Add to Favorite
0
Login and hide ads.
YohanesJoko Purwanto @YohanesJokoLpg
BUDI PEGO alias Heri Budiawan divonis 4 tahun penjara oleh MA dengan tuduhan menyebarkan "komunisme". Warga Banyuwangi ini menolak tambang emas seluang.id/2018/09/26/har… #LampungBersamaBudiPego #KeadilanUntukBudiPego #PerempuanTolakTambangTumpangPitu #TolakTambangTumpangPitu pic.twitter.com/BjJ43ufWg6
 Expand pic
Black Farm Municipal @TaniHitam
AJAKAN SERUAN DUKUNGAN UNTUK HERI BUDIAWAN: PEJUANG LINGKUNGAN TUMPANG PITU YANG DITUDUH MENYEBARKAN KOMUNISME. Krn hny ingin berjuang menyelamatkan lingkungan desanya dari gempuran industri pertambangan milik grup perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk, Heri Budiawan (Budi Pego) pic.twitter.com/6CX1uJzb2e
 Expand pic
Black Farm Municipal @TaniHitam
dan 3 rekannya, warga desa Sumberagung, Pesanggaran, Banyuwangi, dituduh menyebarkan ajaran komunisme dan ditetapkan sbg tersangka pada 15 Mei 2017. Mrk dijerat dg psl 170a UURI No. 27 Tahun 1999 Ttg Perubahan kitab UU Hukum Pidana yg berkaitan dg kejahatan thd keamanan negara.
Black Farm Municipal @TaniHitam
Kasus ini bermula dari aksi pemasangan spanduk “tolak tambang” yang dilakukan pada tanggal 4 April 2017. Aksi pemasangan spanduk tolak tambang ini dilakukan di sepanjang pantai Pulau Merah-Sumberagung hingga kantor Kecamatan Pesanggaran.
Black Farm Municipal @TaniHitam
Satu hari pasca aksi tersebut (5/4), muncul beberapa pernyataan dari pihak aparat keamanan Banyuwangi (TNI/Polri), bahwa di dalam spanduk tolak tambang milik warga tersebut terdapat logo yang mirip palu arit.
Black Farm Municipal @TaniHitam
Ats kasus ni, warga memberikan pernyataan bhw tsk satupun spanduk yg mrk pasang terdapat logo yg dituduhkan pihak aprt keamanan. Warga menduga tuduhan tsb hny bertujuan u/ melemahkan gerakan tolak tambang yg sdg mrk lakukan. Sklgus jg u/ memecah belah persatuan perjuangan warga
Black Farm Municipal @TaniHitam
Slnjtny, pd tgl 23 Januari 2018, Heri Budiawan divonis oleh PN Banyuwangi dg pidana hukuman penjara selama 10 bulan. Dan dlm upaya banding yang diajukannya, hakim PT JATIM juga memutuskan tetap mempidana hukuman penjara slm 10 bulan terhadap Heri Budiawan pada tgl 14 Maret 2018.
Black Farm Municipal @TaniHitam
Karena tetap merasa diperlakukan tidak adil atas putusan PN dan PT, Heri Budiawan dan tim kuasa hukum melakukan upaya hukum kasasi di Mahkamah Agung (MA). Namun, tanpa pernah terduga sebelumnya, pada tanggal 16 Oktober 2018,
Black Farm Municipal @TaniHitam
hakim MA jstr memutuskan kasasi tsb dg putusan: menaikkan hukuman penjara Heri Budiawan menjadi 4 th. Pdhl dlm fakta persidangan, Jaksa Penuntut Umum, tdk pnh berhasil menghadirkan bukti fisik spanduk tolak tambang berlogo mirip palu arit yang dituduhkan terhadap Heri Budiawan.
dede borland @dedeborland
@TaniHitam @aflhm @lord_kobra @Dandhy_Laksono @ariel_heryanto @anarkonesia @anarkisorg waduh ada sodara nya pak erick thohir di jajaran direksi..erick thohir itu siapa yah?? yang punya inter milan tapi gak pernah ambil anak Indonesia untuk Trail..dan satu lagi dia kan Ketua Tim Kampanye petahana..
suburban affinity @fantazinni
@TaniHitam @anarkonesia @lord_kobra @Dandhy_Laksono @ariel_heryanto @anarkisorg budi pego tidak mengerti apa itu marxis lenins,saya mau ad hominem bahwa ML sekarang memang menyengsarakan manusia :(

Spanduk PKI muncul saat masyarakat berdemo

JATAM @jatamnas
"Ini duduk perkara kasus #BudiPego yang sesungguhnya. Tuduhan menyebarkan paham komunisme adalah mengada-ada, hanya utk menekan resistensi masyarakat". Cerita Budi Pego soal Spanduk Komunis ‘Siluman’ di Aksi Tolak Tambang Tumpang Pitu mongabay.co.id/2018/11/22/cer… @mohmahfudmd pic.twitter.com/6zljdNRhrG
 Expand pic
Dandhy Laksono @Dandhy_Laksono
BUDI PEGO divonis 4 tahun penjara dengan dalih menyebarkan "komunisme". Warga Banyuwangi ini menolak tambang emas milik PT Merdeka Copper Gold yang sebagian sahamnya dimiliki PT Saratoga Investama Sedaya, milik pengusaha Sandiaga Uno. seluang.id/2018/09/26/har… pic.twitter.com/9rLzD0X1OL
 Expand pic

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk adalah perusahaan yang didirikan oleh Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya pada tahun 1997. see: https://id.wikipedia.org/wiki/Saratoga_Investama_Sedaya

Dandhy Laksono @Dandhy_Laksono
Reportase di balik peradilan sesat kasus Budi Pego yang menolak tambang emas di Banyuwangi, milik para oligarki politik Jakarta. mongabay.co.id/2018/11/22/cer…

Berikut ringkasan perbincangan Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch dan Laeliyatul Masruroh dengan Budi Pego dan Dwi Ratna Sari:

Harsono: Ceritakan asal usul bisa bendera palu arit muncul saat aksi?

Budi: Tambang ini ada dua perusahaan: PT Bumi Suksesindo (BSI) dan PT Damai Suksesindo (DSI). DSI produksi. BSI eksplorasi. Dampaknya, kita rasakan sekarang, bukan hanya rusak gunungnya, sampeyan bisa lihat sendiri jalanan –mulai dari tahun 2016 rusak sampai sekarang. Kalau panas berdebu, kalau hujan jadi lumpur.

Kita sudah lapor ke Dinas Lingkungan Hidup, Pemerintah Daerah Banyuwangi, ngomong juga ke Bupati Banyuwangi Azwar Anas. Tak ada tanggapan. Kita rencana aksi 4 April 2017. Sama Polsek Pesangaran, pukul 6.00 pagi itu sudah ada di sini. Kapolsek sudah ada di sini. Ada enam polisi. Anggota Kodim banyuwangi.

Harsono: Anggota kepolisian itu siapa saja?

Budi: Kalau semua nama saya nggak hapal. Tapi ada Pak Rudi, Wakapolsek. Intelnya Pak Rauf. Waktu kita buat spanduk, Pak Rauf mendokumentasikan. Saya menulis (spanduk) soal Bupati Anas. Itu ada rekamannya. Tak ada satu pun yang gambar palu arit. Kalau waktu pembuatan ada, paling tidak salah satu dari anggota kepolisian sudah mencegah atau menangkap pembuatnya.

*Harsono: Berapa spanduk yang dibikin di rumah sampeyan?

Budi: Sebelas. Semua tak ada satu pun yang bergambar palu arit. Kita aksi di Kecamatan Pesanggaran. Kita masang spanduk 10. Setelah itu ada muncul beberapa orang yang kita tidak kenal. Ratna yang memegang spanduk. Saya menyentuh spanduk saja tidak. Aksi sampai selesai, Polsek Pesanggrahan ada semua.

Anehnya, ada orang BSI katanya lewat, dalam laporan kepada polisi. Saya nggak yakin orang BSI berani lewat. Setiap saya aksi bersama teman-teman, nggak ada satu pun orang DSI berani lewat. Pasti menghindar. Ini kayak sebuah rekayasa.

Harsono: Yang melaporkan palu arit siapa?

Budi: General Manager DSI Bambang Wijanarko. Satunya lagi, yang jadi saksi, Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Pesanggrahan. Namanya Madinudin. (Budi juga anggota Nahdlatul Ulama).

Harsono: Bendera itu muncul pukul berapa?

Budi: Sekitar jam empat.

Harsono: Tulisannya apa?

Budi : Tulisannya, “Karyawan Dilarang Lewat Jalur Ini” … terus ada gambar katanya “palu arit.”

Ratna Sari : Sesudah aksi di Kecamatan Pesanggrahan, kita istirahat sebentar, minum makan. Jalan itu satu-satunya untuk lewat. Aksi kita sekitar 50 orang. Di kecamatan ada ratusan orang. Kan makin sore.

“Wah, ada orang demo, ada orang apresiasi, jadi banyak.”

Kita tidak mengenali siapa-siapa saja yang ada di situ. Ketika kita habis istirahat, kita duduk bersama warga.

Terus ada segerombolan wartawan. Dia membawa kamera. Dia menyuruh, “Ayok bu, kita foto semua. Ayok bapak-bapak biar kelihatan rame. Nanti kalau kita masukan ke media, biar kelihatan ramenya.”

Ya sudah, semua warga itu foto depan kantor kecamatan. Habis foto, terus segerombolan wartawan itu bilang, “Ayo spanduknya dibentangkan semua. Kita jalan ke pertigaan Lowi.”

Aku bawa sepeda. Ada bapak-bapak bilang, “Ayo pegangan ini biar kelihatan rame ibu-ibunya”

“Lah saya bawa sepeda motor, pak.”

“Taruh di situ saja, nanti diambil lagi.”

Ya udah. Aku taruh sepedaku di Kecamatan, aku ikut jalan sama teman-teman tapi aku nggak melihat sama sekali apa tulisan yang ada di spanduk itu. Aku kan langsung, spanduk sudah jalan, aku menggantikan orang lain. Aku baru tahu spanduk yang aku pegang ada gambar palu aritnya, dua hari setelah aksi, setelah Mas Budi ditelepon sama petugas.

Budi: Setelah aksi hari itu sebenarnya tidak ada yang tahu ada spanduk baru. Bahkan petugas yang ngawal, polisi maupun TNI, tidak ada yang melihat adanya gambar itu. Malamnya, saya ditelepon sama intel Kodim, yang mengawal sama Koramil, “Mas ada di mana?”

“Ada di rumah, pak.”

Lalu dua orang datang ke rumah. Dari Koramil sama Kodim.

“Mas, tadi waktu aksi sampeyan itu bermasalah. Ini ada masalah spanduk.”

“Masalahnya dimana?”

Mereka bilang ada gambar palu arit. Saya tanya, spanduknya yang mana? Spanduknya buatan kita masih utuh semua. Spanduk yang difoto itu nggak ada. Itu saya ditunjukin fotonya. Kepolisian dan TNI juga menyaksikan saat pembuatan spanduk di (rumah) sini. Bahkan sekuriti ngikutin terus dari Pulau Merah sampai Kecamatan, ngambil fotonya. Ini hanya untuk menjerat saya, barang buktinya hanya foto. Kan foto itu belum tentu dibuktikan keasliannya.

Harsono : Itu yang motret siapa?

Budi : Saya juga nggak kenal. Katanya dari wartawan.

Masruroh : Itu wartawan yang motret jadi saksi?

Budi: Nggak. Katanya dapat dari ngopy wartawan lain.

Masruroh : Spanduknya nggak ada?

Budi: Spanduk itu fisiknya nggak ada. Di pengadilan nggak pernah ada spanduk sebagai barang bukti. Cuma video dan foto.

Harsono: Kalau spanduk yang kalian bikin itu?

Budi : Ada. Sampai sekarang masih ada di Jaksa Penuntut Umum.

Masruroh : Tidak ada satu pun polisi maupun TNI yang bersaksi di persidangan?

Budi : Ada polisi siap bersaksi. Dari pengadilan tidak ada yang memanggil untuk bersaksi. Kalau mau jadi saksi, katanya, saya harus lapor ke Mabes Polri. Pokoknya, nggak ada satu pun polisi yang dihadirkan dalam persidangan. Siangnya (5 April 2017) saya ditelepon sama Kapolsek. Dia nanya ke saya, “Mas kira-kira siapa ya yang membuat spanduk itu?”

Saya jawab, “Pak, kalau saya tahu, saya akan tangkap bersama teman-teman. Lah sampeyan nanya ke saya, sampeyan sendiri waktu itu menyaksikan pada saat aksi. Tak ada satu pun orang yang tahu dengan keberadaan spanduk itu.”

Saya bilang begitu waktu itu. Waktu orang-orang memegang spanduk itu, saya lagi makan. Saya sempat ditelepon Pak Galuh, orang kecamatan, “Mas tolong dibantu lalu lintasnya agar tak macet.”

Sampai sekarang, setelah saya keluar dari penjara, spanduk itu kemana juga tak ada yang tahu.

Harsono: Dalam kesaksian di pengadilan soal keberagamaan Anda bagaimana?

Budi: (Ketua NU Pesanggrahan Madinudin) di pengadilan ditanya, “Saudara saksi apakah mengenal terdakwa?”

Dijawab kenal.

“Kenal baik?”

Dijawab kenal.

“Apakah pernah ke rumahnya?”

Pernah.

“Apakah saudara terdakwa sering mengikuti kegiatan keagamaan?”

Gak tahu, katanya.

Kemarin ke sini (dia) waktu baru saya pulang dari penjara. Dia bilang katanya teman baik.

Saya bilang, “Kamu kalau teman baik, di kesaksian harusnya ngomong seadanya. Di masjid Pak Anwar, waktu jumatan, kita bertemu berapa kali? Apakah itu bukan merupakan kegiatan keagamaan? Aku melakukan aksi istighosah depan tambang, itu yang ngundang kiyai-kiyai itu saya. Apa itu bukan merupakan kegiatan keagamaan?”

Itu kegiatan keagamaan dalam bentuk berdoa menolak pertambangan agar bumi itu tetap utuh gak dirusak oleh mereka.

Penulis, Andreas Harsono, adalah peneliti Human Rights Watch di Indonesia

Fadhli 🤔 @fadhlisofyan
@Dandhy_Laksono AHA! Tadinya pesimis kalau isu ini bakal diangkat ke permukaan. Ini sih bahan gorengan! Tapi yang bakal goreng yg pro pemerintah atau oposisi ya? Penasaran. Ketika keberpihakan cuma soal itung-itungan copras-capres. Sedi akutu. twitter.com/Dandhy_Laksono…
harry etanim @oryjone
@Dandhy_Laksono di vonis 10 blan om udh boleh di ralat ntar dbilang hoax pic.twitter.com/JdqUC7nkck
 Expand pic
Load Remaining (27)

Comment

Teguuh @yaTegak 24 days ago
Perampok negara (ciri2nya diantara nya punya duit trilyunan tanpa tahu sumber nya) paling suka pakai bom "Kamu PKI"
Login and hide ads.