1
cia @plutrous
Pembantaian Westerling, Sulawesi Selatan (1946-1947) —A Thread—⚠️ pic.twitter.com/aROGCK2WJE
Expand pic
cia @plutrous
Pembantaian Westerling merupakan peristiwa dibunuhnya secara massal ribuan rakyat Sulawesi yg dilakukan oleh pasukan Belanda Depot Speciale Troepen (DST) yg dipimpin Raymond Pierre Paul Westerling pd Desember 1946-Februari 1947. pic.twitter.com/ltqwC7Z1pp
Expand pic
cia @plutrous
-Latar Belakang- Ketika perjanjian Linggarjati berlangsung, daerah2 di luar Jawa dan Sumatera terjadi perlawanan sengit pd pemerintahan Belanda dan salah satunya adl perlawanan di Sulawesi Selatan.
cia @plutrous
Wlpn pemimpin2 perlawanan banyak yg di tangkap, dibuang, disiksa dan dibunuh, namun perlawanan rakyat Sulawesi Selatan thdp Belanda tak kunjung padam. Hampir setiap malam trjadi aksi serangan dan penembakan di pos2 pertahanan Belanda.
cia @plutrous
Pemerintah Belanda mulai kewalahan krn pasukan KNIL yg menggantikan tentara Australia tidak sanggup mengatasi gencarnya serangan2 pejuang dr Sulawesi. Mereka kemudian menyampaikan, jk serangan dr pejuang2 di Sulawesi tdk bisa diatasi, maka terpaksa pemerintah Belanda yg ada-c
cia @plutrous
c-di Sulawesi harus melepaskan wilayah Sulawesi Selatan. Pada 9 November 1946, Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor dan kepala staffnya, Mayor Jenderal Dirk Cornelis Buurman van Vreeden memanggil seluruh pemerintahan Belanda di Sulawesi Selatan ke markas besar tentara di Jakarta.
cia @plutrous
Dr pertemuan tsb diputuskan untuk mengirim pasukan khusus yg dipimpin oleh Raymon Westerling guna menyerang kekuatan para pejuang Republik Indonesia di Sulawesi Selatan. Westerling diberi kekuasaan penuh dlm pelaksanaan tugas dan mengambil langkah2 yg dipandang perlu.
cia @plutrous
Pada 15 Nov 1946, Letnan I Vermeuleun memimpin rombongan yg terdiri dr 20 orang pasukan dr Depot Pasukan Khusus (DST) menuju Makassar. Sebelumnya, NEFIS telah mendirikan marasnya di Makassar. Pasukan NEFIS difungsikan utk membantu KNIL yg sebelumnya telah berdiri di daerah-c
cia @plutrous
c-tsb pada Oktober 1945. Anggota DST segera menjalankan tugasnya dgn mengerahkan intelnya utk melacak keberadaan para pemimpin pejuang dan pendukungnya.
cia @plutrous
Westerling sendiri baru tiba di Makassar pd 5 Desember 1946, ia memimpin 120 orang Pasukan Khusus DST. Westerling kemudian mendirikan markasnya di Mattoangin. Disini ia menyusun strategi utk Counter Insurgency (penumpasan pemberontakan) dg caranya sendiri, dan tidak berpegang-c
cia @plutrous
c-pada Voorschrift voor de uitoeening van de Politiek-Politionele Taak Van het Leger-VPTL (Pedoman Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di Bidang Politik dan Polisional), dmn VPTL tsb telah diuraikan scr jelas mengenai aturan perlakuan thdp penduduk dan tahanan.
cia @plutrous
-Operasi Militer Tahap Pertama- Aksi pertama pasukan khusus DST dimulai pada malam tgl 11 menjelang 12 Desember. Sasaran aksi ini adalah Desa Batua serta desa2 kecil di timur Makassar. Pd operasi ini, Westerling sendiri yg memimpin. pic.twitter.com/UnMtQ1XW9t
Expand pic
cia @plutrous
Pasukan pertama berjumlah 58 orang yg dipimpin oleh Sersan Mayor H. Dolkens menyerbu Borong danpasukan kedua dipimpin oleh Sersan Mayor Instruktur J. Wolff yg beroperasi di Batua dan Patunorang. Westerling bersama Sersan Mayor Instruktur W. Uittenbogaard dibantu 2 ordonan,-c
cia @plutrous
c-satu operasi radio serta 10 orang staf menunggu di Desa Batua. Pada fase pertama, dilakukan mulai pukul 4 pagi, wilayah itu dikepung dan dgn pertanda sinyal lampu pd pukul 5:45 pagi, penggeledahan dilakukan di rumah2 penduduk.
cia @plutrous
Semua rakyat digiring ke Desa Batua. Pada situasi ini, sebanyak 9 orang berusaha melarikan diri dan mereka semua di tembak mati. Setelah berjalan beberapa kilometer, pd pukul 8:45 akhirnya rakyat di desa2 lain dpt dikumpulkan di Desa Batua.
cia @plutrous
Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah rakyat yg terkumpul. Westerling melaporkan sejumlah 3000 hingga 4000 orang dikumpulkan dan kemudian dipisahkan antara anak2 dan perempuan dgn pria. pic.twitter.com/XqY5GBFc6J
Expand pic
cia @plutrous
Fase kedua dilakukan untuk mencari “kaum ekstremis, perampok, penjahat dan pembunuh”. Westerling sendiri yg memimpin fase ini dgn bicara lsg kepada rakyat dan diterjemahkan ke Bahasa Bugis. Sebelumnya, Westerling sudah memiliki daftar “pemberontak” yg sebelumnya disusun oleh-c
cia @plutrous
c-Vermeulen. Kepala desa dan kepala adat harus membantu pengidentifikasian tsb. Hasilnya, sebanyak 35 orang dituduh dan dieksekusi lsg di tempat. Metode Westerling ini disebut Standrecht yg berarti pengadilan (eksekusi) di tempat.
cia @plutrous
Pada laporannya, Westerling menyebutkan adanya penghukuman 11 ekstremis, 23 perampok dan seorang pembunuh. pic.twitter.com/pSZtJyBmNz
Expand pic
cia @plutrous
Fase ketiga merupakan ancaman kepada rakyat untuk tindakan di masa depan, kepala desa diganti dan dibentuk polisi desa yg bertujuan utk melindungi desa dari anasir2 “pemberontak, teroris dan perampok”.
cia @plutrous
Setelah selesai, rakyat disuruh kembali ke desanya masing2. Operasi ini berlangsung sekitar pukul 04:00 hingga pukul 13:30 dan menewaskan 44 rakyat desa.
cia @plutrous
Demikianlah yg dilakukan Westerling. Dgn pola itulah, operasi pembantaian rakyat Sulawesi Selatan berjalan terus menerus. Westerling jg memimpin sendiri operasi di Desa Tanjung Bunga pd malam tgl 12 menjelang 13 Desember 1946. Sebanyak 61 orang ditembak mati. Selain itu,-c
cia @plutrous
c-desa2 kecil di sekitar Desa Tanjung Bunga di bakar dgn korban mencapai 81 orang. Pada malam tanggal 14 menjelang 15 Desember, giliran Desa Kalukuang yg berada di pinggiran kota Makassar, sebanyak 23 orang ditembak mati.
cia @plutrous
Menurut laporan dari intilijen mrk, Wolter Monginsidi dan Ali Malakka yg diburu tentara Belanda di wilayah ini, namun keduanya tdk dapat ditemukan. Pd malam tgl 16 menjelang 17 Desember, Desa Jongaya yg brda di sebelah tenggara Makassar menjadi sasaran. 33 orang magi di eksekusi.
Load Remaining (16)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.
Login and hide ads.