan juga yang melepas ekspor 320 ribu ton jagung. Tentu Kementan tidak sekonyol itu, mengekspor untuk kemudian mengimpor lagi.
Deva Irawan @devairawan_
Bisa jadi masalah jagung ini bukan sekadar pasokan, tapi juga persebaran.
Load Remaining (2)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.