1
cia @plutrous
Mengapa Kita Mengalami Déjà Vu? -A thread about Déjà vu- pic.twitter.com/CdBoIzlVau
Expand pic
cia @plutrous
Pernahkah kalian mengalami Déjà vu? Atau, tahukan kalian apa itu Déjà vu? Déjà vu berasal dari bahasa Prancis yg artinya "pernah merasa atau melihat".
cia @plutrous
Seperti saat kalian melewati sebuah tempat, kemudian kalian merasa jika pernah berada di tempat itu, padahal kalian bahkan belum pernah berkunjung sekalipun ke tempat itu, namun kalian merasa tidak asing dengan tempat tsb.
cia @plutrous
Istilah Déjà vu diciptakan pada tahun 1876 oleh filsuf Perancis Emile Boirac untuk menggambarkan perasaan kuat bahwa pengalaman yg kalian alami sekarang sudah pernah dialami di masa lalu.
cia @plutrous
Menurut How Stuff Works, 70% populasi manusia pernah mengalami hal ini dan paling sering berada dlm rentang usia 15-25 tahun. Walaupun bukan hal asing, namun tidak banyak orang yg mampu menjelaskan apa itu Déjà vu, bahkan para peneliti pun masih terus mengembangkan teori2 yg ada.
cia @plutrous
Pada tahun 2006, beberapa ilmuwan di Leeds Memory Group mengatakan bahwa mereka berhasil menciptakan sensasi serupa di laboratorium. Mereka menggunakan pendekatan hipnosis untuk memicu bagian dari proses pengenalan otak.
cia @plutrous
Dasar teori yg dipakai adalah 2 proses penting terjadi di dalam otak ketika manusia mencoba mengenali sesuatu yg sudah familiar.
cia @plutrous
Sbg proses awal, otak akan berusaha mencari "file lama" didalam ingatan untuk melihat apakah kita pernah melihat kejadian tsb, kemudian jk otak menemukan ingatan yg sesuai, sebuah area terpisah dari otak akan mengidentifikasinya sbg sesuatu yg familiar.
cia @plutrous
Dalam Déjà vu, bagian kedua dari proses ini bisa dipicu secara tak sengaja. Utk mengetahui hal ini, para peneliti merekrut 18 peserta utk melihat 24 kata umum.
cia @plutrous
Para peserta kemudian di hipnotis untuk menganggap bahwa kata2 yg berada di dalam bingkai merah adalah kata2 yg familiar, dan kata2 dlm bingkai hijau tak ada dlm daftar. Setelah di hipnotis, para peserta diberi rangkaian kata dlm bingkai warna berbeda, tmsk kata yg ada dlm daftar
cia @plutrous
Dr semua peserta, 10 orang berkata bahwa mereka merasakan sensasi aneh saat melihat kata baru dlm bingkai merah. 5 orang diantaranya bahkan menyebutkan bahwa perasaan itu spt Déjà vu.
cia @plutrous
Dgn kata lain, ini melompati mekanisme yg biasanya digunakan otak untuk menyimpan informasi. Jadi, rasanya kita mengalami sesuatu dr masa lalu.
cia @plutrous
Para ilmuwan juga pernah menjelaskan apakah Déjà vu merupakan gangguan sirkuit memori jangka panjang dan memori jangka pendek di otak. Artinya, informasi baru dapat mengambil jalan pintas langsung ke ingatan jangka panjang.
cia @plutrous
Penelitian terkait memori ini dilakukan oleh Akira O'Connor dan rekan2nya di University of St Andrews, Inggris. Akira berhasil mengatahui apa yg terjadi pada otak selama Déjà vu.
cia @plutrous
Untuk mengetahui hal itu, Akira mengamati otak dari 21 peserta. Para peserta diminta melakukan serangkaian tes umum untuk memicu kenangan palsu.
cia @plutrous
Para peneliti memberi peserta daftar kata2 terkait, spt kasur, malam, tidur sebentar, dan tidur siang. Ketika para peserta ditanya tentang kata sesudahnya, mereka cenderung memberi kata2 yg terkait dgn apa yg pernah mereka dengar, dalam hal ini tidur.
cia @plutrous
Untuk mencoba menciptakan perasaan Déjà vu, para peneliti bertanya pada peserta apakah mereka mengetahui kata yg di awali huruf t. Para peserta menjawab tidak tahu.
cia @plutrous
Namun, ketika para peneliti bertanya tentang tidur, peserta ingat bahwa mereka mungkin pernah mendengarnya, tapi rasanya sama semua.
cia @plutrous
Dalam penelitiannya, Akira dan tim nya berusaha untuk menciptakan sensasi Déjà vu pada partisipan dgn cara menanamkan memori palsu. Tim kemudian memindai otak partisipan yg mengalami Déjà vu tsb menggunakan fMRI.
cia @plutrous
Awalnya, para ilmuwan mengira bahwa area otak yg terlibat dgn pengelolaan memori, sprt hipokampus, akan aktif selama fenomena ini, namun ternyata tidak demikian. Tim justru menemukan lobus frontal, area otak yg terlibat dalam pengambil keputusan menjadi lebih aktif.
cia @plutrous
Oleh karena itu, Akira berpikir bahwa daerah frontal otak bisa membalik2 ingatan kita. Area tsb mengirimkan sinyal jika ada ketidak cocokan antara apa yg kita pikir telah dialami dengan apa yg sebenarnya.
cia @plutrous
Temuan ini kemudian dipresentasikan dalam Konferensi Memori Internasional di Budapest. "Daerah otak yg terkait dgn konflik memori, bukan memori palsu, tampaknya mendorong pengalaman Déjà vu". Tulis Akira.
cia @plutrous
Penemuan ini juga menunjukkan bahwa Déjà vu merupakan tanda bahwa sistem pengecek memori pada otak bekerja dgn baik. Hal tsb cocok dgn apa yg disebut efek usia pd memori, sebab Déjà vu lebih umum terjadi pd orang2 berusia muda dan jarang terjadi pd orang berusia tua, -c
cia @plutrous
c-karena memori mulai mengalami penurunan. Penelitian Akira dan tim seakan mematahkan hasil penelitian ilmuwan di Leeds Memory Group yg mengatakan bahwa Déjà vu terjadi akibat adanya kesalahan memori.
cia @plutrous
Déjà vu juga bisa dikaitkan dengan korteks rhinal, yaitu area otak yg membuat kita merasa akrab. Sygnya, belum diketahui bgmn mengaktifkan area ini tanpa memicu area lain terkait memori. Itulah mengapa sangat sulit untuk menentukan apa yg terasa akrab dgn Déjà vu.
Load Remaining (1)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.