Add to Favorite
0

Uighur dan Diamnya Pejuang Hak Toleransi dan Kebebasan di Indonesia

Pada Agustus 2018, sebuah komite PBB mendapat laporan bahwa hingga satu juta warga Uighur dan kelompok Muslim lainnya ditahan di wilayah Xinjiang barat, dan di sana mereka menjalani apa yang disebut program ‘reedukasi, atau ‘pendidikan ulang’.

Program yang membuat jutaan warga muslim Uighur menderita serta mengalami begitu banyak penyiksaan untuk agenda pembungkaman serta penghapusan ideologi demi satu doktrin bernama komunisme

Republik Rakyat Tiongkok memang telah dikenal sebagai negara dengan satu ideologi komunis, pemerintah komunis China memberlakukan kebijakan anti politik agama, serta antipati pada praktek keagamaan dalam kehidupan beragama, untuk memenuhi agenda dan program tersebut maka program penghapusan pola pikir beragama warga Muslim Uighur dilakukan dengan besar-besaran melalui membuat kamp-kamp khusus ‘pendidikan ulang’

Program pendoktrinan ulang, lewat cara-cara penyiksaan serta pemaksaan kepada jutaan muslim uighur dilakukan, program mencabut kebebasan beragama adalah sebuah catatan pelanggaran HAM yang telah dilakukan, selain tentu usaha pembersihan etnis Uighur secara sistematis

Sebagian besar pemimpin dunia seperti pemimpin Jerman telah melakukan reaksi nota protesnya kepada pemerintah komunis China, dan para aktivis HAM dibeberapa negara pun sudah melayangkan surat kritikan kedutaan besar china serta melakukan aksi protesnya, namun pemerintah china tetap tidak mau bergeming dan menyatakan ini urusan dalam negeri mereka

Yang menarik, adalah di Indonesia, para aktivis yang biasa teriak soal toleransi dan kebebasan beragama semua tiba-tiba seragam diam seribu bahasa terkait aksi keji pemerintah komunis china kepada muslim Uighur

Tidak ada sedikitpun komentar ataupun aksi untuk teriak protes demi nama toleransi serta kebebasan, semua rapi seragam diam seribu bahasa seperti ada yang mengkomandani

Mengapa mereka diam?, sementara soal toleransi dan kebebasan beragama adalah soal universal, bebas lepas dari keberpihakan dan kepentingan

Ini menjadi sebuah ironi ketika kemarin-kemarin mereka tiba-tiba teriak seperti kesakitan, melihat toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia mengusik jiwa raga mereka

Aneh, jiwa raga mereka seolah berbayar dan berpihak sesuai kepentingan; yang berteriak seperti orang kesetanan serta kesakitan sesuai agenda yang disiapkan

Contoh tentang pemakaman warga non muslim yang papan nisan salibnya harus dipatahkan atasnya demi menghormati tempat pemakaman muslim dimana warga tersebut dimakamkan, dan tiba-tiba ibarat menemukan amunisi atau bahan untuk berteriak, semua ramai-ramai berteriak kesetanan seperti orang sakit yang merasa tersakiti soal toleransi dan kebebasan beragama, mereka marah, mereka buat agitasi dan propaganda soal pentingnya toleransi, namun akhirnya anti klimaks karena semua kisah nyata tidak seperti yang diperkirakan dan disangkakan dan para pesakitan itu akhirnya lari dari tanggungjawab untuk membantu memberikan klarifikasinya

Apakah perjuangan toleransi dan kebebasan beragama yang ada selama ini adalah sekedar jualan semata, yang akan menjadi bahan untuk berteriak seperti kesetanan dan kesakitan ketika bahan tersebut bisa menyudutkan umat Islam

Ketika ada bahan yang bisa menyudutkan umat Islam, maka soal toleransi dan kebebasan beragama adalah hal yang pantas diperjuangkan untuk diteriakkan agar semua tergiring opini kebencian kepada umat Islam

Lalu bagaimana dengan nilai-nilai universal dibalik kata toleransi dan kebebasan beragama itu sendiri? apakah para aktivis pejuang toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia adalah pejuang yang dikomandani kepentingan sehingga berjuang sesuai pilihan politik

Mengkritisi dan melakukan protes kalau mengusik kepentingan dan pilihan politiknya, sementara kalau tidak mengusik kepentingan bahkan berbahaya bagi pilihan politik luar negerinya maka dicari cara menghindar dan kalau perlu menutup diri

Penderitaan yang dialami oleh muslim uighur adalah kaca yang bisa untuk mengevaluasi (menilai) sesungguhnya siapakah mereka para pejuang yang biasa teriak toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia saat ini, yang ternyata tak ubahnya konten berbayar sesuai kepentingan dan pilihan politiknya, memalukan!

bang dw
Sumber : www.dw-opini.home.blog

Login and hide ads.