0
Pakar Logika @PakarLogika
Baru tadi" di Yogyakarta, ada warga beragama Katholik yang meninggal dunia. Saat hendak dimakamkan, ada sekelompok orang datang dan melarang memasang salib di makam tersebut. Dan akhirnya salib pun digergaji. pic.twitter.com/U361ORFULo
Expand pic
Expand pic
Pakar Logika @PakarLogika
Lokasi : Purbayan, Kotagede. DIY Sumber : Mas Soni Blanterang de Rosari
Pakar Logika @PakarLogika
Jadi jelas ya, ini adalah pemakaman umum. Jadi mau muslim ataupun non muslim bebas dimakamkan disitu. Dan pemotongan salib adalah karena desakan warga yang alasannya di lingkungan tersebut mayoritas muslim. Clear! pic.twitter.com/lSol46IfvA
Expand pic
Pakar Logika @PakarLogika
@imanbr @GunRomli @sahaL_AS @P3nj3l4j4h @RizmaWidiono @andreOPA @PartaiSocmed @GPAnsor_Satu @faizalassegaf @eko_kuntadhi Nisan jemaat tidak boleh pakai tanda salib, gereja Kotagede pasrah. Jadi, kesepakatan disertai intimidasi itu OMONG KOSONG! Mereka sepakat karena mereka lemah, tidak punya kekuatan dan tidak bisa melawan. Source : bit.ly/2rDThjE pic.twitter.com/pDVwsIhvmz
Expand pic
Pakar Logika @PakarLogika
@imanbr @GunRomli @sahaL_AS @P3nj3l4j4h @RizmaWidiono @andreOPA @PartaiSocmed @GPAnsor_Satu @faizalassegaf @eko_kuntadhi @anandasukarlan @semiaji_w @triwul82 @WahhabiCC @Airin_NZ @CH_chotimah @chicohakim @MasTBP_ @MurtadhaOne @nongandah “Sekitar pukul 13.00 ada kabar kalau lokasi makamnya almarhum tak boleh di tengah komplek makam, warga minta makam Slamet dipinggirkan. Saya jawab ‘oke, enggak masalah’,” ujar Sunarto.

Pendapat Alissa Wahid, putri Gus Dur, tokoh Islam yang dikenal sebagai Bapak Toleransi Indonesia

Alissa Wahid @AlissaWahid

Psikolog Keluarga. Humanitarian. Penjahit GUSDUR-ian :: Look back in forgiveness, look forward in hope, look down in compassion, look up with gratitude. (ZZ)

http://t.co/TbFuPYlMFD
Alissa Wahid @AlissaWahid
Kejadian pemakaman warga Katolik di Yogyakarta yang ramai hari ini membuahkan pertanyaan, sejauh mana nilai2 lama yang menjaga kebersamaan (inklusif) bergeser pada nilai2 baru yang menjaga kepentingan kelompok sendiri (eksklusif).
Alissa Wahid @AlissaWahid
Pergeseran nilai2 akan selalu terjadi. Sedihnya, saat ini lebih bergeser ke arah mayoritarianisme: "Karena kami mayoritas, maka yang berhak menentukan segalanya adalah kami. Minoritas harus menghormati mayoritas". Ini tidak hanya di Indonesia, dan tidak melekat pada 1 agama.
Alissa Wahid @AlissaWahid
Intoleransi sudah bukan lagi kasus, tapi sudah menjadi norma. Intoleran kepada mereka yang beridentitas berbeda (suku, agama, pilihan capres, dll). Padahal seharusnya yang kita intoleransi adalah penindasan, ketidakadilan, perpecahan & hal2 buruk lainnya. Bukan orang.
Alissa Wahid @AlissaWahid
Untuk membedakan soal intoleransi kepada perilaku, bukan pada orang, ada contoh berikut. Kurang apa sih Rizieq terhadap Gus Dur: mencaci, mencela, merendahkan, dg kata2 yg sangat kasar. Gus Dur menentang tindakan Rizieq dg FPI yg saat itu sewenang dlm banyak situasi. Tapi..
Alissa Wahid @AlissaWahid
Tapi saat sedang proses dipolisikan utk satu insiden, Rizieq sowan Gus Dur. Ya diterima dg baik oleh Gus Dur. Ngomong baik2. Dan setelahnya, Gus Dur tetap menentang tindakan FPI & Rizieq saat sewenang2.
Alissa Wahid @AlissaWahid
Dan soal makam di yogya ini bukan satu2nya kejadian mayoritarianisme dlm keseharian. Bu @RetnoListyarti pernah cerita ada sekolah umum yang menolak fasilitas umum sekolah seperti aula utk ibadah kelompok minoritas sekolah tersebut.
Alissa Wahid @AlissaWahid
Juga ada tempat layanan publik milik Negara yang mensyaratkan pemakaian busana tertentu kalau perempuan ingin dilayani. Alasannya: menghormati Mayoritas. Padahal dalam konstitusi, tidak ada aturan diskriminatif begitu.
Alissa Wahid @AlissaWahid
Kuncinya ada di sikap inklusif atau eksklusif. Inklusif artinya kita merangkul orang2 dari kelompok berbeda dg mengingat KITA sebangsa. Eksklusif artinya me-MEREKA-kan orang yang berbeda dengan kelompok kita, dan meminta peraturan setempat disesuaikan dg kepentingan kita.
Alissa Wahid @AlissaWahid
Selama kita perlakukan setia hal tersebut sebagai kasus per kasus, kita akan abai bahwa sedang terjadi perubahan masif yang terjadi dalam nilai2 keindonesiaan kita.
kidilenterasri @kidilenterasri
@AlissaWahid Yang mengherankan saya, kenapa kok tidak ada yg menindak. Bukankah klo dibiarkan bisa jadi bibit diskriminasi terhadap minoritas yang akibatnya mengganggu perdamaian. Apa harus nunggu perang seperti di maluku dulu baru diurusin.😔
Wonokaos @wonokaos
@AlissaWahid Di kota ini diskriminasi dan intoleransi semakin tumbuh subur
PR Setiadi @prsetiadi
@wonokaos @AlissaWahid karna warganya membiarkan tumbuh subur.. huehue
The K’ @thekevincao
@AlissaWahid Sebenernya bingung banget kapan Indonesia bisa maju. Sekarang bukannya maju malah makin mundur. Negara2 lain udah merekrut orang luar untuk memajukan bangsanya, kita di sini malah tambah primitif mikirin agama, ras, suku, partai, dll. Jujur, menyedihkan liat masa depan kita.
yozar @yozar27
@AlissaWahid @P3nj3l4j4h Apa mereka gak pernah pikir.. Klo saudara2 muslim mereka di tempat lain di Indonesia ini yg menjadi minoritas.. akan diperlakukan sebaliknya...😔
Rimhot Goeltom @kocu_cuk
@AlissaWahid Kasian ya mbak jd minoritas. Waktu hidup diributi. Udah mati masih jg diributi. Haha
NKRI JAYA @NonKadrun
@AlissaWahid sesekali harus di lawan Orang2 yang merusak Nama Baik Islam... bukan ga sabar.. cuma menunjukkan kalo kepada mereka kalo Kita masih bisa melawan kebodohan mereka...
Subandi Halim @Jas4uOk
@yozar27 @AlissaWahid @P3nj3l4j4h Manusia yg baru sampai level beragama tp belum sampai berKesadaran tdk akan paham. Org2 itu pasti demo kalau saudara2 muslim katakan di Myanmar dipersekusi, tp apa ada yg berani berpikir jangan saudara2 yg di Myanmar diperlakukan begitu krn minoritas di Indonesia jg dipersekusi?
Load Remaining (4)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.