"Saya Dulu Jadi Presiden Cuma Modal Dengkul, itupun dengkulnya Amien Rais" Mengenang Gurauan Ala Gus Dur

Gus Dur memang terkenal punya gaya santai, cerdas, dan menghibur
presidenri HUMOR Gus Dur
1504 View 0 comments
Add to Favorite
0
Tunggal Pawestri @tunggalp
Siapa paling dekat dengan Tuhan? Budha: memanggilnya Om Kristen: memanggilnya Bapak Islam? Gus Dur: “Boro-boro deket. Manggil Tuhan aja pake Toa'". Mengenang Gus Dur yang wafat hari ini 9 tahun lalu.
Tunggal Pawestri @tunggalp
Materi gurauan Gus Dur saya ambil dari tulisan ini, monggo: nu.or.id/post/read/5824…

Tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha sedang berdebat. Gus Dur tentu sebagai wakil dari agama Islam. Kala itu diperdebatkan mengenai agama mana yang paling dekat dengan Tuhan ? <>

Seorang biksu Budha menjawab duluan. “Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kita beribadah ketika memanggil Tuhan kita mengucapkan ‘Om’. Nah kalian tahu sendiri kan seberapa dekat antara paman dengan keponakannya?”

Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal.“Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan.” ujar pendeta

“Lah kok bisa ?” sahut biksu penasaran.

“Kenapa tidak,agama anda kalau memanggil Tuhan hanya om, kalau di agama saya memanggil tuhan itu ‘Bapa’ Nah kalian tahu sendiri kan lebih dekat mana anak sama bapaknya daripada keponakan dengan pamannya,” jawab pendeta.

Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta.

“Loh kenapa anda kok tertawa terus?” tanya pendeta penasaran.

“Apa anda merasa bahwa agama anda lebih dekat dengan tuhan?” sahut biksu bertanya pada Gus Dur.

**Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan “Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan.” jawab Gus Dur dengan masih tertawa.

“Lah kok bisa ?” tanya pendeta dan biksu makin penasaran.

“ Lah gimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara),” jawab Gus Dur.**

ditulis oleh Ahmad Lailatus Sibyan, santri asal Jawa Tengah, tinggal di Yogyakarta
terbit di:
http://www.nu.or.id/post/read/58245/siapa-paling-dekat-dengan-tuhan

saveera @saveera79
@tunggalp @_haye_ Azan kan bukan untuk manggil Tuhan, tp memanggil orang untuk shalat
Tunggal Pawestri @tunggalp
Mengingat Gus Dur dan guyonannya yang asik, unggah lagi beberapa joke dia ahhh tirto.id/belajar-menert…

tirto.id - Beberapa pekan setelah menjadi presiden pada 1999, Abdurrahman Wahid berpidato di depan para tamu negara asing. Peristiwanya terjadi di Denpasar, Bali. Ia berpidato dalam bahasa Inggris tanpa teks. Di awal pidato, orang yang akrab disapa dengan panggilan Gus Dur ini berujar:

“Saya dan Megawati adalah pasangan presiden dan wakil presiden yang lengkap: saya tidak bisa melihat, dia tidak bisa ngomong.”

Semua tamu ger-geran tanpa kecuali. Gus Dur bersikap biasa saja melihat orang tertawa bahak-bahak. Wajahnya lempang belaka.

Waktu itu banyak omongan soal wakil presiden yang irit bicara. Megawati Soekarnoputri jarang sekali memberi komentar soal apapun. Gus Dur, sementara itu, hampir saban hari mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang sering bikin panas berita-berita di surat kabar.

Diamnya Megawati memang membuat orang bertanya-tanya, terutama menyangkut kapasitas pribadinya sebagai wakil presiden dan ketidakcocokannya dengan sang presiden. Gus Dur tahu betul tentang itu dan ia mencoba menetralkan situasi dengan kemampuannya yang menyenangkan: lelucon dan menertawakan diri sendiri.

"Maju Aja Susah, Apalagi Mundur"
Pada kesempatan lain, ketika desakan pengunduran diri kepada Gus Dur makin kencang di mana-mana, Emha Ainun Nadjib mampir ke istana. Berdasarkan cerita yang pernah dituturkan Emha, ia mendatangi lelaki kelahiran Jombang, 7 September 1940 itu sebagai seorang sahabat yang bermaksud mengingatkan.

“Gus, sudahlah, mundur saja. Mundur tidak akan mengurangi kemuliaan sampeyan,” kira-kira begitu kata Emha kepada Gus Dur.

Jawaban Gus Dur: “Aku ini maju aja susah, harus dituntun, apalagi suruh mundur.”

Dua orang itu ngakak.

Waktu itu memang posisi Gus Dur berada di ujung tanduk. Sepanjang Juni-Juli 2001, lawan-lawan politiknya terus menyerang dengan isu Buloggate lewat DPR dan MPR. Suasana memanas akibat pendukung Gus Dur dan penentangnya tiap hari melakukan demonstrasi dan unjuk kekuatan di depan istana. Gus Dur sempat mengeluarkan senjata pamungkas berupa Dekrit Presiden yang salah satu poinnya adalah membekukan DPR dan MPR.

Dekrit yang dikeluarkan pada 23 Juli 2001 pukul 01.10 itu ditentang banyak institusi negara, termasuk TNI dan Mahkamah Agung. MA bahkan mengeluarkan fatwa di hari itu juga bahwa dekrit Gus Dur bertentangan dengan hukum.

Siang harinya, Gus Dur berpendapat fatwa MA tersebut sebagai sesuatu yang tidak sah. "Pertimbangan itu tidak diputuskan melalui sidang dalam Mahkamah agung melainkan hanya oleh Ketua MA saja," kata Juru Bicara Kepresidenan Yahya C. Staquf, seperti dilaporkan Kompas (23/7/2001).

Tapi langkah-langkah politik Gus Dur sudah begitu lunglai. Segala jurus yang dikeluarkannya percuma saja karena dukungan politik kian surut. Akhirnya, Gus Dur benar-benar mundur.

Ada peristiwa yang kemudian jadi ikonik ketika di malam sebelum ia meninggalkan istana, Gus Dur melambaikan tangan kepada para pendukungnya. Busana yang dipakai: baju tidur, celana pendek, dan sandal jepit.

Malam itu, ia menjadi Presiden RI pertama yang menampakkan diri kepada publik dengan celana pendek di Istana Negara.

Mantan Presiden yang Tetap Lucu
Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur tetap sibuk dan tetap lucu. Ia masih melakukan safari ke daerah-daerah. Biasanya untuk berkunjung ke teman-temannya atau mengisi pengajian sampai kampung-kampung yang jauh.

Pada suatu ceramah di sebuah kampung, Gus Dur mengajak semua yang hadir di situ bersalawat. Para hadirin senang sekali melafalkan salawat dipimpin seorang kiai besar.

Di akhir ceramah, cucu pendiri NU K.H. Hasyim Asy'ari itu nyeletuk.

“Saya minta Anda semua bersalawat agar tahu berapa banyak jumlah yang hadir. Saya, kan, gak bisa melihat.”

Satu lapangan terpingkal-pingkal.

Salah satu humor Gus Dur yang paling dikenal adalah leluconnya soal kedekatan Tuhan dengan umat beragama. Ini juga mengandung unsur penertawaan diri terhadap sesuatu yang dianggap sakral tapi sering dipahami secara kaku: agama.

“Orang Hindu merasa paling dekat dengan Tuhan karena mereka memanggilnya ‘Om’. Orang Kristen apalagi, mereka memanggil Tuhannya dengan sebutan ‘Bapak’. Orang Islam? Boro-boro dekat, manggil Tuhannya aja pakai Toa.”

Seluruh Indonesia, tentu saja, tertawa.

Agar Politik Tak Muram
Gus Dur memang sangat lihai memainkan lelucon penertawaan diri sendiri sekaligus mencairkan ketegangan politik lewat humor. Dengan begitu, politik tak lagi muram dan hubungan sosial tidak kehilangan makna.

Kala mengomentari soal betapa banyak uang yang dikeluarkan seseorang untuk menjadi capres, Gus Dur berseloroh, “Saya dulu jadi presiden cuma modal dengkul, itupun dengkulnya Amien Rais.”

Seperti ia tulis dalam Kata Pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia (1986): “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”

Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009, tepat hari ini 9 tahun lalu. Jika masih hidup, ia barangkali cuma cengar-cengir melihat politik Indonesia saat ini yang penuh makian tapi miskin imajinasi dan kekurangan lelucon.

Penulis: Ivan Aulia Ahsan
Editor: Zen RS

terbit di:
https://tirto.id/belajar-menertawakan-diri-sendiri-dari-gus-dur-cv8m

sujana @jonblessu
@tunggalp @SoundOfYogi Kok saya baru nyadar ya selama ini manggil Tuhan dengan Om. Wkwkwk
sujana @jonblessu
@tunggalp @SoundOfYogi Hindu sih. Setiap doa kan diawali dengan Om, nah Om itu emang artinya Tuhan. Tapi bukan kayak manggil paman gtu, ga kayak Kristen manggil Bapa. Haha. Makanya nice joke bgt dari Gus Dur.
David. @dmartinnn_
@tunggalp "Pak Harto (Soeharto) itu orang pintar loh. Jasanya bagi bangsa ini besar sekali, walaupun dosanya juga besar". -Gus Dur-
h a n d o y o @handoyo_92
@saveera79 @tunggalp @_haye_ Anda tak tahu joke yah ? Monmaap sekadar bertanya 🙏
Tunggal Pawestri @tunggalp
@jonblessu @SoundOfYogi Iya, Hindu kalau dari tulisan Tirto, kalau tulisan santri di NU online, Budha. Mana yang benar, wallahualam. Alfatihah untuk beliau 😊
sujana @jonblessu
@tunggalp Kalo dalam hal ini, Hindu/Buddha sama aja sih.
sujana @jonblessu
@herlambang_tan @tunggalp OM berasal dari kata AUM yg merupakan gabungan dari 3 aksara yaitu Ang (Brahma), Ung (Wisnu) dan Mang (Siwa).
#TT TEMAN TERORIS??? #NM @herlambang_tan
@jonblessu @tunggalp Setau ane Di Buddhism AUM tuh Sang TRIRATNA A Buddha U. Dharma M. Sangha 😊🙏🙏🙏
Putu Angga Bujana W. @anggabujana
@tunggalp Hindu juga OM dari AUM kok mbak, Ang Ung Mang » AUM » OM
Tunggal Pawestri @tunggalp
@anggabujana Iya, itu saya juga sudah diberitahu. Asik ya... beragamnya kita dan semoga saling menghangatkan 😊
Load Remaining (1)
Login and hide ads.