SAATNYA KUBU JOKOWI YANG MENGGIRING BOLA | By @PartaiSocmed

Kami sudah terlibat aktif mendukung Jokowi sejak Pilpres 2014, sehingga tahu persis tuduhan2 dan fitnah kpd Jokowi bukan terjadi baru2 ini saja. Fitnah Jokowi anak PKI, Kristen dan keturunan China itu sdh sangat massive dilakukan sejak tahun 2014. Tak ada bedanya dgn sekarang!
pilkada Sara politician jakarta Jokowi Ahok prabowo dki
2
#99 @PartaiSocmed
SAATNYA KUBU JOKOWI YANG MENGGIRING BOLA pic.twitter.com/5Fs1H3yMgh
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Dalam permainan apapun, pihak yang berhasil mendikte irama permainan selalu berhasil keluar sebagai pemenang, sedangkan pihak yg didikte selalu jadi pecundang.
#99 @PartaiSocmed
Lalu lihatlah, dalam kampanye Pilpres 2019 ini kubu mana yg berhasil mendikte permainan dan siapa yg tergopoh2 ikut meladeni permainan lawan? Sudah mulai terbayang bagaimana hasil akhir dari kampanye ini?
#99 @PartaiSocmed
Sejauh yg kami amati kubu Jokowi seperti sangat trauma dengan kekalahan tragis Ahok di Pilkada DKI. Akibatnya segala strategi dalam memenangkan Pilpres 2019 selalu mengacu pada Pilkada DKI 2017 sebagai benchmark-nya. Termasuk dalam pemilihan Cawapresnya.
#99 @PartaiSocmed
Padahal ini sangat salah kaprah! Pertama, karena Indonesia bukan hanya DKI. Nanti kami jelaskan berdasarkan pengalaman sejarah. Kedua, dengan terlalu mengacu pada pengalaman kekalahan Ahok di Pilkada DKI 2017 kubu Jokowi justru melupakan pengalaman menang pada Pilpres 2014.
#99 @PartaiSocmed
Dlm sejarah demokrasi kita mulai sejak era Orde Lama, Orde Baru hingga saat ini kekuatan Islam memang sangat dominan di DKI. Pd Pemilu 1955 ada Masyumi yg berhasil meraih 26,0% dan NU yg memperoleh 15,6% suara. Sementara di daerah Jawa lainnya partai2 non agama yg mendominasi
#99 @PartaiSocmed
Lalu pada era Orde Baru dimana Pemilu tidak dijalankan secara jujur dan adil PPP pernah memenangkan Pemilu di DKI. Pada Pemilu tahun 1977 meski Golkar berhasil memengangkan suara 61,2% secara nasional namun kalah oleh PPP di DKI. Inilah awal kejatuhan Ali Sadikin.
#99 @PartaiSocmed
Bayangkan, dalam situasi dimana orang tidak memilih Golkar bisa kehilangan pekerjaannya saja PPP bisa menang di DKI. Sedemikian besarnya kekuatan Islam di DKI. Ini fakta sejarah yg berlanjut hingga era pasca reformasi.
#99 @PartaiSocmed
Jadi sungguh sesat logika jika trauma pengalaman kekalahan Ahok di Pilkada dijadikan acuan dalam menyusun strategi pemenangan Jokowi di Pilpres. Sejarah menunjukkan bahwa Pilkada DKI tidak apple to apple dengan Pemilu.
#99 @PartaiSocmed
Selanjutnya mari kita ulas tentang pengalaman menang Jokowi di Pilpres 2014 yg terlupakan akibat TKN terlalu paranoid dengan kekalahan Ahok di Pilkada DKI.
#99 @PartaiSocmed
Kami sudah terlibat aktif mendukung Jokowi sejak Pilpres 2014, sehingga tahu persis tuduhan2 dan fitnah kpd Jokowi bukan terjadi baru2 ini saja. Fitnah Jokowi anak PKI, Kristen dan keturunan China itu sdh sangat massive dilakukan sejak tahun 2014. Tak ada bedanya dgn sekarang!
#99 @PartaiSocmed
Yang membedakannya adalah strategi kita menghadapi fitnah2 dan politik SARA tersebut. Dulu kita secara cerdas memanfaatkan fitnah2 dan politik SARA itu untuk kemenangan Jokowi, sedangkan sekarang tergopoh2 reaktif bahkan ikut2an bermain kotor politik SARA.
#99 @PartaiSocmed
Ketika gencar2nya tuduhan Jokowi anak PKI, beragama Kristen dan keturunan China itu secara elegan Jokowi menjawab sekaligus membuat DIFERENSUASI dengan pihak lawan:
#99 @PartaiSocmed
"Saya Jokowi, bagian dari Islam yg rahmatan lil alamin. Islam yg hidup berketurunan dan berkarya di negara RI yg memegang teguh UUD 45. Bhinneka Tunggal Ika adlh rahmat dari Tuhan. Saya bukan bagian dari kelompok Islam yang sesuka hatinya mengafirkan saudaranya sendiri."
#99 @PartaiSocmed
Secara sangat cerdas kubu Jokowi saat itu menepis tuduhan2 dan fitnah lawan sambil menunjukkan diferensiasi dgn pihak lawan. Islamnya kubu Jokowi adalah Islam yg lembut dan ramah sedangkan Islamnya pihak lawan adalah Islam yg keras.
#99 @PartaiSocmed
Dan yg terpenting ini, kubu Jokowi saat itu paham betul bahwa fitnah2 lawan bisa dikelola menjadi faktor yg justru menguntungkan Jokowi. Orang Indonesia itu cenderung memihak pada pihak yg dizholimi. Itulah yg dikapitalisasikan oleh para pendukung Jokowi pada Pilpres 2014.
#99 @PartaiSocmed
Yang menjadi persepsi publik saat itu adalah betapa jahatnya kubu Prabowo dengan segala fitnahnya, dan betapa kasihannya Jokowi yg jelas2 Islam dan Jawa itu difitnah sedemikian kejinya. Itu yg ditanamkan betul2 dalam benak publik hingga mereka berada di bilik suara.
#99 @PartaiSocmed
Sebagai rujukan, ada lho mantan pemimpin yg begitu mendambakan dizholimi. Bahkan ketika tak ada yg menzholimi-pun dia bikin2 sandiwara seoleh sedang dizholimi. Adaa..! Karena rakyat Indonesia itu memang punya tendensi membela pihak yg dizholimi.
#99 @PartaiSocmed
Nah ini Jokowi benar2 telah dituduh dengan tuduhan yg tidak sesuai faktanya. Maka pilihan kita adalah, apakah akan memanfaatkan fitnah2 itu untuk kemenangan Jokowi atau justru ikut2an menggunakan politik SARA untuk menyerang Prabowo?
#99 @PartaiSocmed
Mungkin ada jenius di TKN yg berpikir kita bisa menang dengan ikut irama permainan lawan. Tapi coba pertimbangkan fakta2 tentang pemilih Prabowo, pemilih Jokowi dan undecided voters berikut ini:
#99 @PartaiSocmed
Berdasarkan hasil survey LSI pada bulan November 2018 elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 53,2%, Prabowo-Sandi 31,2% dan undecided voters 15,6%. Lalu mari kita lihat apa yg akan terjadi ketika kubu Jokowi ikut2an memakai politik identitas sebagai strategi mereka.
#99 @PartaiSocmed
Apakah pemilih Prabowo akan beralih dukungan menjadi pemilih Jokowi setelah melihat cara buzzer2 mengolok2 video Natalan keluarga Prabowo? TIDAK. Sebab pemilih Prabowo terdiri dari mereka yg memang sejak awal dukung Prabowo dan mereka yg anti Jokowi. Sudah tersegmentasi.
#99 @PartaiSocmed
Sebaliknya, apakah pemilih Jokowi akan jadi muak dan memutuskan memilih Prabowo atau setidaknya golput setelah melihat cara2 kubu Jokowi menggunakan politik identitas dalam kampanye? BANYAK.
#99 @PartaiSocmed
Sebab banyak dari pendukung Jokowi berasal dari kalangan moderat. Jika Jokowi dan Prabowo sama saja maka mereka kehilangan alasan memilih Jokowi. Bahkan dari pendukung Jokowi yg berasal dari kelompok minoritas saja sudah berpendapat begini pic.twitter.com/jqnBj8CNWt
Expand pic
#99 @PartaiSocmed
Lalu bagaimana dengan undecided voters yg diperbutkan itu? Apakah yakin mereka semua orang2 polos yg akan memilih Jokowi dengan politik identitas? Apakah sudah ada hasil survey yg memperkuat argumen tersebut? Sebab jangan sampai asumsi dijadikan sebagai patokan. Bisa blunder.
Load Remaining (17)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.