1
- AL - @valhallaen
ARIE HANGGARA Sejarah Kelam Penyiksaan Anak di Indonesia -THREAD- pic.twitter.com/Np5XEsveLv
Expand pic
- AL - @valhallaen
Bismillahirrahmanirahim. Sosok Arie Hanggara mungkin asing bagi anak-anak zaman now. Berbeda dengan anak-anak era tahun 1980-an yg bisa jadi langsung menangis karena kisahnya yg begitu pilu. Secara garis besar, Arie Hanggara adlh korban kekerasan yg dilakukan oleh orangtuanya.
- AL - @valhallaen
Kisah nyata ini sempat membuat masyarakat tercengang. Terlebih saat peristiwa pilu tersebut difilmkan hingga mendapatkan jumlah penonton terbanyak di medio 1986.
- AL - @valhallaen
Arie Hanggara lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 21 Desember 1977 dan meninggal di Jakarta pada 8 November 1984 pada usia 7 tahun. Arie adalah kisah pilu anak yang tewas dianiaya orangtuanya, Machtino bin Eddiwan alias Tino dan ibu tirinya Santi binti Cece.
- AL - @valhallaen
Majalah Tempo bahkan, menurunkan laporan khusus untuk membahas masalah ini. Kasus kekerasan terhadap anak pada masa tersebut bukan hal baru, tapi kasus Arie Hanggara mencuat karena mengusik hati manusia: kok tega “membunuh” anak?
- AL - @valhallaen
Arie lahir dari pasangan Dahlia Nasution & Machtino sbg anak kedua dari tiga bersaudara. Semula mereka hidup berkecukupan karena sang ayah memiliki perusahaan. Namun karena selingkuh dgn karyawannya yg bernama Santi akhirnya perusahaannya bangkrut & rumahtangganya pun berakhir.
- AL - @valhallaen
Dahlia akhirnya kembali ke Depok & Tino menitipkan anak-anaknya ke sang nenek. Tak lama, Tino kembali mengambil anak-anaknya & hidup bersama istri barunya Santi di sebuah rumah kontrakan kecil di Mampang, JakSel. Tino dan Santi serta 3 anak Tino yaitu Anggi, Arie, dan Andi.
- AL - @valhallaen
Sadar kalau dirinya pengangguran, sehabis mengantar istri ke kantor, Tino melamar kerja ke berbagai tempat namun tak jua mendapat kerja. Kondisi ini membuat Santi mulai cerewet, ditambah anak-anak yang mulai membandel sesuai dengan perkembangan usianya.
- AL - @valhallaen
Keadaan bukannya membaik malah semakin buruk karena Tino tak kunjung mendapat pekerjaan dan hanya bergantung pada pendapatan Santi saja. Akhirnya pertengkaran pun kerap terjadi, dan anak-anak menjadi pelampiasan kemarahan orangtua. Namun, Arielah yg sering kena getah kemarahan.
- AL - @valhallaen
Sindiran Santi yg menyoal sikap anak-anaknya membuat Tino mulai bersikap keras pada Arie dan 2 saudaranya. Entah kenapa, kemarahan Tino dan Santi tertumpu pada Arie, anak kedua Tino yang juga murid kelas 1 SD Perguruan Cikini, Jakarta Pusat.
- AL - @valhallaen
Oleh teman-teman sekelasnya, Arie dikenal sebagai anak yang lincah, lucu, kadang bandel, dan senang bercanda. Sedangkan di mata gurunya, Arie dikenal sebagai anak yang rajin dan pandai. Nilainya untuk pelajaran matematika 8,5.
- AL - @valhallaen
Namun, bagi Tino dan Santi, kenakalan Arie sudah melewati batas. Penyiksaan thdp anak periang ini dimulai 3 November 1984, ketika Arie dituduh Tino dan Santi mencuri uang Rp1.500. Arie menjerit kesakitan ketika dihujani pukulan oleh kedua orangtuanya karena tak mau mengaku.
- AL - @valhallaen
Pukulan itu menimpa muka, tangan, kaki, dan bagian belakang tubuhnya. Tak sampai di situ, Tino juga mengikat kaki dan tangan Arie. Kemudian, seperti layaknya pencuri Arie disuruh jongkok di kamar mandi. “Ayo minta maaf dan mengaku,” teriak Santi.
- AL - @valhallaen
Merasa tdk melakukan apa yg dituduhkan padanya, Arie tetap membisu. Tino & Santi melepas ikatan tangan Arie dan menyiramkan air dingin ke tubuhnya. Santi menambah hukuman dgn menyuruh Arie jongkok sambil memegang kuping. Ia melaksanakan hukumannya sambil mengerang menahan sakit.
- AL - @valhallaen
Kekejaman Tino dan Santi terus berlanjut dan mencapai puncaknya pada Rabu 7 November 1984. Arie kembali dituduh mencuri uang Rp 8.000. Bocah yang mengaku tidak mencuri ini kembali dianiaya. Santi dengan gemas menampari Arie yang berdiri ketakutan.
- AL - @valhallaen
Masih juga tak mengaku, Tino mengangkat sapu dan memukuli seluruh tubuh bocah itu. Suara tangis kesakitan Arie pada pukul 22.30 WIB sayup-sayup didengar tetangganya. “Menghadap tembok,” teriak Santi seperti dituturkan sejumlah saksi.
- AL - @valhallaen
Kesal karena maaf tak kunjung terucap, Santi kemudian datang dgn menenteng pisau pengupas mangga dan mengancam Arie utk meminta maaf. Namun, lagi-lagi Arie menutup mulut. Penuh emosi, Santi menjambak dan menodongkan pisaunya ke muka bocah yang sudah sangat ketakutan itu.
- AL - @valhallaen
Setelah sang ibu tiri meninggalkan “ruang penyiksaan”, giliran Tino datang dan memukul Arie yang sudah sangat lemah itu. “Berdiri terus di situ,” perintah sang ayah. Jarum jam menunjukkan pukul 01.00 WIB ketika Tino bangun dan menengok Arie.
- AL - @valhallaen
Ia menjumpai bocah itu sudah tidak berdiri lagi dan tengah duduk. Minuman di gelas yang diperintahkan tidak boleh diminum, sudah bergeser letaknya. Bukannya merasa iba, Tino malah naik darah dan kembali menyiksanya. Gagang sapu mulai menghujani tubuh anak malang ini.
- AL - @valhallaen
Tino juga membenturkan kepalanya ke tembok. Akhirnya, anak yang lincah ini tersentak dan menggelosor jatuh. Sang ayah kembali beranjak ke kamar tidur.
- AL - @valhallaen
Jam 3 dini hari sang ayah terbangun dari tidurnya, karena penasaran tak lagi menengar tangisan anaknya ia bergegas menengok ke kamar penyiksaan. Ia terkejut bukan kepalang, tubuh sang putra sudah kaku tak bergerak, ia langsung melarikannya ke rumah sakit.
- AL - @valhallaen
Namun, dokter yang memeriksanya mengatakan Arie sudah tidak bernyawa. Hari itu, Kamis 8 November 1984. Keesokan harinya masyarakat gempar ketika media cetak memberitakan kematian anak yang malang ini.
- AL - @valhallaen
Selama berminggu-minggu kemudian, kisah tragis ini menjadi berita utama di koran-koran. Sejak itu, nama Arie lekat di ingatan publik sebagai korban kekejaman orangtua.
- AL - @valhallaen
Hasil otopsi menunjukkan memar di sekujur tubuh termasuk bagian kepala dan bekas ikatan di pergelangan tangan dan kaki. Sebelum meninggal, Arie ditampar berkali-kali, kepala dibenturkan ke dinding, dipukul gagang sapu, berdiri jongkok ratusan kali, dan dikurung di kamar mandi.
- AL - @valhallaen
Sang ayah mengatakan, kekerasan bagian dari pendisiplinan. Si ibu, menyebut tekanan ekonomi membuat ia sering lepas kontrol. Tetangga berdalih, mereka diam karena segan campur urusan rumah tangga orang lain.
Load Remaining (32)

Comment

No comments yet. Write yours!

Login and hide ads.