2
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Kalian tau Gunung Lawu? Pernah denger mitos kalau orang keturunan Demak dan sekitarnya dihimbau untuk ga naik ke puncak Gunung Lawu? Aku mau #memetwit dan kalau semisal ada sesuatu yang gak pas soal sejarahnya, kalian bisa bantu benerin ya! [A THREAD]
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Jadi awalnya aku tau dari cerita bapak. Bapak dulu kerja di Pemda Karanganyar dan dulu sempat di departemen penerangan. Departemen yang akhirnya dihilangkan setelah Soeharto lengser. Bapak punya cerita yang aku masih ingat yang kejadiannya di tahun 90-an.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Bapak pernah cerita bahwa ada mitos di kaki Gunung Lawu dimana orang yang berasal dari Demak dan sekitarnya tidak boleh mendaki Gunung Lawu. Suatu saat bapak bertugas ikut sidak di pos awal pendakian Gunung Lawu untuk cek KTP pendaki.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Kalau kedapatan ada pendaki yang ber-KTP Demak, biasanya langsung dilarang naik. Cerita selanjutnya, ada satu orang pendaki yang turun gunung dan melapor bahwa teman-teman serombonganya hilang. Ternyata mereka punya KTP Demak tapi diam-diam nekat naik.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Yang aku ingat dari cerita bapak adalah satu orang ini bercerita kalau dia ketemu “penunggu” Gunung Lawu. Penunggu tadi bilang kalau teman-temannya sudah mati dan satu orang ini sengaja dibiarkan hidup untuk turun gunung dan bawa pesan untuk jangan berani-berani melawan aturan.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Jadi rombongannya semua meninggal dan dia sengaja dibiarkan hidup untuk sampaikan pesan si “penunggu” ke orang-orang. Mitos ini sebenernya punya sejarah panjang tersendiri dari zaman Kerajaan Majapahit.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Raja terakhir Majapahit adalah Prabu Brawijaya V. Prabu Brawijaya punya 2 istri yaitu Dara Pethak dan Dara Jingga. Dari Dara Pethak, Prabu Brawijaya punya putra bernama Raden Patah. Raden Patah saat dewasa akhirnya memeluk Islam dan jadi fanatik. Sedangkan ayahnya seorang Hindu.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Raden Patah akhirnya mendirikan kerajaan Islam yang letaknya di Demak. Raden Patah ingin ayahnya menjadi seorang mualaf tapi Prabu Brawijaya menolak. Singkat cerita, Raden Patah memutuskan untuk menyerang kerajaan ayahnya.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Prabu Brawijaya sebagai ayah jadi galau. Kalau menyerah, kerajaannya hancur. Tapi kalau melawan, yang beliau lawan adalah puteranya sendiri. Prabu Brawijaya juga akhirnya mendapat “wangsit” bahwa wahyu Majapahit memang sudah meredup dan akan runtuh.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Karena itu, Prabu Brawijaya memutuskan untuk diam-diam meninggalkan kerajaannya ditemani pembantunya yang setia, Sabdopalon. Sesampainya di kaki Gunung Lawu, Prabu Brawijaya bertemu 2 kepala dusun. Dipa Menggala & Wangsa Menggala.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Selama menghindari kejaran pasukan Demak, Prabu Brawijaya sempat membuat Candi Sukuh. Ini candinya lumayan “erotis”, karena banyak ukiran kemaluan pria dan wanita. Lingga dan yoni. Belum selesai 100% tapi ketahuan pasukan Demak. Prabu Brawijaya terpaksa lari lagi.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Eh sebelum lanjut, baru dapet koreksi. Yang dilarang naik adalah orang Cepu gaes. Monmaap!
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Nah lari lagi ke atas dan Prabu Brawijaya membangun Candi Cetho. Ini candinya keren banget sih! Kalo kalian ke Solo harus melipir ke Karanganyar trus berkunjung ke Candi Cetho ya! Karena merasa aman, Prabu Brawijaya bisa istirahat di sini.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Ga lama beristirahat, malah ketauan pasukan Cepu. Kerajaan Cepu ini bermusuhan dengan Majapahit. Karena tau Prabu Brawijaya masuk ke wilayah mereka, dendam lama bersemi kembali deh! Akhirnya dilakukan pengejaran yang dipimpin oleh Adipati Cepu.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Mereka mau menangkap Prabu Brawijaya hidup atau mati. Prabu Brawijaya lari ke puncak Lawu dan sembunyi di sana. Karena kesal dengan ulah pasukan Cepu, Prabu Brawijaya akhirnya mengeluarkan sumpah sebelum dirinya moksha di puncak Hargo Dalem. Sumpahnya....
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
“Sawijining ana anggone uwong Cepu utawi turunane Adipati Cepu pinarak sajroning Gunung Lawu bakale kenging nasib cilaka lan agawe bisa lunga ing Gunung Lawu.” Artinya....
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
“Kalau ada orang Cepu atau keturunannya Adipati Cepu datang ke Gunung Lawu akan celaka dan bisa mati di Gunung Lawu”
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Sumpah ini yang masih diyakini masyarakat sekitar dan konon masih berlaku. Prabu Brawijaya di puncak Lawu akhirnya bertitah...
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
“Wahai abdiku yang setia, sudah saatnya aku harus mundur. Aku harus moksha dan meninggalkan dunia ramai. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa Gunung Lawu membawahi semua makhluk gaib. Dengan wilayah Gunung Lawu, Merapi, Merbabu ke Timur......”
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
“...hingga Gunung Wilis. Ke Selatan hingga pantai Selatan, dan ke Utara sampai pantai Utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan, Wangsa Menggala, ku kuangkat sebagai patihnya dengan gelar Kyai Jalak.”
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Sabdopalon pamit untuk naik ke puncak satu lagi bernama puncak Hargo Dumilah dan moksha di sana. Yang gatau moksa, kepercayaan di Hindu dan Buddha dimana seseorang telah lepas dari ikatan duniawi dan lepas dari putaran reinkarnasi. Raganya hilang dan tidak terlahir kembali.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Gunung Lawu ini sebenernya tingginya 3,265 meter, tapi konon dingin buangeeettt di atas. Gunung ini seakan punya telinga yang mendengar setiap perkataan para pendakinya. Ini mitos-mitos di sana....
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Gunung Lawu punya telinga. Jadi kalau mendaki, jangan mengeluh. Kalau mengeluh lapar nanti akan lapar sejadi-jadinya. Gitu juga kalau mengeluh lelah. Jangan meremehkan. “Ah! Lawu mah pendek! Gampang ke puncaknya!” Niscaya ga akan lernah sampai ke puncak.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Konon ada pasar setan di Gunung Lawu. Kalau saat mendaki kamu dengar, “Tumbas nopo?” atau “beli apa?”, disarankan untuk buang uang receh kita disitu dan ambil batu atau daun atau apapun seolah kita habis membeli sesuatu.
R. Torry Jatiprakoso (TJ) @Torriosh
Terus ada lagi, kalau kalian ketemu kupu-kupu hitam dengan bulatan biru di bagian dalam sayapnya berarti kalian diterima dengan baik di Gunung Lawu.
Load Remaining (6)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.