Degradasi bukanlah akhir tapi merupakan awal kebangkitan, Belajarlah dari Juventus.

Chirpified
1

Bangkit dari Kasus Calciopoli

Di akhir musim 2005/2006, Juventus mulai memasuki masa keterpurukan. Dinyatakan bersalah terlibat dalam Calciopoli, atau skandal pengaturan skor, membuat raksasa Italia ini harus kembali membangun tim dari nol.

Sang pelatih, Fabio Capello, serta pemain-pemain bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Fabio Cannavaro, Lilian Thuram, Gianluca Zambrotta, dan sejumlah bintang lainnya tak mau lagi membela Juventus karena tim asal Turin tersebut harus berlaga di Serie B sebagai hukuman.

Meski hanya butuh satu musim untuk kembali ke ‘habitat’ aslinya di Serie A, Biancoreni tak lantas jadi tim yang ditakuti seperti di masa lalu. Pelatih-pelatih datang silih berganti karena prestasi Juventus tak kunjung membaik. Claudio Ranieri, suksesor Deschamps yang berselisih paham dengan petinggi klub, hanya mampu membawa Juventus ke peringkat ke-3 pada musim pertama Juve kembali ke Serie A.

Setelah Ranieri, Ciro Ferrara, Alberto Zaccherroni, Luigi Del Neri pun hanya mampu membuat Juventus bertengger di papan tengah.

Kemudian ditunjuklah Antonio Conte untuk menjadi arsitek Juventus pada musim 2011-2012. Keputusan yang cukup kontroversial, mengingat mantan kapten Juventus era 2000-an ini hanya berkutat di Serie B selama karir kepelatihannya.

Bari dan Siena memang berhasil dibawanya promosi ke Serie A, namun, pada awal karir melatih, ia gagal menghindarkan Arezzo dari jurang degradasi. Tapi, Juventus di bawah kepemimpinan Conte berhasil kembali menunjukkan taring. Di musim pertama, Juventus berhasil menjadi Capolista dengan rekor tak terkalahkan sepanjang musim. Dua scudetto pun menyusul, yang berarti Juventus mampu meraih scudetto tiga kali berturut-turut.

Bahkan, mahkota paling akhir bisa diraih dengan cara menorehkan 102 poin, atau rekor poin terbanyak dalam satu musim Serie A.

Conte memang telah mengembalikan Juventus bermain dengan level tertinggi. Tanpa Conte, 'Si Hitam Putih' mungkin saat ini masih berkutat dengan keterpurukan, dan hanya mampu menonton AC Milan, Inter Milan, dan Napoli berebut singgasana, sebagaimana terjadi pada periode 2007-2011.

Namun, dengan berbagai revolusi yang dilakukannya, khususnya perubahan taktik, Conte berhasil membangun kembali kerajaan Juventus dari reruntuhan kasus calciopoli.

Mengubah Pakem 4-2-4 ke 3-5-2

Sebelum Conte pindah ke Turin, tim berjuluk La Vecchia Signora ini menggunakan formasi 4-2-4 sebagai pakem andalan. Saat itu, Juventus mengandalkan serangan sayap karena tim ini dilimpahi winger berkualitas seperti Milos Krasic, Emmanuele Giaccherini, Eljero Elia, Marcelo Estegarribia dan Simone Pepe.

Conte pun sempat menggunakan formasi ini pada 3 pertandingan awal. Meski menuai hasil positif (2 kemenangan dan satu seri), sayangnya lini tengah masih menyisakan masalah.

Andrea Pirlo yang didapatkan secara gratis dari AC Milan dinilai kurang nyaman bermain dalam formasi tersebut. Begitu pun dengan tandemnya, Arturo Vidal, yang juga berstatus pemain baru --ditransfer dari Bayer Leverkusen dengan biaya 11,5 juta euro.

Pada pertandingan keempat, Conte mulai beralih ke formasi 4-3-3 dengan cara mengombinasikan Pirlo, Vidal, dan Marchisio di lini tengah. Dengan tiga gelandang ini dimainkan bersamaan, Pirlo mulai bisa menemukan performa terbaiknya. Pirlo ditempatkan sebagai regista di belakang Vidal dan Marchisio yang bermain sebagai box-to-box midfielder.

Tapi formasi itu belum cukup memuaskan. Juventus masih menyisakan permasalahan di lini belakang. Dalam skema back four ini, Juve tak memiliki keseimbangan di sektor sebelah kiri pertahanan.

Jika di sisi kanan ada Stephan Lichtsteiner, posisi bek kiri yang ditempati Paolo De Ceglie masih jauh dari harapan Conte. Akhirnya Giorgio Chiellini dicoba mengisi pos fullback kiri. Sebagai gantinya, Leonardo Bonucci mulai dipasangkan bersama pemain veteran, Andrea Barzagli, sebagai bek tengah.

Namun, formasi ini pun masih belum sreg. Selain karena Chiellini, bek tengah terbaiknya, tak menempati posisi ideal, Bonucci pun kurang fasih bermain dengan pola back four. Untuk mengakali, Conte mencoba pola 3 bek dengan memainkan Bonucci sebagai bek tengah.

Pola 3 bek ini sejatinya memberikan banyak keuntungan. Pertama, ia bisa memainkan tiga bek terbaiknya secara bersamaan. Kedua, tiga bek ini pun sedikit banyak mampu menutupi lubang di sebelah kiri, karena Chiellini bisa fokus menjaga area tersebut tanpa khawatir menimbulkan lubang baru di bek tengah. Ketiga, skema tiga bek ini membuat Lichtsteiner, pemain yang kemampuan menyerangnya cukup bagus, bisa lebih memberikan variasi serangan sebagai wingback kanan.

Sejak saat itulah Conte mulai menggunakan formasi 3-5-2. Pemain-pemain baru mulai didatangkan untuk menyempurnakan pola tersebut. Kwadwo Asamoah didatangkan di musim berikutnya. Di saat yang bersamaan, Juve mendapatkan Paul Pogba dari Manchester United dengan status free transfer.

Dengan hadirnya Pogba, Conte bisa lebih bereksperimen untuk mengakali lini depan yang kurang tajam. Ia pun tak ragu untuk menggunakan pola 3-5-1-1 di musim keduanya. Vidal dan Pogba berada di depan Pirlo, sedangkan Marchisio diproyeksikan sebagai trequartista di belakang Mirko Vucinic yang menjadi penyerang tunggal.

Upaya terakhir menuju kesempurnaan 3-5-2 ini adalah didatangkannya Carlos Tevez dan Fernando Llorente di musim 2013-2014. Tevez yang sebelumnya lebih dikenal dengan pemain bandel yang berani menentang pelatih, berhasil ‘dijinakkan’ Conte dan mampu menampilkan performa terbaiknya.

Mengembalikan Mentalitas Juara

Juventus adalah sebuah tim besar dengan mental juara. Setiap pemain yang berkostum hitam-putih kebanggaan Juve ini harus memiliki mental pemenang sebagai refleksi dari mentalitas tim yang sebenarnya.

Mentalitas pemenang atau yang di Juve dikenal dengan sebutan grinta inilah yang membuat Juve mendominasi di kancah domestik dengan raihan scudetto terbanyak. "Saat kau bermain mengenakan kostum hitam-putih ini, kau harus rela mati di atas lapangan," itu yang pernah dikatakan legenda Juventus Michel Platini.

Namun semangat grinta itu hilang sejak Juve kembali ke Serie A pada 2007. Para pemain yang berlaga seolah telah melupakan atau tak mengetahui betapa pentingnya grinta bagi Juventus.

Maka tak aneh para Juventini sering menyaksikan para pemain Juve yang sering membuang-buang peluang, salah umpan, tak disiplin saat bertahan, dan kesalahan-kesalahan mendasar lainnya dalam setiap pertandingan.

Conte tentunya tahu betul tentang apa itu grinta yang sebenarnya. Karena, ketika ia masih bermain untuk Juventus pun karakter bermainnya sangat menunjukkan grinta yang bermain dengan semangat tinggi dan berjuang hingga detik terakhir pertandingan.

Itu pun yang ingin ia tularkan pada pemain asuhannya. Setiap sesi latihan, Conte selalu mengatakan, ”berjuanglah untuk setiap sentimeter di lapangan”. Perkataan itu kemudian diimplementasikan oleh pemain-pemainnya.

Tengok saja gaya bermain Vidal, Lichtsteiner, Marchisio, Chiellini atau Pepe ketika berlaga di lapangan. Mereka adalah sedikit pemain yang bermain dengan rasa ‘lapar’ akan kemenangan sebagai wujud grinta.

Conte sangat tahu betul cara memunculkan passion untuk meraih kemenangan pada pemainnya. Ia bisa memanipulasi keadaan, agar pemainnya memahami grinta dan berani ‘mati’ di lapangan.

Ia akan menyimpan pemain yang tak memahami grinta hingga pemain tersebut benar-benar ‘marah’ dan ingin membuktikan rasa ‘laparnya’ di lapangan. Sebagai contoh kasus, Conte kerap membangku cadangkan Quagliarella, Llorente atau bahkan Del Piero, hingga mereka benar-benar cukup ‘lapar’ untuk mencetak gol.

Selain itu, ia pun sangat paham bagaimana membuat pemainnya tetap berada di jalur kemenangan. Ia tak segan untuk berteriak, memarahi, membentak para pemainnya dari pinggir lapangan. Hal itu ia lakukan baik ketika Juve dalam keadaan tertinggal atau pun sedang unggul.

Satu momen yang menonjol adalah ketika Bonucci melakukan kesalahan di lini pertahanan, lalu Conte meneriakinya: "Keep focus or I’ll kill you!". Padahal, saat itu Juve sudah unggul 3-0 atas Nordsjaelland dan pertandingan hanya menyisakan 10 menit.

Hal inilah yang membedakan Conte dengan empat pelatih sebelumnya. Claudio Ranieri, Ciro Ferrara, Alberto Zaccheroni dan Gigi Del Neri lebih kalem ketika berada di pinggir lapangan, sementara Conte selalu meledak-ledak.

Namun, kombinasi yang dilakukan Conte, yaitu membangun mentalitas juara dan formasi 3-5-2, inilah yang mampu menjadikan Juve kembali ke takhtanya.

Bersama skuat Bianconeri, selama tiga tahun mereka mendominasi Serie A tanpa bisa terkejar oleh klub lainnya.

Comment

No comments yet. Write yours!