3
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Dear Millenials, Mari mengobrol sama Kakak. Saya kelahiran akhir tahun 1983. Sebenarnya milenials juga rasanya, tapi lahir duluan dari kalian. Saya pertama kali melamar kerja tahun 2004 silam, sudah 14 tahun. Saya mau berbagi pengalaman sekaligus mengajak kalian lebih baik
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Zaman saya lulus kuliah dulu, mengirim email itu belum menjadi keharusan, bahkan banyak perusahaan yang tidak menggubris komunikasi lamaran email. Waktu itu semacam wajib pakai surat lamaran yang diamplopin, kirim lewat pos, dan cari lowongannya seringkali di koran edisi minggu.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Apakah kami saat itu keren dalam mengirim surat lamaran? Sama sekali gak keren, karena isinya copy paste dari disket (floopy A, sebelum ada zaman USB) kakak-kakak yang lulus duluan. Hanya ganti nama perusahaan tujuan, nama, tanggal, dan posisi spesifik yang dilamar.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Parahnya lagi (kebetulan masih ngekos), sejumlah banyaknya kami menaruh alamat pengiriman yang sama. Kalau kebetulan perusahaan tersebut ada almuni yang tahu, terkadang ditelepon ke kos, ngasih tahu: "Mbok ya isi lamaran dan alamat ada bedanya, ini kok beda namam pelamar doang."
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Dokumen apa saja yang harus dimasukin, bagaimana format di sampul, bahkan proses mengirim di pos banyak dari kami yang kebingungan. Beruntungnya waktu itu, karena zaman manual, intensitas ketemu dengan orang lain lebih besar, sehingga kesempatan banyak ngobrol dan bertanya besar.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Komunikasi langsung bisa terjadi saat itu, kalau mendapat panggilan tes. HP kami tidak punya, makanya di zaman nganggur masih ngekos, karena kos-kosan punya telepon yang bisa dihubungi perusahaan. Kalau diminta kami yang telepon, lari ke WARTEL. Wartel ya bukan wortel!
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Attitude kami sebagai generasi saat itu--sebelum menjadi karyawan atau sebelum tes bertapa muka--tidak bisa dinilai. Karena tidak kelihatan, dan tidak ada komunikasi langsung. Padahal bisa saja ada yang bungkus amplop lamarannya sambil garuk-garuk lobang pantat sambil teriak ASU!
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Khususnya saya pribadi, sangat sungkan dan malu kalau saya mau membandingkan attitude saya dengan kalian--apalagi dengan patokan penilaian di umur dan fase yang sama. Karena era, teknologi, dan caranya sangat jauh berbeda.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Saya pernah ikut tes kerja, ke UGM saat itu, memakai jins dan kemeja lengan pendek gambar abstrak, sepatu kanvas, rambut jingkrak habis disemir sambil rokokan. Orang-orang menertawai saya, bahkan ada yang bilang orang kayak saya gak pantas melamar kerja posisi saat itu.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Karena akhirnya saya juga sadar diri dengan tampilan yang dikatakan tidak sopan oleh pelamar lain saat itu, saya tidak masuk ruang tes. Saya pergi ke kantin, melanjutkan rokokan sambil garuk biji pengangguran. Ajaibnya, disamperin sama HRD Manager. WOW!
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Karena sikap menghargai dari sang Manager HRD tersebut, saya lantas merasa benar-benar malu diri. Dan berniat memperbaiki diri. Beliau menawarkan rokok lagi, sambil ngobrol apa saja dan disuruh presentasi dadakan di situ. Hasilnya?
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Hasilnya, meski tidak bekerja di lokasi yang sama dengan HRD Manager tadi, tetapi saya kerja di perusahaan yang sama, selama 5 tahun. Sungguh penghargaan yang beliau berikan, berkesan buat saya hingga saat ini, dan betapa kebaikan itu membangun kebaikan lebih di diri saya.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Singkat cerita, begitu mulai bekerja, hampir setiap orang saya dimarahi--salah satunya karena salah kirim email, karena etika berkomunikasi digital belum benar, dan karena laporan selalu adaaaa saja yang salah. Kadang dimaki, cuy! Saya pernah menangis sejadi-jadinya.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Bulan-bulan awal saya bekerja, sungguh sebuah perjalanan hidup yang berat. Kalau gak mikir, butuh uang dan butuh hidup yang lebih baik dan butuh membangun mimpi, saat itu saya bakal menyerah. Tekanan itu lantas saya lihat juga sebagai sebuah kebaikan, karena memaksa saya belajar
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Mungkin tekanan awal saya bekerja tersebut, sedikit mirip dengan tekanan teman-teman Millenials saat ini yang disoroti negativitasnya--terutama yang sering saya temui, tentang etika email dan attitude komunikasi awal. Semoga ada poin cerah yang bisa saya bagi di sini...
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Bagi saya yang belum lama melek digital, tekanan dan tantangan yang kalian rasakan itu tidak mudah, tetapi bisa kok dilewati dengan kelegaan hati. Oleh teknologi canggih, kalau kalian salah kirim email mudah saja tercapture dan tersebar yang akhirnya datang kembali ke kamu.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Oleh teknologi canggih, ketika kalian kurang tepat menyampaikan komunikasi yang mudah via Whatsapp merespon panggilan tes, dengan mudah tercapture, tersebar hingga akhirnya ke kamu. Menyakitkan? Saya ngebayanginnya bisa drop mental kalau tak siap, meski kalian sadar sudah salah.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Pesan saya: hadapi tekanan dan tantangan seperti itu, dengan mental baja sang pemberani, yang siap tumbuh menjadi lebih baik. Jangan pernah membiarkan hati dan pikiranmu hancur berkeping-keping, dan tidak usah buang energi untuk melawannya. Berdamai saja, yang penting: perbaiki!
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Saya memang tidak di posisi orang2 yang berhadapan langsung dengan kalian, yang melihat kalian bermasalah itu, sehingga saya pun sangat hati-hati, tidak mau juga melabeli mereka salah juga. Karena persoalan seutuhnya tidak bisa tergambar jelas oleh potongan capture yang minim itu
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Yang bisa saya lakukan adalah berbagi seperti ini, dan semoga setelah ini kita bisa berdikusi banyak. Yang mau email saya boleh ke: zulhaq dot zia et gmail, akan saya balas satu persatu semampu saya. Zaman kami, banyak juga kok yang bicara tentang kekurangan kami.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Bahkan sebelum ke dunia kerja, kakak kelas kami di kampus sering mencap kami mahasiwa-mahasiswa baru tidak tahu tata krama. Tapi oleh waktu dan prestasi, tudingan itu berlalu begitu saja. Hidup kalian lebih menantang, dituding orang di media sosial. Tersebar ke mana-mana.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Oleh karenanya, mental kalian harus lebih baik lebih kuat. Usaha kalian harus lebih gigih. Belajarnya kalian harus lebih canggih. Penting: habiskan energi untuk memperbaiki diri, belajar apa saja, bukan dihabiskan untuk menyerap penilaian negative. Serap saja kritik membangun.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Oke, maaf kalau pengantar dan cerita kilas baliknya kepanjangan. Berikut saya share bagaimana mengirim email yang baik dan benar, dan tetek bengeknya, Insya Allah tips ini bahkan bisa lebih baik dari cara email kebanyakan orang-orang sebelum kalian. *seruput air putih*
Zíα Ulhαq @zulhaq_
1. Kata panggilan Kalau lamaran kalian kirim ke email pribadi HRD, kenali jenis kelamin nama tsb. Sebut Bapak/Ibu sesuai namanya. Kalau namanya rancu atau pake email group recruitment, sebut saja 'Dear Bapak/Ibu'. Spasi ke bawah, baru tulis maksud dan tujuan kalian melamar.
Zíα Ulhαq @zulhaq_
Selain kalian harus menulis di badan email (dengan bahasa yang santun sesuai keyakninan hati), dan harus menulis 'lamaran kerja' atau kalimat lain yang mewakili di subyek email, kalian sebaiknya memanggil Bapak/Ibu. Meski nanti saat kerjasama, bisa jadi dengan orang itu lo gue.
Load Remaining (23)
Login and hide ads.